HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Tesis Inkuiri Terbimbing Melalui Metode Eksperimen dan Demonstrasi

Judul Tesis :  Pembelajaran Fisika dengan Pendekatan Inkuiri Terbimbing Melalui Metode Eksperimen dan Demonstrasi Ditinjau dari Kemampuan Awal dan Aktivitas Belajar Siswa

A. Latar Belakang

Pendekatan inkuiri terbimbing melalui metode eksperimen dan demonstrasi lebih berpusat pada siswa dan memberi kesempatan kepada siswa untuk terlibat langsung dalam proses: mengamati, manafsirkan pengamatan, meramalkan, menggunakan alat dan bahan, menemukan konsep, merencanakan penelitian, berkomunikasi dan mengajukan pertanyaan dan pendapat. Peneliti sering menjumpai pembelajaran melalui metode demonstrasi adalah guru yang melakukan percobaan di depan siswa, tetapi peneliti ingin mencoba melakukan penelitian dengan siswa yang melakukan demonstrasi di depan teman-temannya. Jadi baik eksperimen maupun demonstrasi , siswa tetap menjadi pusat pembelajaran dengan bimbingan guru.

Selain pendekatan dan metode, yang perlu diperhatikan oleh guru adalah faktor internal seperti kemampuan awal yang dimiliki oleh siswa. Dengan kemampuan awal yang dimiliki oleh siswa ini akan sangat mendukung dalam proses maupun hasil pembelajaran pada materi yang akan diajarkan. Disamping itu aktivitas belajar siswa juga perlu diperhatikan, karena jika siswa aktif belajar dan aktif ketika sedang diajar (aktif mendengarkan, menulis, membaca, melakukan percobaan, mengingat dan memberikan saran) maka pembelajaran akan berjalan dengan lancar dan siswa akan dengan mudah mengikuti dan menguasai pelajaran Fisika.Untuk mengetahui bahwa proses pembelajaran dapat berlansung lancar dan sejauh mana siswa berhasil menguasainya maka diperlukan alat ukur keberhasilan siswa dalam belajar yaitu dengan tes prestasi belajar yang meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Tes prestasi belajar merupakan salah satu alat pengukuran dibidang pendidikan yang sangat penting artinya sebagai sumber informasi untuk mengambil keputusan (Saifuddin,2005:9). Kemudian menurut Gronlund (1977) yang ditulis oleh Saifuddin bahwa tes harus mengukur hasil belajar yang telah dibatasi dengan jelas, berisi item-item yang cocok untuk mengukur hasil belajar yang diinginkan. Sehingga peneliti berusaha untuk dapat memilih soal-soal yang benar-benar dapat mengukur kemampuan siswa dalm pemahaman tentang suatu materi fisika.

B. Perumusan Masalah

  1. Apakah ada perbedaan prestasi belajar antara siswa yang diberi pembelajaran dengan pendekatan inkuiri terbimbing melalui metode eksperimen dan demonstrasi?
  2. Apakah ada perbedaan prestasi belajar antara siswa yang memiliki kemampuan awal tinggi dan rendah?
  3. Apakah ada perbedaan prestasi belajar antara siswa yang memiliki aktvitas belajar tinggi dan rendah?

C. Landasan Teori

Pendekatan Inkuiri Terbimbing

Pendekatan Inquiry terbimbing (Guided Inquiry), merupakan pendekatan dalam proses belajar mengajar dimana siswa memperoleh petunjuk-petunjuk seperlunya, biasanya berupa pertanyaan-pertanyaan yang bersifat membimbing. Pada awalnya agak banyak diberikan bimbingan, kemudian lambat laun dikurangi. Pendekatan ini digunakan terutama bagi para siswa yang belum terbiasa atau belum berpengalaman belajar dengan Inquiry. Dengan bimbingan yang diberikan guru, diharapkan siswa mampu berpikir dan menemukan cara penelitian yang tepat untuk menemukan konsep.

Metode Eksperimen

Metode eksperimen menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (1996), adalah “Cara penyajian pelajaran, dimana siswa melakukan pecobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari.”Sedangkan menurut Roestiyah N.K (2001:79) metode eksparimen diartikan sebagai”Salah satu cara mengajar, dimana siswa melakukan percobaan tentang suatu hal; mengamati prosesnya serta menuliskan hasil percobaannya, kemudian hasil pengamatan itu disampaikan ke kelas dan dievaluasi oleh guru.”

