HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Hubungan Kepribadian dengan Kepuasan Kerja pada Karyawan Operasional

ABSTRAK

Kepuasan ataupun ketidakpuasan kerja merupakan hasil penafsiran tenaga  kerja yang bersangkutan tentang pengalaman-pengalaman kerjanya dengan harapannya. Penelitian menunjukan bahwa karyawan yang memiliki kepuasan tinggi dalam pekerjaannya memiliki unjuk kerja yang lebih baik dalam menjalankan tugasnya dibandingkan mereka yang merasa tidak puas dengan pekerjaannya (Robbins & Judge, 2005). Sejumlah penelitian telah menggunakan dimensi The Big 5 Personality untuk melihat kaitannya dengan kepuasan kerja (Judge, Heller, & Mount, 2002; Peeters et al, 2006). The Big 5 Personality terdiri dari 5 dimensi yaitu: Extraversion, Agreeableness, Conscientiousness, Emotional stability/ Neuroticism, dan Openness to experience. Dalam penelitian ini, variabel kepuasan kerja dilihat hubungannya dengan The Big 5 Personality. Secara khusus, penelitian ini akan melihat pengaruh dari The Big 5 Personality terhadap kepuasan kerja pada karyawan yang bekerja pada tingkat operasional. Perumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah: Apakah ada hubungan antara The Big 5 Personality dengan kepuasan kerja karyawan? Proses penelitian dilakukan dengan menyebarkan 60 kuesioner untuk diisi oleh karyawan nonmanajerial pada perusahaan yang berbeda-beda. Seluruh subyek penelitian adalah karyawan operasional yang terdiri atas 33 pria dan 27 wanita. Usia responden berkisar antara 21-50 tahun dengan pendidikan minimal rata-rata sarjana. Hasil penelitian diperoleh melalui perhitungan correlations yang menunjukkan adanya hubungan antara kelima dimensi The Big 5 Personality dengan kepuasan kerja. Ketika masing-masing dimensi dilihat korelasinya dengan kepuasan kerja, hanya dimensi conscientiousness saja yang tidak memiliki hubungan dengan kepuasan kerja. Sedangkan keempat dimensi lainnya yaitu extraversion, agreeableness, neuroticism, dan openness to experience masing-masing memiliki hubungan dengan kepuasan kerja.

Untuk mendapatkan daftar lengkap contoh skripsi psikologi lengkap / tesis psikologi lengkap, dalam format PDF, Ms Word, dan Hardcopy, silahkan memilih salah satu link yang tersedia berikut :

Contoh Tesis

Contoh Skripsi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di kota-kota besar seperti Jakarta, seringkali terjadi demo buruh sebagai bentuk ketidakpuasan karyawan terhadap perusahaan atau pekerjaannya. Menurut Robbins dan Judge (2005) banyak faktor yang menyebabkan ketidapuasan terhadap pekerjaan seperti jumlah gaji, kenaikan pangkat, rekan kerja, dan pekerjaan itu sendiri secara keseluruhan. Kesulitan mendapatkan pekerjaan seringkali menjadi alasan utama yang menyebabkan orang terpaksa mau menerima pekerjaan yang tidak sesuai gajinya dengan yang diharapkan, ataupun mau menerima pekerjaan yang tidak diminatinya. Hal-hal seperti ini sering menimbulkan keluhan pada karyawan. Kepuasan ataupun ketidakpuasan kerja merupakan hasil penafsiran tenaga kerja yang bersangkutan tentang pengalaman-pengalaman kerjanya dengan harapannya. Karyawan akan merasa puas bila pengalaman kerjanya sesuai. Sebaliknya, karyawan merasa tidak puas bila pengalaman kerjanya tidak sesuai dengan harapan (Locke dalam Munandar, 2001).

Menurut Robbins dan Judge (2005) di negara yang sedang berkembang ketidakpuasan kerja lebih disebabkan karena adanya ketidakpuasan dengan gaji yang mereka terima. Kepuasan kerja karyawan dalam suatu organisasi sangatlah penting peranannya dalam rangka menciptakan unjuk kerja yang baik. Penelitian menunjukan bahwa karyawan yang memiliki kepuasan tinggi dalam pekerjaannya memiliki unjuk kerja yang lebih baik dalam menjalankan tugasnya dibandingkan mereka yang merasa tidak puas dengan pekerjaannya (Robbins & Judge, 2005). Robbins dan Judge (2005) menambahkan bahwa karyawan yang memiliki kepuasan terhadap pekerjaanya akan memiliki kemungkinan yang lebih kecil untuk mangkir dan berhenti dari pekerjaannya.

