HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Gejala, Medikasi, Keluhan di Mulut pada Pasien Systemic Lupus Erythematosus

Judul : Gejala, Medikasi, Keluhan di Mulut Dan Kemungkinan Efek Obat Jangka Panjang pada Pasien Systemic Lupus Erythematosus (Studi Klinis Pada Yayasan Lupus Indonesia Periode 13 November- 4 Desember 2008)

ABSTRAK


Latar Belakang:. Systemic Lupus Erythematosus (SLE) merupakan penyakit autoimun kronik, menyerang sel dan jaringan tubuh sendiri, sehingga menyebabkan inflamasi serta kerusakan jaringan atau organ. SLE dapat menyerang multiorgan dengan gejala sistemik dan mulut yang sangat bervariasi. Keluhan pasien SLE di dalam rongga mulut dapat berupa mulut terasa terbakar, xerostomia, sore mouth, dan masalah lainnya. Terapi Kortikosteroid merupakan terapi utama yang hampir semua pasien SLE mengkonsumsinya, untuk mengurangi inflamasi dan kerusakan jaringan yang terkait dengan reaksi autoimun. Sehingga keluhan di mulut yang dirasakan penderita SLE dapat saja akibat dari penyakitnya, namun dapat juga sebagai akibat dari efek obat yang harus terus dikonsumsi dalam jangka panjang bahkan seumur hidup.

Tujuan: Untuk mengetahui gejala, jenis medikasi, keluhan di mulut, serta kemungkinan efek penggunaan obat jangka panjang pada Odapus yang bergabung di Yayasan Lupus Indonesia (YLI) periode 13 November- 4 Desember 2008.

Metode: Penelitian deskriptif, dengan pengambilan data secara potong lintang, menggunakan kuesioner dan pemeriksaan klinis ekstra dan intra oral. Selain itu untuk mengetahui adanya xerostomia dilakukan pengukuran kuantitas saliva tanpa stimulasi.

Hasil: Diperoleh 30 subyek penderita SLE, terdiri 4 orang laki-laki dan 26 perempuan. Usia berkisar antara 17 tahun sampai 49 tahun atau rata-rata usia adalah 33 tahun. Sebagian besar subyek berpendidikan tinggi yaitu mencapai tingkat perguruan tinggi sebesar 66%. Distribusi gejala berdasarkan kriteria ACR sesuai 5 urutan tertinggi meliputi: Anti ds-DNA dan LE positif, Titer ANA positif, Artritis, Bercak discoid dan ulserasi di mulut. Kortikosteroid dikonsumsi secara rutin oleh 27 orang (90%) subyek dengan dosis yang bervariasi (0,5-32 mg). Obat lain adalah golongan imunosupresan, asam salisilat, dan antasida. Dari pemeriksaan kelenjar limfe submandibula, submental dan servikal lebih banyak yang teraba tetapi tidak sakit dibandingkan yang tidak teraba. Penurunan
kuantitas saliva dialami oleh 90 % subyek dengan tingkat sedang sampai buruk. Lesi oral tidak banyak dijumpai yang terkait manifestasi SLE, karena telah dikendalikan oleh obat kortikosteroid dan imunosupresan dengan dosis tertentu sebagai pemeliharaan
dalam jangka panjang. Beberapa subyek mengalami lesi putih dan beberapa lainnya kehilangan integritas mukosa yang kemungkinan berkaitan dengan efek obat jangka panjang. Simpulan: Dari penelitian menunjukkan bahwa secara umum pasien SLE adalah perempuan. Ulser oral merupakan salah satu gejala dari kriteria ACR yang paling banyak dikeluhkan saat penelitian. Pembesaran kelenjar yang ada pada pasien bisa diakibatkan SLE yang menyerang getang bening. Lesi dapat terjadi pada saat penggunaan obat karena efek obat yang dapat menekan imun tubuh Odapus, hingga tubuh maupun bagian oral Odapus secara umum mudah terserang infeksi.

Kata kunci: SLE, Gejala, Medikasi, Keluhan di Mulut, Efek Obat Jangka Panjang.

