HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Korelasi Jenis Kelamin dengan Perubahan Lengkung Oklusal

ABSTRAK

Latar Belakang: Kasus kehilangan gigi banyak terjadi di Indonesia dan kesadaran masyarakat Indonesia untuk mengganti dengan segera masih kurang. Kondisi kehilangan gigi tersebut juga dipengaruhi oleh hormon seksual. Hormon esterogen berfungsi untuk menjaga osteointegrasi, sedangkan hormon testosteron berfungsi untuk menjaga densitas tulang. Di samping itu kurva oklusal, terutama dari bidang sagital seringkali digunakan sebagai acuan untuk perawatan di bidang prostodonsia dan ortodonsia.

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melihat korelasi jenis kelamin dengan perubahan lengkung oklusal berdasarkan ekstrusi gigi antagonis pada kasus kehilangan satu gigi posterior.

Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik potong lintang. Sampel penelitian ini berupa model studi yang diambil dari pasien RSGMP FKG UI, dimana kondisi pasien saat dicetak berumur 20-40 tahun dengan kehilangan satu gigi posterior yang memiliki gigi antagonis. Sampel penelitian ini adalah 40 buah dengan 20 buah kasus perempuan dan 20 buah kasus laki-laki. Kemudian, studi model di fotokopi dan dilakukan pengukuran dengan acuan berupa bidang oklusal pada rahang atas dan curve of Spee pada rahang bawah.

Hasil: Usia rata-rata dari sampel adalah 28,45 tahun (laki-laki 31,15 tahun; perempuan 25,75 tahun) dan lama kehilangan rata-rata adalah 4,35 tahun (laki-laki 3,825 tahun; perempuan 4,875 tahun). Rata-rata ekstrusi gigi antagonis pada 20 kasus laki-laki adalah 2,707 mm dan pada 20 kasus perempuan adalah 2,444 mm. Dari hasil analisis bivariat dengan menggunakan chi-square didapat nilai p adalah 0,185 (p>0,05).

Kesimpulan: Tidak terdapat korelasi antara jenis kelamin dengan perubahan lengkung oklusal berdasarkan ekstrusi gigi antagonis pada kasus kehilangan satu gigi posterior

Kata kunci: lengkung oklusal, ekstrusi, jenis kelamin

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Keputusan untuk mengekstraksi gigi merupakan bagian dari rencana perawatan. Keputusan ini dibuat setelah mempertimbangkan keuntungan dan kerugian mempertahankan gigi yang telah rusak. Kebanyakan gigi diekstraksi akibat karies ataupun penyakit periodontal. Bisa juga akibat trauma atau penyakit neoplastik meskipun hal ini jarang terjadi.

Jika saat mengambil keputusan untuk mengekstraksi gigi tidak diikuti dengan penggantian gigi, maka hal ini dapat berakibat pada perubahan kondisi oral secara umum, gangguan pada estetis, berbicara, mastikasi, serta juga mempengaruhi kondisi psikologis seseorang.1 Namun efek tersebut tidak mendorong masyarakat untuk mengganti gigi yang sudah hilang dengan segera. Hal ini mungkin disebabkan karena sebagian besar masyarakat masih menganggap bahwa mencabut gigi akan menyelesaikan semua masalah tanpa harus menggantinya, terutama bila hilangnya gigi tersebut tidak begitu mengganggu penampilan dan juga fungsi, baik berbicara ataupun mastikasi. Hal ini berarti kesadaran untuk mengganti gigi posterior lebih rendah daripada gigi anterior karena gigi posterior tidak mengganggu penampilan seseorang.

