HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Makna Simbol dan Pesan Film “Fitna” Menggunakan Analisis Semiologi

ABSTRAK

Film sebagai keluaran akhir dari praktek kebudayaan media dapat dipahami sebagai sebuah produksi makna. Film merepresentasikan gagasan dan realitas tertentu melalui jalinan visual, audio dan narasi yang dihadirkan ke hadapan penonton. Film memanfaatkan kekuatan dari gambar dan bahasa. Bahasa sendiri sudah merupakan alat yang sedemikian kuatnya dalam mempengaruhi manusia, dan apabila bahasa itu dilengkapi dengan ilustrasi visual yang menurut pepatah tua dapat mengucapkan ribuan kata. Film juga berfungsi sebagai media pembawa pesan dari komunikator, yaitu pembuat film kepada khalayak penontonnya. Pesan dalam film terkandung dalam simbol-simbol yang hadir dalam setiap adegannya.

Film “Fitna” merupakan film dokumenter yang menampilkan beberapa surat dari Al-Quran yang seakan-akan menjadi alasan terjadinya kejadian-kejadian yang digambarkan dalam rekaman video dan potongan gambar. Komunikator ingin menunjukkan bagaimana ayat-ayat Al-Quran digunakan oleh umat Muslim saat ini sebagai dasar pembenar perilaku kekerasan dan anti-demokrasi yang sering terjadi belakangan ini. Film ini menjadi kontroversi karena mengundang banyak perhatian dari masyarakat dunia, khususnya umat Islam. “Fitna” dianggap telah menghina agama Islam dan kitab suci Al-Quran.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa makna simbol dan pesan serta fakta apa yang dilakukan Barat mempropaganda Islam dalam film “Fitna”. Analisa data dalam penelitian ini menggunakan kaidah tafsir semiologi komunikasi Andrik Purwasito yang tertuang dalam buku Message Studies (2003), yang pada intinya merupakan alat uji tanda-tanda dalam pesan diangkat dari motiv komunikator.

Saran dari penelitian ini adalah kaum Muslimin wajib meresponnya tetapi tidak secara reaktif emosional yang anarkis diluar batas koridor hukum, kemanusiaan, dan citra Islam yang damai, dan diperlukan perhatian yang luas terhadap fakta-fakta yang terkandung dalam ajaran Islam secara utuh.

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Beberapa waktu belakangan ini masyarakat dunia khususnya umat Islam kembali dihebohkan dengan sebuah film yang dirangkai secara rapi karya Geert Wilders, film pendek yang berdurasi sekitar 17 menit berjudul “FITNA” ini disutradarai oleh Scarlet Pimpernel dan script-nya ditulis sendiri oleh Geert Wilders. Film ini secara umum mengambarkan tentang penyerangan teroris yang terjadi di New York dan Madrid yang kemudian dihubungkan dengan Islam dan ayat-ayat Al-Quran. Film ini cukup menggegerkan dan mengundang kontroversi serta kecaman keras dari berbagai pihak di dunia, khususnya umat Muslim di dunia. Termasuk dari Pemerintahan Belanda sendiri, negeri dimana film itu berasal. Dari pengamatan orang awam, film itu memang sungguh menyakitkan bagi umat Islam. Islam benar-benar digambarkan sebagai sebuah agama yang haus darah, penuh kekerasan, rakus akan kekuasan dan ingin menguasai sejarah. Islam hendak menindas dunia.

Film yang menurut rencananya oleh Ketua Fraksi Partai Kebebasan (PVV) di parlemen Belanda itu akan ditayangkan di stasiun TV Belanda dan telah melakukan perundingan dengan sejumlah lembaga penyiaran tentang penayangan filmnya itu akhirnya tidak membuahkan hasil, karena Wilders tidak menyetujui dengan lembaga penyiaran yang tidak setuju dengan penayangan keseluruhan film itu tanpa disunting