Oleh karena itu, usaha menciptakan kepuasan kerja karyawan diharapkan akan mengurangi perilaku-perilaku negatif yang dapat menghambat unjuk kerja karyawan dalam suatu perusahaan. Penelitian menunjukan pengaruh perbedaan individu sebagai salah satu variabel penting yang berhubungan dengan ketidakpuasan kerja (Okpara, 2006). Okpara (2006) menambahkan bahwa perbedaan individu seperti usia, jenis kelamin, pendidikan, dan pengalaman kerja adalah beberapa contoh variabel yang sudah diteliti memiliki pengaruh terhadap kepuasan kerja. Selanjutnya, salah satu perbedaan individu yang juga banyak menarik perhatian para peneliti akan pengaruhnya terhadap kepuasan kerja adalah tipe kepribadian (Robbins & Judge, 2005). Beberapa tipologi kepribadian yang sering diteliti dalam studi kepuasan kerja adalah model Kepribadian Tipe A dan B, Locus of Control, dan The Big 5 Personality (Robbins & Judge, 2005). Dalam penelitiannya, Kirkcaldy et al (2002) menunjukan hubungan antara kepribadian tipe A ketika digabungkan dengan locus of control external, dengan kepuasan kerja yang lebih rendah. Sedangkan kepribadian tipe B yang digabungkan dengan locus of control internal yang dimiliki seorang karyawan mengindikasikan kepuasan kerja yang lebih tinggi. Dalam penelitiannya tentang hubungan dimensi kepribadian The Big 5 Personality, Judge, Heller, dan Mount (2002) menyimpulkan bahwa sampel yang memiliki nilai tinggi dalam neuroticism menunjukan ketidakpuasan kerja. The Big 5 Personality adalah dimensi kepribadian yang mulai dikenal peranannya dalam Psikologi Organisasi beberapa tahun belakangan (Robbins & Judge, 2005). The Big 5 Personality terdiri dari 5 dimensi yaitu: Extraversion, Agreeableness, Conscientiousness, Emotional stability/ Neuroticism, dan Openness to experience.

Di bidang Psikologi Organisasi, penelitian telah banyak menggunakan The Big 5 Personality dalam melihat hubungannya dengan variabel lain terutama unjuk kerja. Beberapa tahun belakangan pun, sejumlah penelitian telah menggunakan dimensi The Big 5 Personality untuk melihat kaitannya dengan kepuasan kerja (Judge, Heller, & Mount, 2002; Peeters et al, 2006). Suatu penelitian tentang kepuasan kerja menunjukkan bahwa ketika seseorang memiliki tingkat agreeableness dan conscientiousness yang tinggi, maka meningkat pula kepuasan kerja yang didapat (Peeters et al, 2006). Selanjutnya disimpulkan bahwa orangorang yang memiliki agreeableness dan conscientiousness rendah serta neuroticism yang tinggi, merasa kurang puas dengan pekerjaannya (Peeters et al, 2006). Peeters et al (2006) menambahkan bahwa orang-orang seperti inilah yang cenderung akan berhenti dari pekerjaannya. Menurut Robbins dan Judge (2005), sejumlah penelitian menunjukkan hasil yang signifikan dalam hubungan antara The Big 5 Personality dengan variabel seperti unjuk kerja dan kepuasan kerja (Le Pine & Van Dyne, 2001; Judge & Mount, 2002; Robbins  Judge, 2005; Peeters et al, 2006). Variabel kepuasan kerja inilah yang akan menjadi topik pembahasan dalam penelitian ini, dan akan dilihat hubungannya dengan The Big 5 Personality. Sejumlah penelitian tentang hubungan kepuasan kerja dengan kepribadian seringkali menggunakan sampel yang berprofesi di bidang manajerial (Robbins & Judge, 2005). Oleh karena itu, penelitian kali ini akan melihat pengaruh dari The Big 5 Personality terhadap kepuasan kerja pada karyawan operasional.

Incoming search terms:

Leave a Reply