Untuk mendapatkan daftar lengkap contoh skripsi kesehatan lengkap / tesis kesehatan lengkap, dalam format PDF, Ms Word, dan Hardcopy, silahkan memilih salah satu link yang tersedia berikut :

Contoh Tesis

Contoh Skripsi

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah
Systemic Lupus Erythematosus (SLE) merupakan salah satu penyakit autoimun kronik, yang mana sistem imun menyerang sel dan jaringan tubuh sendiri sehingga menyebabkan inflamasi serta kerusakan jaringan. Etiologi penyakit ini belum diketahui secara pasti, tetapi dalam pemeriksaan immonologi ditemukan adanya antinuklear antibody (ANA) dan kompleks imun pada jaringan, serum, dan plasma. Penyakit ini dapat menyerang multiorgan dengan gambaran klinik yang sangat bervariasi, diantaranya sendi, kulit, ginjal, paru-paru, jantung, pembuluh darah, sistem syaraf, otak dan mulut.1,2,3,4 Manifestasi SLE di dalam rongga mulut berupa mulut terasa terbakar, xerostomia, sore mouth, dan masalah lainnya.3,4

Menurut literatur yang dilaporkan bahwa di Amerika Serikat ditemukan 14,6 sampai 50,8 per 100.000 orang penduduk terdiagnosa sebagai Orang dengan lupus (Odapus). Di Indonesia terdapat sekitar 150.000 penderitanya yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.5 Sedangkan, berdasarkan data dari Yayasan Lupus Indonesia (YLI) menyebutkan bahwa terdapat 5.000 Odapus di Jakarta dan sekitarnya. Sementara di Bandung dan sekitarnya, berdasarkan data Yayasan Syamsi Dhuha, yang juga menangani penderita lupus, terdapat 750 Odapus. Angka ini meningkat 250 orang dari tahun sebelumnya.6 Hal tersebut menunjukkan bahwa di Indonesia, jumlah penduduk yang mengalami SLE makin bertambah tiap tahunnya.

Di Indonesia, informasi mengenai SLE masih sedikit. Selain itu, banyak kalangan medis yang belum menguasai penyakit ini karena gejala SLE yang sangat bervariasi, hingga sebagian besar dokter mengalami kesulitan dalam mendiagnosa penyakit SLE. Padahal SLE termasuk salah satu penyakit yang sangat penting untuk diwaspadai, karena penyakit ini dapat mempengaruhi kualitas hidup Odapus  bahkan berakibat fatal hingga menyebabkan kematian.1,3,4,6,9,11,12 Saat ini, telah berdiri suatu Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) yang kegiatannya membantu Odapus yaitu Yayasan Lupus Indonesia (YLI).4,5,6,11 YLI ini akan membantu para Odapus untuk memperoleh kualitas hidup yang lebih baik.4,5

Yayasan Lupus Indonesia didirikan pada tanggal 17 april 1998. Latar belakang pembentukan YLI adalah karena pentingnya kebersamaan dalam menghadapi dan menanggulangi SLE juga sebagai media pengetahuan tentang apa dan bagaimana lupus. YLI didirikan oleh empat orang dari kalangan dokter penyakit dalam dan empat orang dari kalangan masyarakat. YLI dimanfaatkan sebagai wadah penyuluhan kesehatan, terutama mengenai penyakit lupus, pengumpulan dana, memperjuangkan kepentingan penderita lupus, dan mendirikan pelayanan kesehatan.4,5 Sayangnya, sampai saat ini belum melibatkan profesi dokter gigi dalam penanganan Odapus. Padahal menurut penelitian yang dilakukan oleh University of Oregon Medikal School (1970), merkuri pada tambalan amalgam di bidang kedokteran gigi merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya SLE. Selain itu, obat-obatan terapi SLE yang digunakan melatarbelakangi manifestasi oral yang ada pada Odapus.3,4

Mengacu pada hal-hal yang telah dikemukakan di atas penulis bermaksud untuk menggambarkan manifestasi oral SLE yang di tampilkan oleh Odapus yang bergabung di YLI berkaitan dengan profesi dokter gigi dalam membantu mendiagnosis penyakit ini, serta lebih lanjut berkaitan manifestasi oral yang dapat ditampilkan akibat penggunaan obat-obatan terapi pada SLE.

Incoming search terms:

Leave a Reply