HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Evaluasi Dampak Program Penanggulangan Flu Burung Kabupaten Sragen

ABSTRAK

Pembangunan bidang kesehatan yang dilaksanakan selama ini tampak jelas kemajuannya. Bahkan dapat mengantar kembali penderita masalah kesehatan menuju hidup yang sehat dan sejahtera. Sampai kapanpun permasalahan kesehatan selalu hadir. Sebab permasalahan kesehatan akan berlangsung sepanjang kehidupan manusia. Terbukti saat ini muncul penyakit Flu Burung (Avian Influenza). Sragen sebagai salah satu bagian dari Jawa Tengah juga melakukan upaya pencegahan perkembangan virus ini. Langkah yang sudah dilakukan adalah advokasi, mobilisasi sosial, penguatan tim pengendali dan penanggulangan flu burung, penyebaran informasi, serta menggalang aksi pastisipatif. Agar dapat mengetahui dampak dari program ini, perlu dilakukan sebuah evaluasi dari kegiatan tersebut.

Penelitian ini dilakukan di Dinas Kesehatan dan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Sragen. Penelitian menggunakan metode evaluasi dimana penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui efektivitas pencapaian tujuan, hasil, atau dampak suatu kegiatan atau program dan juga mengenai proses pelaksanaan suatu kebijakan yang telah direncanakan dan dilaksanakan dalam kurun waktu tertentu. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan dokumentasi. Validitas data menggunakan teknik trianggulasi data. Kemudian analisis data dilakukan dengan menggunakan model analisis data interaktif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa program pengendalian flu burung telah mencapai tujuan, dimana masyarakat telah meminimalkan resiko penularan dengan tindakan preventif dalam menangani unggas. Selain itu penanganan pasien yang diduga terjangkit flu burung telah ditangani secara dini di puskesmas dan selanjutnya dengan tepat dirujuk ke rumah sakit yang telah ditunjuk sebagai Pusat Rujukan. dapat dinyatakan bahwa program penanggulangan flu burung di Kabupaten Sragen dinyatakan berhasil. Indikatornya terletak pada efektivitas program dalam menyadarkan masyarakat, kecukupan program dalam penanganan kasus, dan ketepatan program dalam memberikan manfaat bagi masyarakat, pemerataan dan responsivitas program yang telah tercapai karena penyediaan obat yang merata di seluruh wilayah Kabupaten Sragen dan adanya tindakan preventif dalam penyediaan obat dan penanganan pasien yang baik.

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa. Pelaksanaan Program Penanggulangan Flu Burung Kabupaten Sragen belum bisa berjalan maksimal karena munculnya berbagai hambatan, antara lain : terbatasnya anggaran, keterbatasan sarana dan prasarana, kuantitas dan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki masih terbatas.

Kata kunci : Evaluasi Dampak, Implementasi, Flu Burung.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam mewujudkan kehidupan masyarakat yang lebih baik, semua negaramaju maupun negara berkembang di dunia melaksanakan pembangunan. Pembangunan merupakan satu proses berdimensi jamak yang melibatkan perubahan-perubahan besar dalam struktur sosial, masyarakat, dan kelembagaan nasional, seperti halnya percepatan pertumbuhan ekonomi, pengurangan ketidakmerataan, dan pemberantasan kemiskinan absolut.

Pembangunan merupakan usaha yang dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyat. Hakekat dari tujuan pembangunan nasional adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya. Sehingga manusia memiliki peran yang sangat penting dan sangat menentukan dalam pembangunan. Tersedianya kualitas sumber daya manusia yang baik akan dapat mendukung tercapainya tujuan nasional secara maksimal. Pembangunan dilaksanakan bukan hanya pada satu atau beberapa golongan masyarakat tertentu saja, tetapi pembangunan harus dilaksanakan pada seluruh lapisan masyarakat.

Dari penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa manusia sebagai individu maupun kelompok selalu memiliki keterkaitan dengan proses yang terjadi dalam pembangunan. Pembangunan dapat berjalan jika ada keikutsertaan semua masyarakat dalam memberikan sumbangan yang berupa pikiran, tenaga, ilmu pengetahuan, serta keterampilan yang mereka miliki.

