HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Matsuri Nenchuugyouji Sebagai Ruang Untuk Mempererat Hubungan Sosial Masyarakat Jepang

ABSTRAK

Hubungan Sosial Masyarakat Jepang Kepercayaan atau religi merupakan salah satu bagian dari kebudayaan. Sistem kepercayaan di Jepang tidak terlepas dari ritual. Salah satu budaya Jepang yang erat kaitannya dengan ritual kepercayaan yaitu matsuri, karena di dalam matsuri terdapat berbagai macam ritual. Di Jepang dalam setahunnya terdapat banyak matsuri. Nenchuugyouji adalah matsuri besar yang diadakan berdasarkan kalender yang telah ditetapkan.

Teori yang digunakan dalam skripsi ini adalah teori Bocock dan Barth tentang ritual. Teori tersebut menjadi bahan acuan dalam meneliti hubungan sosial masyarakat Jepang didalam matsuri Nenchuugyouji. Analisis dari penelitian ini, disimpulkan bahwa : matsuri nenchuugyouji memiliki banyak unsur yang dapat menciptakan interaksi sosial, antara lain kagura, dashi, omikoshi, dan naorai. Keempat unsur tersebut mempunyai daya tarik yang membuat masyarakat ingin berpartisipasi, sehingga banyak masyarakat yang terlibat didalamnya. Keterlibatan seluruh masyarakat menimbulkan interaksi sesama mereka, sehingga matsuri nenchuugyouji dapat menjadi ruang untuk mempererat hubungan sosial masyarakat Jepang.

Kata kunci :
Ritual, matsuri nenchuugyouji, kagura, dashi, omikoshi, naorai

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Setiap kelompok masyarakat memiliki kebudayaan yang menjadi ciri khas masyarakat tersebut. Kepercayaan merupakan salah satu bagian dalam kebudayaan. Menurut E.B Taylor, kebudayaan ataupun yang disebut peradaban, mengandung pengertian yang luas, meliputi pemahaman perasaan suatu bangsa yang kompleks, antara lain pengetahuan, kepercayaan (religi), seni, moral, hukum, adat istiadat (kebiasaan), dan pembawaan lainnya yang diperoleh dari anggota masyarakat1.

Kepercayaan (agama) memiliki dua kategori yaitu sekai shuukyou(????) dan minzoku shuukyou (????). Sekai Shuukyou (????) yaitu agama atau kepercayaan yang universal seperti Islam, Kristen dan Budha, sedangkan minzoku shuukyou(????) yaitu agama atau kepercayaan yang dibentuk oleh satu kelompok masyarakat tertentu berdasarkan cerita foklor masyarakat setempat, contoh dari minzoku shuukyou(????) antara lain Shinto dan Konfusianisme2. Sebagian masyarakat Jepang, tidak bersandar dalam satu kepercayaan (agama), hal ini seperti diungkapkan oleh Robert Kisala dalam artikelnya tentang Japanese religion yaitu:
…Japanese are born Shinto,marry as Christians, and die Buddhists mereka lahir dalam Shinto, menikah secara Kristen, dan meninggal secara Budha3.

Agama atau kepercayaan di Jepang lebih mengutamakan praktik ritual dari pada doktrin4. Masyarakat Jepang berpartipasi dalam upacara yang diadakan oleh pendeta Shinto dan Budha, lalu mempraktikan foklor dalam ritual, selain itu agama baru di Jepang pun lebih menitikberatkan praktik ritualnya daripada doktrin seperti Mahikari salah satu agama baru di Jepang yang menitik beratkan ajarannya pada suatu ritual Mahikari no Waza yaitu praktik memancarkan sinar sejati, yang dilakukan oleh orang ahli yang telah mendapatkan pengajaran praktik Mahikari no Waza tersebut. Ritual praktik ini selain dipercaya dapat menyembuhkan penyakit juga dapat menyelesaikan masalah-masalah yang lain seperti masalah kemiskinan, kerusakan alam dan lain-lain, dengan kata lain dapat dikatakan kepercayaan Jepang merupakan budaya ritual.