Metode Demonstrasi

metode demonstrasi adalah suatu tehnik penyajian pelajaran dimana guru/kelompok siswa memperagakan kepada seluruh siswa sesuatu proses sehingga siswa dapat mengamati dan merasakan proses tersebut. Metode demonstrasi digunakan dengan pertimbangan sekolah tidak memiliki alat dalam jumlah yang memadai untuk menggunakan metode eksperimen.

Kemampuan Awal

Menurut Gagne yang dikutip Ratna Wilis Dahar (1989: 134) “Penampilanpenampilan yang dapat diamati sebagai hasil-hasil belajar disebut kemampuan (capabilities)”. Pengetahuan dan kemampuan baru membutuhkan kemampuan yang lebih rendah dari kemampuan baru tersebut. Dalam pengajaran Fisika kemampuan awal merupakan pengetahuan atau konsep Fisika yang akan digunakan untuk menjelaskan konsep Fisika yang lain.

Aktivitas Belajar

Pengalaman empiris ketika berhadapan dengan siswa dalam kegiatan belajar mengajar, yaitu ada siswa yang diam tanpa aktivitas apapun. Setelah diberi pertanyaan atau diminta memberi komentar tentang kasus yang menjadi pembicaraan, siswa tersebut terkejut. Kondisi demikian menunjukkan siswa tidak aktif dalam proses pembelajaran. Karena aktivitas pada hakekatnya merupakan crri-ciri yang tampak dan dapat diamati serta diukur oleh siapapun berkenaan dengan pembelajaran. Jadi aktivitas merupakan prinsip atau asas yang sangat penting dalam interaksi belajar mengajar.

D. Metodelogi Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Populasi adalah semua siswa kelas X SMA Negeri 1 Pati tahun pelajaran 2009/2010 sebanyak 9 kelas.

Sampel penelitian ini sitentukan secara acak dengan teknik cluster random sampling terdiri dari empat kelas. Kelas eksperimen 1 menggunakan metode eksperimen dan kelas eksperimen 2 menggunakan metode demonstrasi. Masing-masing kelas terdiri dari 34 siswa.

Teknik pengumpulan data untuk prestasi belajar dan kemampuan awal menggunakan metode tes, sedang untuk aktivitas belajar menggunakan angket.

Uji hipotesis penelitian menggunakan anava tiga jalan sel tak sama dengan bantuan minitab 15. Uji lanjut anava menggunakan uji Scheffe dengan bantuan software minitab 15.

E. Kesimpulan

1. Rata-rata prestasi belajar siswa pada metode eksperimen 75,382, sedangkan pada metode demonstrasi 69,794. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan kekuatan pada kedua metode tersebut. Didukung oleh hasil uji hipotesis perbedaan prestasi belajar terhadap penggunaan metode tersebut diperoleh harga p-value 0,000 , ini berarti ada perbedaan pengunaan metode eksperimen dan demonstrasi terhadap prestasi belajar fisika kelas X pada materi suhu dan kalor.

2. Dari hasil uji lanjut dan analisis mean (rata-rata) diperoleh informasi bahwa siswa dengan kemampuan awal tinggi dan rendah cenderung memperoleh prestasi yang berbeda (74,874 dan 68,531). Siswa yang mempunyai kemampuan awal tinggi memperoleh prestasi belajar yang lebih tinggi dibanding dengan siswa yang mempunyai kemampuan awal rendah, sehingga terdapat pebedaan prestasi belajar fisika siswa kelas X pada materi suhu dan kalor terhadap kemampuan awal tinggi dan rendah.

3. Siswa yang mempunyai aktivitas belajar tinggi dan rendah cenderung memperoleh prestasi belajar yang hampir sama. Pada hasil uji anava tiga jalan dapat diketahui bahwa siswa yang aktivitas belajarnya tinggi memperoleh rata-rata prestasi 73,257, sedang untuk siswa yang aktivitas belajarnya rendah memperoleh rata-rata prestasi 71,790. Perbedaan hasil perolehan prestasi belajar tersebut relatif kecil, sehingga dapat kita katakan tidak ada perbedaan prestasi belajar fisika siswa kelas X pada materi suhu dan kalor terhadap aktivitas belajar siswa tinggi dan rendah.

Leave a Reply