Asosiasi Penyiaran Muslim Belanda (NMO) menawarkan untuk menyiarkan film itu jika mereka dapat melihat film itu untuk memeriksa kemungkinan adanya materi ilegal dan Wilders bersedia berpartisipasi dalam debat paska penyiaran dengan pihak yang mendukung dan pihak yang menentang. Wilders menolak dan berkata “Tidak, NMO”.1 Namun Wilders berhasil dengan resmi meluncurkan film “Fitna” pada tanggal 27 Maret 2008 pukul 19.00 waktu setempat (Belanda) di situs video Liveleak secara online. Situs web yang akan menayangkan “Fitna” juga dapat diakses disemua negara di alamat fitnathemovie. Tidak banyak yang bisa dilihat pada situs itu, dengan latar belakang berwarna hitam, tampil teks ‘Geert Wilders presents Fitna – Coming Soon’. Menurut berita di berbagai media, film itu murni berisi propaganda, yang dapat memprovokasi dan mengadu domba antar umat beragama di dunia. Tak heran, jika para diplomat Belanda dibuat kerepotan dengan terpaksa melakukan ofensif diplomatik ke negara-negara islam dan negara berpenduduk mayoritas islam untuk meminimalisir resiko akibat beredarnya film tersebut. Sebelumnya pemerintah Belanda sendiri berkali-kali memperingatkan agar tak nekad meluncurkan film yang telah membuat pemerintah negara itu begitu cemas. Pemerintah Belanda langsung mengeluarkan pernyataan resmi yang mengatakan bahwa visi Wilders tidak mewakili negeri dan rakyat Belanda. Pemerintah Belanda menyadari akibat sebagaimana efek Kartun Nabi Muhammad yang membuat hubungan ekonomi negara-negara Muslim dengan Denmark renggang.

Pembuatan film “Fitna” ini sendiri dilatar belakangi oleh kebencian Wilders terhadap Islam. Ia merasa bahwa Islam telah mengurangi kebebasan di Belanda. “Pesan saya jelas, makin banyak islamisasi akan berarti berkurangnya kebebasan kita, akan mengurangi hal-hal yang kita junjung tinggi di Belanda dan di sebuah negara demokrasi”.2

Namun sumber lain menyebutkan bahwa sesungguhnya Wilders adalah politisi yang mencoba mencari keuntungan dengan dibuatnya film tersebut, Ia adalah pendukung Yahudi. Isu Yahudi bagi seorang Wilders jelas sangat penting. Ini karena kaum Yahudi di Belanda, sebagaimana di kebanyakan negara Eropa dan Amerika Utara memiliki peran sangat kuat di bidang ekonomi dan politik. Dan Wilders membutuhkan bantuan dana dari para jutawan Yahudi setempat.3 Sebelumnya fenomena seperti ini juga pernah terjadi. Salman Rushdie, Kolumnis Inggris asal India, yang pernah memicu kemarahan dunia Islam lewat buku yang menghina Islam dengan bukunya berjudul “Satanic Verses” (Ayat-Ayat Setan) pada tahun 1988. Isi novel itu dianggap telah menghina Islam dan Nabi Muhammad SAW, sehingga memicu protes yang beberapa di antaranya disertai aksi kekerasan di banyak negara Muslim. Tidak hanya itu, pada awal tahun 2002, Islam kembali dilecehkan, yaitu dengan diluncurkannya, The True Quran. Isi buku tersebut menyatakan bahwa Al-Quran yang sekarang beredar kurang lengkap dan jauh dari kesempurnaan. The True Quran adalah Al-Quran yang sempurna.

Berbagai upaya untuk menjelek-jelekkan Al-Quran bukanlah aktivitas yang berdiri sendiri tanpa adanya rencana secara sistematis untuk menghancurkan Islam dan umatnya. Pencitraburukan Al-Quran adalah salah satu bagian yang dimainkan oleh musuh Islam untuk menghancurkan Islam dan umatnya. Upaya penghancuran Islam dan umatnya dapat dibagi menjadi dua skenario besar. Pertama: menjauhkan umat dari Islam. Untuk menghancurkan Islam, umat harus dijauhkan terlebih dulu dari agamanya. Jika umat masih dekat dengan Islam atau masih melaksanakan syariat Islam dengan baik, tentu musuh-musuh Islam tidak akan mampu menghancurkan umat Islam. Kedua: menjauhkan Islam dari umat. Untuk menjauhkan Islam dari umat, hal yang dilakukan adalah menyerang akidahnya. Mereka menyerang keimanan umat pada sumber-sumber hukum Islam, yaitu Al-Quran dan Al-Hadis.