Salah satu budaya Jepang yang erat kaitannya dengan ritual kepercayaan yaitu matsuri, karena di dalam matsuri terdapat berbagai macam ritual. Ritual merupakan sebuah interaksi sosial hal ini seperti dikemukakan oleh Barth. Ia mengatakan :
Ritual is also collective; that is, it is an aggregate of the simultaneous activity of several actors. There can be no monologue; a person must assert what ever his message is through acts fully embedded in a flow of interaction5 Ritual juga merupakan kegiatan kolektif, artinya ritual tersebut merupakan beberapa simulasi kegiatan dari beberapa pelaku. Ritual bukanlah monolog, artinya dalam ritual dibutuhkan dialog yang menjadikan ritual kental dengan interaksi

Dari uraian diatas, maka dengan jelas diterangkan bahwa ritual bukanlah kegiatan yang dapat dilakukan dengan monolog, melainkan dibutuhkan dialog baik dialog vertikal maupun dialog horizontal. Dialog vertikal yaitu dialog yang dilakukan antara manusia dengan yang diyakini (dewa atau tuhan), sedangkan dialog horizontal merupakan dialog yang dilakukan sesama mereka. Adanya dialog-dialog tersebut membuat ritual erat dengan interaksi. Matsuri yang merupakan ritual kepercayaan masyarakat Jepang dapat menjadi alat mempererat hubungan sosial mereka. Matsuri pun mengalami suatu adanya perubahaan yang dinamis, meskipun disatu sisi mereka menolak untuk dikatakan bahwa matsuri tersebut mengalami perubahaan.

Theodore C Bestor mengungkapkan bahwa :
Even as the stability of tradition is lauded as great virtue, innovation and flexibility are highly regarded. In the local view it is the ability to adapt local institutions and practices to changing needs, circumstances, and demands of residents6

“ Meskipun kekuatan tradisi begitu dihargai serta innovasi begitu diseleksi, namun demikian, lingkungan lokal memiliki kemampuan untuk beradaptasi dalam perubahan berdasarkan kebutuhan, keadaan dan permintaan penduduk”

Salah satu perubahan yang terjadi seperti diizinkannya wanita berpartisipasi dalam arak-arakan mikoshi. Sebelum tahun 1980, dalam arak-arakan mikoshi, wanita dilarang ikut serta. Namun demikian, pada tahun 1980 terjadi sebuah innovasi, wanita diizinkan ikut serta dalam sebuah arak-arakan mikoshi 7 . Seperti diungkapkan Theodore C Bestor diatas, perubahaan ini terjadi untuk memenuhi kebutuhaan dan permintaan masyarakat serta menyesuaikan dengan lingkungan yang berkembang.

Pengertian matsuri dalam teori dasar matsuri yang diungkapkan oleh Miyake Hitoshi, memiliki pengertian sebagai berikut :
Matsuri wa, kami no rairin wo matte, sonaemono wo kenji, shini wo ukagai, sara ni kami no motsu cikira wo kakutokusuru koto wo sashiteiru “Matsuri merupakan suatu tindakan yang menunjukan hal-hal antara lain, menunggu kedatangan dewa, menyuguhkan sesajen, memanggil dewa serta memperoleh kekuatan dewa.”

Di Jepang dalam setahunnya terdapat banyak matsuri. Masing-masing wilayah mengadakan matsuri dalam bentuk dan skala yang berbeda-beda, namun demikian makna diadakannya matsuri tersebut tetap sama,yaitu ungkapan terima kasih kepada dewa dan harapan keselamatan dari dewa. Matsuri tidak sepenuhnya dilakukan dengan serius dan khidmat, tetapi dilakukan dengan senang riang. Titik berat matsuri pada suasana senang riang tersebut. Disebutkan bahwa kami ga yokobeba hitobito mo yorokobu (?????????) “kalau dewa senang maka orang-orang pun akan senang”, oleh karena itu saat matsuri, disuguhkan makanan dan ditampilkan hiburan.9

Matsuri memiliki tiga kategori yaitu tsukagirei (????), ninigirei (??? ?), dan nenchuugyouji (????)10. Tsukagirei (????) adalah upacara yang berhubungan dengan lingkaran hidup seseorang, dimulai sejak dari si jabang bayi dalam kandungan sampai seseorang menjadi arwah. Ninigirei (????) adalah upacara-upacara yang diadakan pada saat ada tujuan dan kesempatan tertentu, diselenggarakan sesuai dengan keinginan atau tujuan-tujuan tertentu untuk memohon bantuan atau rasa terima kasih kepada dewa. Sedangkan nenchuugyouji (????) merupakan matsuri yang diadakan setiap tahun dan waktunya sudah ditetapkan menurut kalender penanggalan. Diantara ketiga kategori matsuri tersebut, matsuri nenchuugyouji(????) merupakan matsuri yang terbesar dan membutuhkan interaksi masyarakat yang lebih luas, meskipun tsukagirei (????) dan ninigirei (????) pun terdapat interaksi akan tetapi nenchuugyouji yang membutuhkan interaksi masyarakat yang lebih luas. Oleh karena itu, dalam penulisan ini penulis hanya memfokuskan pada matsuri nenchuugyouji (????).

Dalam setiap matsuri nenchuugyouji (????) menampilkan hiburan yang berbeda-beda, ada matsuri yang mempertunjukan kagura dan ada pula matsuri yang mengadakan arak-arakan kendaraan dewa seperti mikoshi atau dashi. Selain itu, setelah matsuri selesai, diadakan makan bersama yang disebut dengan naorai.