Selain mempengaruhi fungsi berbicara dan mastikasi serta kondisi psikologis seseorang, kehilangan gigi yang tidak diganti juga menyebabkan perubahan pola penutupan mandibula dan resorbsi tulang alveolar.3 Resorbsi tulang alveolar dapat menyebabkan peningkatan prognati, foramen mentale dekat dengan puncak residual ridge dan menyebabkan tulang alveolar menjadi tajam dan tipis yang akan mempersulit pembuatan gigi tiruan.4 Perubahan dimensi vertikal juga diakibatkan karena resorbsi tulang alveolar. Perubahan dimensi vertikal ini akan tampak jelas pada orang yang kehilangan beberapa gigi posterior. Hal ini dapat menyebabkan trauma langsung terhadap jaringan lunak pada level tepi lingual gingiva gigi insisif rahang atas.7 Trauma periodontal, karies interdental, timbulnya kantung gingiva dan kalkulus merupakan beberapa masalah periodontal yang terjadi akibat kehilangan gigi yang tidak diganti.2 Hilangnya gigi juga menyebabkan masalah Temporomandibular Joint (TMJ).28 Selain hal tersebut di atas, hilangnya gigi yang tidak segera diganti juga dapat mengakibatkan perubahan posisi gigi lain, terutama gigi antagonis dan gigi tetangga. Perubahan tersebut dapat berupa overerupsi gigi antagonis dan migrasi atupun tilting dari gigi tetangga yang akan berakibat pada perubahan kondisi gigi geligi secara umum. Hal ini akan menyebabkan kehilangan bidang oklusal yang normal.6 Perubahan posisi gigi tersebut juga dapat menyebabkan hilangnya dukungan tulang, karies subginggiva dan impaksi makanan, serta masalah periodontal karena kehilangan kontak proksimal.4 Jadi, perubahan posisi gigi berupa ekstrusi gigi antagonis menyebabkan perubahan lengkung oklusal.28

Curve of Spee merupakan garis anatomis yang membentuk permukaan oklusal gigi dari ujung cusp gigi kaninus mandibula sampai cusp bukal dari gigi posterior mandibula pada potongan sagital dan dilanjutkan sampai permukaan anterior dari ramus.21,45 Kurva ini memiliki fungsi biomekanik selama pengolahan makanan dan mempengaruhi efisiensi gaya oklusal selama mastikasi, serta mempengaruhi fungsi normal gerak protrusif mandibula.16

Menurut Andrew’s six keys to normal occlusion, Curve of Spee merupakan salah satu syarat oklusi normal. Bidang oklusal yang normal seharusnya datar dengan curve of Spee tidak lebih dari 1.5mm.8 Pasangan curve of Spee pada rahang atas adalah kurva kompensasi.13,19 Kurva ini bertujuan untuk mengimbangi gerak kondilus mandibula dan untuk mendapatkan oklusi yang seimbang.29 Lengkung oklusal itu bukan merupakan satu-satunya patokan dalam menentukan keberhasilan sebuah perawatan10, tetapi juga berperan penting dalam rencana perawatan dan mempengaruhi prognosis protesis yang digunakan.11 Semakin lama gigi yang hilang tersebut tidak diganti, maka semakin sulit rencana perawatan yang akan dibuat. Hal ini dikarenakan perubahan lengkung oklusal semakin besar sejalan dengan bertambahnya waktu kehilangan yang diakibatkan oleh ketidakmampuan menahan gaya kunyah dengan baik.11 Seperti yang sudah disebutkan di atas, bahwa kehilangan gigi posterior dapat menyebabkan masalah pada tulang, berupa resorbsi tulang alveolar dan perubahan posisi gigi, berupa tilting, rotasi dan ekstrusi. Tingkat keparahan dari akibat kehilangan gigi tersebut tergantung dari usia pasien saat kehilangan gigi, lama kehilangan gigi, kondisi periodontal dan adaptasi neuromuskular.4 Sedangkan untuk jenis kelamin berkaitan dengan faktor hormonal.

Esterogen berfungsi untuk menjaga keseimbangan aktivitas osteoklas dan osteoblas dan meningkatkan reseptor vitamin D pada osteoblas. Esterogen jug berfungsi untuk merangsang sekresi hormon insulin like Growth Factor I (IGF I) yang berperan untuk mengaktifkan Transforming Growth Factor ? (TGF ?) yang dapat menghambat resorbsi tulang. Hormon anabolik akan berkurang seiring dengan bertambahnya usia, sedangkan hormon antianabolik meningkat.5

Untuk mendapatkan daftar lengkap contoh skripsi kedokteran lengkap / tesis kedokteran lengkap, dalam format PDF, Ms Word, dan Hardcopy, silahkan memilih salah satu link yang tersedia berikut :

Contoh Tesis

Contoh Skripsi

Leave a Reply