Setelah mundurnya komunisme dan bubarnya Uni Soviet yang menandai berakhirnya era perang dingin. Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara adikuasa yang mengaktualisasikan kedudukannya tanpa banyak halangan yang berarti. Amerika Serikat mengalihkan kegiatan politik internasionalnya pada konflik-konflik domestik diberbagai negara, dan hal ini sangat rentan pada timbulnya sebuah konflik dalam bentuk baru.

Seperti pada kasus tragedi World Trade Center 11 September 2001 yang telah banyak menelan korban lebih dari lima ribu jiwa, yang mengemparkan Amerika serikat dan warga dunia. Amerika Serikat adalah negara adidaya yang memiliki pengaruh kuat dalam intervensinya terhadap negara-negara lain. Dari tragedi tersebut telah melahirkan berbagai tuduhan tentang pelaku teror tersebut.

Disinilah kesempatan Amerika untuk memperkuat dominasinya sebagai polisi dunia. Amerika Serikat saat ini tengah mencurahkan segenap upaya untuk memasukan Eropa di dalam lingkup rencana hegemoninya atas dunia Islam. Dan nampaknya Eropa telah siap untuk menerima peran tersebut. Di tengah-tengah saling menguatkan antara Amerika dan Eropa, maka Amerika akan mengunakan kesempatan tersebut sebaik-baiknya guna mendukung dan mengokohkan teorinya yang mengatakan bahwa di sana ada benturan peradaban. Bahwa di sana ada perang salib terhadap Islam yang dipimpin oleh Barat yang phobi terhadap Islam.

Penyakit Islamophobia alias ketakutan dan kebencian terhadap Islam dan kaum Muslimin telah merajalela di belahan penjuru dunia. Dalam kaitan dengan sejarah hubungan “Islam-Barat”, banyak peristiwa sejarah yang masih menjadi memori kelabu dalam memori kolektif Barat. Jika peristiwa itu diungkit atau dibangkitkan, mereka dengan mudah akan mengingatkan dan membangkitkan kebencian, bahkan kemarahan terhadap Islam. Perasaan anti-Islam dengan mudah tersebar luas di kalangan masyarakat Barat.

Secara fundamental, sumber konflik yang sangat mungkin untuk terjadi pada tatanan dunia baru adalah konflik yang berdasar atas konflik kebudayaan, tidak lagi berupa konflik ideologi maupun ekonomi. Negara-bangsa (Nation state) akan tetap menjadi aktor yang berperan dalam percaturan politik dunia, akan tetapi konflik akan bergeser pada konflik yang terjadi antara negara dengan kelompok-kelompok masyarakat yang berbeda kebudayaan. Benturan antar peradaban (the clach of civilizations) akan menjadi dasar konflik baru pada tatanan dunia baru ini.

Teori Samuel P. Huntington tentang perbenturan peradaban (Barat dan Islam) hampir bisa diterima sebagai sebuah pembuktian. Dalam bukunya, The Clash of Civilization and the Remaking of World Order, menyatakan bahwa ideologi dan ekonomi bukan merupakan pemicu konflik di dunia ini. Tapi konflik yang terjadi disebabkan benturan peradaban.4Menurut Samuel P. Huntington, di dunia ini terdapat tiga peradaban raksasa, yakni Barat, Cina dan Islam. Menurutnya pula kontradiksi-kontradiksi antar-peradaban ini kemudian akan menciptakan konflik yang berakar dari benturan peradaban besar.