Kagura merupakan pertunjukan tarian dan nyanyian dalam sebuah matsuri. Istilah Kagura dalam bahasa Jepang dituliskan dalam dua kanji yaitu ??, yang terdiri dari kanji ? (kami)?yang berarti dewa dan kanji ? (raku)?yang berarti kesenangan. Maka dapat dikatakan pengertian kagura yaitu tarian dan nyanyian yang dilakukan dalam matsuri untuk menghibur dewa. Akan tetapi, ada pula yang mengatakan bahwa kagura merupakan hiburan yang dilakukan oleh dewa untuk menghibur manusia. Hal ini dengan diyakininya bahwa pada saat matsuri, dewa turun, lalu menari dan menyanyi dengan meminjam tubuh manusia11.

Di dalam matsuri nenchuugyouji juga ada matsuri yang menampilkan arak-arakan mikoshi. Pengertian mikoshi secara singkat yaitu tandu yang diatasnya terdapat replika bangunan kuil12. Arak-arakan Mikoshi dalam sebuah matsuri selain merupakan kegiatan religi juga merupakan kegiatan berinteraksi sosial, seperti yang dikemukakan oleh Theodore C Bestor berikut ini :
On several levels the mikoshi, or palanquins for the tutelary deity, are central to the religious and social symbolism of the festival, and for many residents the processions that carry them around the neighborhood represent the essence of the matsuri13.

“Mikoshi atau tandu untuk dewa adalah fokus utama religi dan simbol sosial dalam festival, selain itu bagi masyarakat, arak-arakan membawa mikoshi mengelilingi lingkungan sekitar merupakan essensial sebuah Mikoshi mulai muncul dalam matsuri dimulai dari zaman Heian (794-1185). Sebelum zaman Heian (794-1185), untuk mengarak dewa, mereka menggunakan shinba, yaitu kuda yang khusus dihiasi untuk membawa dewa14. Mereka meyakini bahwa dewa akan turun dan menaiki kuda tersebut. Saat ini, untuk mengarak dewa di dalam sebuah matsuri digunakan mikoshi sebagai tandu untuk dewa.

Pertama kali seorang kannushi (panggilan untuk seorang pendeta Shinto) memberikan ritual terlebih dahulu sebelum diadakannya arak-arakan mikoshi. Dalam ritual tersebut kannushi mensucikan mikoshi yang akan diarak, lalu ia membacakan doa untuk menempatkan dewa dalam mikoshi tersebut15. Masyarakat Jepang meyakini bahwa dengan arak-arakan mikoshi, dewa yang ada di dalam mikoshi akan mengawasi dan memberikan berkah kepada daerah tersebut16. Setelah ritual selesai barulah kemudian mikoshi diarak bersama-sama. Saat mengarak mikoshi, terjadi sebuah interaksi sosial yaitu menghibur dan mengajarkan anak-anak atau generasi muda tentang nilai solidaritas dalam lingkungan mereka17.

Selain mikoshi, ada juga matsuri yang membawa dewa dengan menggunakan dashi, yaitu kendaraan seperti gerobak hias yang terdiri dari dua tingkat. Pada tingkat atasnya terdapat hiasan atap yang bernuansakan tombak ataupun gunung. Dashi dalam bahasa jepang dituliskan dalam dua kanji yaitu kanji ?(yama) yang berarti gunung dan kanji ??kuruma?yang berarti kendaraan atau gerobak. Apabila dilihat dari penulisan kanjinya maka dapat diartikan gerobak hias yang bernuansakan gunung18.

Selanjutnya setelah matsuri selesai, mereka mengadakan naorai. Pengertian naorai yaitu sebuah acara makan dan minum bersama yang dilakukan oleh para peserta matsuri dengan makanan dan minuman (sake) bekas sajian dewa . Pada saat naorai dikatakan bahwa manusia dan dewa makan bersama19. Ritual dalam matsuri nenchuugyouji ( ????) dilakukan secara berkelompok bukan secara individual, suasana matsuri nenchuugyouji (????) pun dilakukan dengan kegembiraan. Hingga saat ini, matsuri nenchuugyouji (????) masih tetap menjadi kebudayaan Jepang yang dikenal didalam dan diluar Jepang. Hal ini disebabkan karena matsuri nenchuugyouji (????) dapat menjadi alat mempererat hubungan sosial masyarakat Jepang, karena banyaknya kegiatan interaksi sosial di dalamnya.

Untuk memesan judul-judul SKRIPSI / TESIS atau mencari judul-judul yang lain silahkan hubungi Customer Service kami, dengan nomor kontak 0852.2588.7747 (AS) atau BBM :5E1D5370
Incoming search terms:

Leave a Reply