HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Identifikasi Motivasi dan Kepuasan Kerja dengan Metode JDS dan MSQ

Judul : Identifikasi Faktor-Faktor Motivasi Kerja dan Kepuasan Kerja Berdasarkan Metode JDS (Job Diagnostic Survey) dan MSQ (Minnesota Satisfaction Questionaire) (Studi Kasus Di Kantor Dinas Diknas Kab. Boyolali)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Penelitian mengenai motivasi telah banyak dilakukan dan umumnya membahas mengenai alasan mengapa seseorang atau karyawan memiliki motivasi yang lebih dari karyawan lainnya (Mejia et al, 2001). Hal yang mendasari keingintahuan terhadap motivasi seseorang adalah untuk mengoptimalkan pemberdayaaan sumber daya manusia yang ada karena karyawan dengan tingkat motivasi yang tinggi biasanya memiliki kualitas kerja yang lebih tinggi dibandingkan dengan karyawan yang memiliki motivasi yang rendah. Sedangkan motivasi dianggap sebagai dampak dari rasa puas karyawan dalam pekerjaannya (job satisfaction). Jika karyawan merasa puas dengan pekerjaannya, maka mereka akan mempunyai motivasi dan memanfaatkan seluruh potensi yang dimilikinya dalam melakukan pekerjaannya.

Jumlah pegawai pada kantor Dinas Diknas Kabupaten Boyolali berjumlah 82 pegawai, namun demikian ternyata belum setiap pegawai pada Dinas Pendidikan Nasional menunjukkan motivasi kerja yang optimal, hal itu ditunjukkan dari tingkat kehadiran pegawai saat apel pagi yang kurang, dan biasanya setelah apel pagi banyak pegawai yang keluar dari kantor untuk makan pagi padahal bukan waktunya istirahat, pada saat jam kantor banyak pegawai yang bermalas-malasan bekerja, menonton televisi, membaca koran dan juga mengobrol yang tidak menunjang profesinya, dari tingkat penyelesaian pekerjaan yang dibebankan seringkali tidak tepat waktu dalam penyelesaiannya yang akhirnya dapat menghambat penyelesaian tugas bagi pegawai ditingkat cabang (hasil observasi dan wawancara).

Untuk mempermudah pemahaman motivasi kerja, dibawah ini dikemukakan pengertian motif, motivasi dan motivasi kerja. Abraham Sperling (dalam Mangkunegara, 2002) mengemukakan bahwa motif didefinisikan sebagai suatu kecenderungan untuk beraktivitas, dimulai dari dorongan dalam diri (drive) dan diakhiri dengan penyesuaian diri. Penyesuaian diri dikatakan untuk memuaskan motif. William J. Stanton (dalam Mangkunegara, 2002) mendefinisikan bahwa motif adalah kebutuhan yang di stimulasi yang berorientasi kepada tujuan individu dalam mencapai rasa puas. Motivasi didefinisikan oleh Fillmore H. Stanford (dalam Mangkunegara, 2002) bahwa motivasi sebagai suatu kondisi yang menggerakkan manusia ke arah suatu tujuan tertentu. Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa motif merupakan suatu dorongan kebutuhan dalam diri pegawai yang perlu dipenuhi agar pegawai tersebut dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungannya, sedangkan motivasi adalah kondisi yang menggerakkan pegawai agar mampu mencapai tujuan dari motiftya. Sedangkan motivasi dikatakan sebagai energi untuk membangkitkan dorongan dalam diri (drive arousal). Dalam hubungannya dengan lingkungan kerja, Ernest L. McCormick (dalam Mangkunegara, 2002) mengemukakan bahwa motivasi kerja didefinisikan sebagai kondisi yang berpengaruh membangkitkan, mengarahkan dan memelihara perilaku yang berhubungan dengan lingkungan kerja.

Kepuasan kerja didefinisikan sebagai besarnya perasaan pribadi (personal feelings) seorang karyawan (positif atau negatif) terhadap aspek-aspek yang terdapat dalam suatu pekerjaan. Hal ini mencerminkan persepsi pribadi mengenai “kualitas ” suatu pekerjaan dan asosiasinya terhadap pengalaman kerja karyawan. Aspek yang sangat menentukan dalam membentuk kepuasan kerja adalah besarnya gaji, karakteristik tugas-tugas dalam suatu pekerjaan, proses pengawasan, teman kerja, pengaturan kerja, dan peluang untuk berkembang (Schermerhorn, 1996). Untuk dapat mengatasi masalah motivasi dan kepuasan kerja pegawai Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Boyolali tersebut pihak Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Boyolali harus mampu mengidentifikasi dan menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi dan kepuasan kerja pegawai sehingga dapat menentukan langkah-langkah yang tepat guna mengurangi minimnya motivasi pegawai Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Boyolali. Penggunaan metode pengukuran motivasi dan kepuasan kerja yang telah valid dan reliabel adalah salah satu cara yang sesuai untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi dan kepuasan kerja. Dua metode pengukuran yang sering digunakan dalam penelitian ilmu psikologi dan perilaku organisasi dan merupakan hasil penelitian beberapa ahli psikologi adalah metode Job Diagnostic Survey (JDS) dan metode Minnesota Satisfaction Questionniare (MSQ).

Metode JDS dan MSQ merupakan metode pengukuran motivasi dan kepuasan kerja hasil pengembangan teori motivasi isi (content theory). Namun kedua metode tersebut mempunyai beberapa perbedaan dalam cara pengukurannya. Metode JDS mengukur motivasi berdasarkan variabel internal, sedang variabel eksternal diukur berdasarkan persepsi dan perasaan pribadi individu karyawan terhadap variabel eksternal tersebut. JDS juga mengamati proses psikologi yang terjadi dalam diri karyawan sebagai dampak dari adanya variabel-variabel motivasi yang diukur (critical psychology states). Proses psikologi tersebut pada akhirnya akan mempengaruhi tingkat motivasi karyawan. Sedangkan metode MSQ merupakan metode pengukuran kepuasan kerja dengan berdasarkan dua belas variabel internal dan delapan variabel eksternal. Keduapuluh variabel kepuasan kerja tersebut diukur dengan melihat seberapa besar kesempatan yang diberikan lingkungan kerjanya yaitu pihak instansi dan orang–orang yang ada disekitarnya terhadap pemenuhan variabel-variabel kepuasan kerja.

Perbedaan cara pengukuran antara metode JDS dan MSQ tersebut menjadi dasar penggunaan kedua metode pengukuran tersebut dalam penelitian ini. Penelitian ini akan membandingkan hasil pengukuran metode JDS dan MSQ terhadap variabel-variabel yang berpengaruh signifikan terhadap tingkat motivasi dan kepuasan kerja pegawai Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Boyolali. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi informasi bermanfaat bagi Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Boyolali dalam menentukan upaya-upaya yang sesuai untuk diterapkan dalam rangka meningkatkan motivasi dan kepuasan kerja pegawainya.

Incoming search terms:

Leave a Reply