Masih dalam bukunya, Huntington menjelaskan pula tentang bagaimana “bahaya Islam” bagi negara-negara Barat. Kendati Huntington tidak bermaksud mengatakan semua kelimpok Islam yang menjadi ancaman Barat. Menurutnya …the west does not have problem with islam but with violent Islamic extrimes. Huntington menyebutkan …conflic between the west and Islam that focus on broader incivilizational issues such as weapons poliferation, human right and democrasy, control of oil, Islamist terrorism and western intervention. 5

Di dalam tesisnya tentang benturan peradapan antara Islam dan Barat, pandangan bahwa Islam antidemokrasi ini telah menjadi stereotipe banyak Ilmuwan dan politisasi Barat. Dan hal ini seringkali menyeret kesimpulan bahwasanya Islam adalah musuh baru bagi peradapan Barat. Menurut Huntington, di dunia ini terdapat tiga peradaban raksasa, yakni Barat, Cina dan Islam. Menurutnya pula kontradiksi-kontradiksi antar-peradaban ini kemudian akan menciptakan konflik yang berakar dari benturan peradaban besar.

Pandangan kontroversial Huntington ini sudah banyak menjadi bahan perdebatan. Namun yang menarik sejauh manakah pandangan Huntington ini mewakili Barat atau para pengambil keputusan di negara-negara Barat khususnya Washington. Demikian pula sejauh mana kelompok Islam menangkap ide besar ini untuk mewujudkan kondisi ‘perang antar-peradaban’.

Negara-negara Barat yang dipimpin Amerika berusaha menyebut kelompok-kelompok Islam sebagai kelompok teroris. Ini cara yang ghalib dilakukan guna menjustifikasi intervensi mereka ke berbagai penjuru dunia hanya dengan alasan memerangi terorisme. Tidak hanya sarana politik yang digunakan untuk mewujudkan tujuan mereka tapi juga seni. Film-film yang mereka buat selalu berusaha mencitrakan umat Islam sebagai “teroris” dan cinta kekerasan. Penerbitan buku-buku, artikel dan karikatur yang menodai kesucian Islam merupakan usaha lain negara-negara Barat untuk memperkenalkan Islam sebagai musuh Barat.

Walaupun banyak kalangan mengatakan bahwa tesis clash of civilization merupakan manifestasi rasisme dari Huntington, namun apabila dikaji secara kontekstual, berbagai kerikil-kerikil konflik yang kerap mencuat, tidak mustahil bahwa teori ini dapat menjadi nubuat kehancuran peradaban dunia. Mungkin pula mereka melihat percekcokan antara negara-negara Eropa dan umat Islam sebagai salah satu bukti nyata terjadinya bentrok tersebut. Mencuatnya berbagai kasus pelecehan agama seperti film “Fitna” yang kini memunculkan banyak spekulasi, dipandang menjadi indikasi dari tesis ini.

Fenomena “Fitna” sepertinya akan semakin menambah cerita panjang hubungan antara Barat dan Islam yang sudah sejak lama tidak menemui titik terang menuju kedamaian. Fenomena-fenomena yang memperlihatkan kedua kekuatan besar ini silih berganti untuk berusaha memimpin dan merubah tatanan dunia. Ada banyak sesuatu hal yang fundamental yang tidak bisa dipertemukan diantara kedua kekuatan raksasa tersebut. Dan kini kekuatan barat lebih sering hadir mendominasi dan berusaha mengatur tatanan dunia untuk menuju kearah barat.

Film “Fitna” diawali dengan gambaran Wilders menyulut gambar kartun Nabi Muhammad SAW dengan surban berbentuk bom di kepala yang bersumber dari kartun Jyllands-Posten, sebuah koran harian di Denmark yang cukup menghebohkan masyarakat Muslim dunia dengan menerbitkan karikatur Nabi Muhammad pada 30 September 2005 lalu.