Karena manusia merupakan objek dari pembangunan, maka dapat dimaksudkan bahwa semua elemen pembangunan yang dilaksanakan tersebut ditujukan pada pencapaian kesejahteraan manusia untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. Manusia merupakan faktor penting dalam pembangunan karena selain berperan sebagai pelaku, manusia juga merupakan tujuan dari pembangunan.

Berkaitan dengan manusia yang merupakan objek dari pembangunan, maka salah satu unsur penting dalam pembangunan adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang kesehatan. Pembangunan di bidang kesehatan ini dilaksanakan di seluruh negara di dunia ini termasuk di Indonesia. Pembangunan bidang kesehatan yang dilaksanakan selama ini tampak jelas kemajuannya. Berbagai bentuk usaha yang dilaksanakan tidak saja dapat mengatasi masalah kesehatan. Bahkan dapat mengantar kembali penderita masalah kesehatan menuju hidup yang sehat dan sejahtera. Sampai kapanpun permasalahan kesehatan selalu hadir. Sebab permasalahan kesehatan akan berlangsung sepanjang kehidupan manusia.

Terbukti saat ini muncul penyakit Flu Burung (Avian Influenza). Penyebab flu burung adalah virus influensa tipe A yang menyebar antar unggas. Virus ini kemudian ditemukan mampu pula menyebar ke spesies lain seperti babi, kucing, anjing, harimau, dan manusia. Burung liar dan unggas-unggas ternak dapat menjadi sumber penyebar H5N1. Shahid Muh Akbar dalam Jurnal Virologi Volume 6, 29 Maret 2009 menjelaskan:
” ………..AI infections represent risk factors either for direct infection of humans from the avian host or for the consequences of genetic reassortment between a mammalian and an avian influenza virus, which could become the basis for a generation of a new pandemic virus for humans”. (Shahid Muh Akbar. www.virologij.com. Virologi Journal, 6th Volume, 2009, Avian Influenza virus (H5N1); effects of physico-chemical factors on its survival).

Bahaya penyakit ini antara lain adalah : (1) Dapat menular sesama unggas (ayam buras, ayam ras petelur, ayam ras pedaging, burung puyuh, itik, entok, burung dara, serta unggas lain); (2) Penyakit ini diidentifikasi juga menular pada ternak babi; dan (3) Bahkan dapat menular pada manusia. Widyasari Kumala dalam Avian influenza Journal : Profile and Transmission to Human menjelaskan: “Avian influenza is a contagious disease caused by avian influenza virus type A with subtype H1 to H16 and N1 to N9. This virus mainly infect poultries such as chickens, turkeys, water poultries, domestic and wild birds.” (Widyasari Kumala, Jurnal Kedokteran Universitas Trisakti, Volume 24, Avian influenza :

Profile and Transmission to Human 1 Oktober 2007). Pada beberapa kasus, kemungkinannya terjadi penularan antar manusia ke manusia telah terjadi seiring dengan kontak dengan pasien pada saat tahap akutpenyakit ini. Pada semua kejadian tersebut, penularan terjadi dengan sangat terbatas dan tidak mengarah kepada penularan massal yang lebih banyak di masyarakat, yang menunjukkan bahwa virus ini tidak mudah menular antara manusia ke manusia saat ini.

Saat ini belum terdapat vaksin manusia untuk flu burung. Para peneliti sedang mengamati perkembangan situasi dengan seksama untuk memastikan apabila virus berubah menjadi lebih menular kepada manusia mereka dapat mengembangkan vaksin yang khusus untuk mutasi virus baru tersebut. Selain perawatan medis intensif, Tamiflu merupakan obat anti-viral utama untuk flu burung. Tamiflu akan efektif apabila diberikan pada tahap awal perkembangan penyakit flu burung.