Film “Fitna” benar-benar memanfaatkan kekuatan dari gambar dan bahasa. Bahasa sendiri merupakan alat yang sedemikian kuatnya dalam mempengaruhi manusia, dan apabila bahasa itu dilengkapi dengan ilustrasi visual yang menurut pepatah tua dapat mengucapkan ribuan kata. Setiap scene dalam film “Fitna” merupakan potongan-potongan video singkat yang diselipkan ayat-ayat Al-Quran yang seakan-akan menjadi alasan terjadinya kejadian-kejadian yang digambarkan dalam video-video singkat tersebut. Rangkaian adegan film dibuka dengan gambar pesawat yang menghantam menara kembar WTC pada tragedi 11 September 2001 silam dengan latar suara seseorang dari ujung telepon yang melaporkan keadaan bahaya. Wilders juga menampilkan potongan ayat sebuah surat dalam Al-Quran yang kemudian diterjemahkan sebagai dasar keyakinan bagi orang Islam untuk melakukan ‘teror terhadap musuh Allah’. Tidak hanya itu Wilders juga mengambil rekaman-rekaman orasi pemimpin Islam, eksekusi dari berbagai kalangan-kalangan pejuang Islam yang menggambarkan betapa semangatnya mereka meneriakkan (jihad) agama sambil menghunuskan pedang. Di akhir film disugestikan setelah beberapa detik bahwa bom di atas kepala kartun Nabi Muhammad SAW akan meledak, dan juga Wilders menyisipkan adegan penyobekan Al-Quran untuk memancing emosi umat Islam.

Dari segi judulnya, kata FITNA itu punya arti yang barangkali agak perlu diluruskan. Komunikator menggunakan kata fitnah dalam arti yang sesungguhnya dalam bahasa arab, yaitu kekacauan, kekerasan atau kerusuhan. Sedangkan dalam bahasa Indonesia, kata fitnah itu punya makna yang lain di luar arti yang sesungguhnya dalam bahasa Arab. Fitnah dalam bahasa Indonesia berarti menuduh orang lain melakukan sesuatu yang tidak dikerjakannya.

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas, hal-hal yang ditekankan pada skripsi ini adalah tentang makna dan isi pesan film yang berkaitan dengan tanda atau simbol. Dengan menganalisis isi pesan film “Fitna” dengan menggunakan metode untuk menafsirkan tanda-tanda dalam makna yang tersembunyi di balik sebuah film melalui analisis semiologi komunikasi dan menggunakan 9 formula dasar pemaknaan sebagai tehnik analisis makna dalam pesan.

surat dalam Al-Quran yang kemudian diterjemahkan sebagai dasar keyakinan bagi orang Islam untuk melakukan ‘teror terhadap musuh Allah’. Tidak hanya itu Wilders juga mengambil rekaman-rekaman orasi pemimpin Islam, eksekusi dari berbagai kalangan-kalangan pejuang Islam yang menggambarkan betapa semangatnya mereka meneriakkan (jihad) agama sambil menghunuskan pedang. Di akhir film disugestikan setelah beberapa detik bahwa bom di atas kepala kartun Nabi Muhammad SAW akan meledak, dan juga Wilders menyisipkan adegan penyobekan Al-Quran untuk memancing emosi umat Islam.

Dari segi judulnya, kata FITNA itu punya arti yang barangkali agak perlu diluruskan. Komunikator menggunakan kata fitnah dalam arti yang sesungguhnya dalam bahasa arab, yaitu kekacauan, kekerasan atau kerusuhan. Sedangkan dalam bahasa Indonesia, kata fitnah itu punya makna yang lain di luar arti yang sesungguhnya dalam bahasa Arab. Fitnah dalam bahasa Indonesia berarti menuduh orang lain melakukan sesuatu yang tidak dikerjakannya.

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas, hal-hal yang ditekankan pada skripsi ini adalah tentang makna dan isi pesan film yang berkaitan dengan tanda atau simbol. Dengan menganalisis isi pesan film “Fitna” dengan menggunakan metode untuk menafsirkan tanda-tanda dalam makna yang tersembunyi di balik sebuah film melalui analisis semiologi komunikasi dan menggunakan 9 formula dasar pemaknaan sebagai tehnik analisis makna dalam pesan.

Untuk mendapatkan daftar lengkap contoh skripsi komunikasi lengkap / tesis komunikasi lengkap, dalam format PDF, Ms Word, dan Hardcopy, silahkan memilih salah satu link yang tersedia berikut :

Contoh Tesis

Contoh Skripsi

Incoming search terms:

Leave a Reply