Virus flu burung H5N1 pertama kali diketahui terdapat pada seekor angsa di propinsi Guangdong pada tahun 1996. Tipe virus ini sangat berhubungan dengan virus yang ditemukan di Indonesia. Sehingga hal ini menyiratkan adanya mata rantai transmisi langsung antara China dengan Indonesia. Perdagangan unggas dari China menjadi penyebab masuknya virus ini ke Indonesia. Sejauh ini yang terjadi adalah penularan antar unggas dan penularan dari unggas ke manusia. Transmisi virus H5N1 dari unggas ke manusia sudah meningkatkan ketakutan. Usaha yang direncanakan sedang berlangsung untuk menyiapkan vaksin efektif dan terapi mencakup polyclonal atau monoclonal zat darah penyerang kuman terhadap H5N1. Usaha ini dihambat oleh kekurangan informasi pada yang bersifat melindungi melawan terhadap flu burung.

Hingga 6 Juni 2007, WHO telah mencatat sebanyak 310 kasus dengan 189 kematian pada manusia yang disebabkan virus ini dengan rincian yang disajikan pada tabel sebagai berikut:

Photobucket Evaluasi Dampak Program Penanggulangan Flu Burung Kabupaten Sragen

Kasus flu burung hingga saat ini masih menjadi misteri yang sulit dipecahkan dan terus diteliti oleh para ilmuwan di banyak negara. Salah satu enelitian itu menghasilkan kesimpulan sementara bahwa kawasan selatan China dicurigai menjadi sumber dari sekian banyak virus flu burung yang kini tersebar di dunia. Penelitian yang dilakukan selama ini masih belum mampu mengatasi merebaknya kasus flu burung di berbagai kawasan.

Flu burung memiliki potensi resiko penularan yang cukup tinggi. Hal ini dikarenakan adanya kedekatan masyarakat terhadap unggas baik ayam, burung, maupun bebek. Kedekatan itu tidak hanya dalam arti jarak seperti kandang ayam dekat rumah atau sangkar burung di dalam rumah, melainkan juga aspek psikis emosional. Tak jarang unggas menjadi bagian intim dari keluarga. Faktor resiko tersebut akan semakin tinggi manakala pola hidup masyarakat tidak bersih. Selain itu juga pemahaman yang masih minim dari masyarakat tentang bahaya flu burung.

Unggas yang berpotensi terkena virus Avian influenza (AI) atau flu burung karena berada di sekitar unggas yang terjangkit AI, seharusnya juga dimusnahkan. Bahkan berdasarkan ketentuan internasional, satu kilometer di seputar ditemukannya unggas yang terjangkit AI harus diisolasi dan dilakukan pemusnahan besar-besaran.

Namun pemerintah tidak mungkin mengisolasi dan memusnahkan seluruh unggas di daerah terjangkit flu burung, karena akan ada satu atau beberapa kota yang harus diisolasi. Jika ada satu kasus AI di Tangerang dan Bekasi misalnya, seharusnya Jabodetabek diisolasi dan semua unggas di kawasan ini dimusnahkan. Pemerintah tidak mungkin mengisolasi seluruh kota karena pasti banyak yang menentang. Pemerintah hanya berharap agar warga selalu menjaga kebersihan lingkungan, terutama yang memelihara unggas. Pemerintah juga sudah melakukan upaya preventif melalui sosialisasi baik lewat media cetak maupun elektronik. Pemerintah terus berupaya pencegahan, penanggulangan, pengawasan, dan pengadaan vaksin flu burung. Mengatur peternakan unggas di permukiman tidak mudah karena warga merasa berhak memelihara unggas dan hewan ternak lainnya di sekitar rumah. Untuk itu, pemerintah menyiapkan Rancangan Undang-Undang tentang Peternakan yang baru untuk mengatur masalah yang berkaitan dengan peternakan.

Evaluasi Dampak Program Penanggulangan Flu Burung Kabupaten Sragen

Untuk memesan judul-judul SKRIPSI / TESIS atau mencari judul-judul yang lain silahkan hubungi Customer Service kami, dengan nomor kontak 0852.2588.7747 (AS) atau BBM :5E1D5370
Incoming search terms:

Leave a Reply