HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Contoh Tesis Tema Meningkatkan Kreativitas Belajar Siswa

1.Eksperimentasi model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dan Think Pair Share (TPS) ditinjau dari kreativitas belajar siswa kelas VII SMP Negeri di Kabupaten Pacitan

 

Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui :

  • diantara model pembelajaran tipe NHT, TPS dan Konvensional manakah yang dapat memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik,
  • diantara tingkat kreativitas, siswa yang mempunyai prestasi belajar matematika lebih baik, siswa dengan kreativitas tinggi, sedang atau rendah,
  • pada masing-masing model pembelajaran (NHT, TPS dan Konvensional) manakah di antara tingkat kreativitas, siswa yang mempunyai prestasi belajar matematika lebih baik, kreativitas tinggi, sedang atau rendah,
  • pada masing-masing tingkat kreativitas siswa (tinggi, sedang, dan rendah), manakah di antara model pembelajaran yang dapat memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, model pembelajaran kooperatif tipe NHT, TPS atau konvensional.

 

Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimental semu. Rancangan penelitian ini menggunakan desain faktorial 3 x 3. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri se-Kabupaten Pacitan pada tahun ajaran 2012/2013. Sedangkan untuk sampel dipilih dengan cara stratified cluster random sampling. Banyak sampel 275 siswa dengan 92 siswa untuk kelas eksperimen I, 92 siswa untuk kelas eksperimen II dan 91 siswa untuk kelas kontrol. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah angket kreativitas belajar dan tes prestasi belajar matematika. Uji coba instrumen angket meliputi validitas isi, konsistensi internal dan reliabilitas. Uji coba tes meliputi validitas isi, tingkat kesukaran, daya beda dan reliabilitas. Untuk uji normalitas menggunakan uji Liliefors, uji homogenitas menggunakan uji Bartlett. Tes keseimbangan yang digunakan yaitu anava satu jalan dengan sel tak sama untuk mengetahui kemampuan awal matematika yang sama. Uji tes matematika menggunakan analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama.

 

Hasil penelitian menyimpulkan sebagai berikut :

  • Pembelajaran dengan model pembelajaran NHT menghasilkan prestasi belajar matematika yang sama baiknya dengan model pembelajaran TPS dan lebih baik daripada model pembelajaran konvensional, sedang model pembelajaran TPS sama baik dengan model pembelajaran konvensional.
  • Prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai kreativitas tinggi lebih baik dibanding dengan siswa yang mempunyai kreativitas sedang, prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai kreativitas tinggi lebih baik dibanding dengan siswa yang mempunyai kreativitas rendah, dan prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai kreativitas sedang sama baik dengan siswa yang mempunyai kreativitas rendah.
  • Berdasarkan model pembelajaran, prestasi belajar matematika siswa dengan kreativitas tinggi lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa dengan kreativitas sedang dan rendah, sedangkan prestasi belajar matematika siswa dengan kreativitas sedang sama baik dengan prestasi belajar matematika siswa dengan kreativitas rendah.
  • Berdasarkan tingkat kreativitas, baik tinggi, sedang maupun rendah prestasi belajar matematika siswa dengan model pembelajaran NHT sama baik dengan model pembelajaran TPS tetapi lebih baik daripada prestasi belajar matematika dengan model konvensional dan prestasi belajar siswa dengan model pembelajaran TPS sama baik dengan model konvensional.

 

 

2. Eksperimentasi Model Pembelajaran Reciprocal Teaching (RT) Dan Problem Based Learning (PBL) pada Materi Peluang Ditinjau dari Kreativitas Belajar Siswa Kelas XI SMA/MA Negeri di Kabupaten Ketapang Provinsi Kalimantan Barat

 

Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan :

  • manakah model pembelajaran yang menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik, RT, PBL atau konvensional;
  • manakah siswa yang mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik, siswa yang memiliki kreativitas belajar tinggi, sedang atau rendah;
  • pada setiap model pembelajaran, manakah siswa yang mempunyai prestasi belajar yang lebih baik, siswa yang memiliki kreativitas belajar tinggi, sedang atau rendah; dan
  • pada setiap tingkat kreativitas belajar, manakah model pembelajaran yang menghasilkan prestasi belajar yang lebih baik, RT, PBL atau konvensional

 

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu dengan desain faktorial 3×3 dengan populasi seluruh siswa kelas XI SMA/MA di Kabupaten Ketapang Provinsi Kalimantan Barat. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik stratified cluster random sampling. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 312 siswa, dengan rincian 101 siswa pada kelompok eksperimen satu, 108 siswa pada kelompok eksperimen dua dan 103 siswa pada kelompok kontrol. Data dikumpulkan melalui tes prestasi belajar matematika dan angket kreativitas belajar. Pengujian hipotesis menggunakan analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama.

 

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, diperoleh simpulan sebagai berikut :

  • Model pembelajaran RT menghasilkan prestasi belajar yang lebih baik daripada PBL dan konvensional; model pembelajaran PBL menghasilkan prestasi belajar yang sama dengan konvensional.
  • Siswa yang memiliki kreativitas belajar tinggi mempunyai prestasi belajar yang lebih baik daripada kreativitas belajar sedang dan rendah; siswa yang memiliki kreativitas belajar sedang mempunyai prestasi belajar yang lebih baik daripada rendah.
  • Prestasi belajar siswa pada model pembelajaran RT yang memiliki kreativitas belajar tinggi lebih baik daripada sedang dan rendah; yang memiliki kreativitas belajar sedang lebih baik daripada rendah. Prestasi belajar siswa pada model pembelajaran PBL yang memiliki kreativitas belajar tinggi, kreativitas belajar sedang dan rendah mempunyai prestasi belajar yang sama. Prestasi belajar siswa pada model pembelajaran konvensional yang memiliki kreativitas belajar tinggi sama dengan sedang; yang memiliki kreativitas belajar tinggi lebih baik daripada rendah; yang memiliki kreativitas belajar sedang sama dengan rendah.
  • Prestasi belajar siswa yang berkreativitas belajar tinggi yang dikenai model pembelajaran RT lebih baik daripada PBL dan konvensional, sedangkan yang dikenai model pembelajaran PBL sama dengan konvensional. Prestasi belajar siswa yang berkreativitas belajar sedang yang dikenai model pembelajaran RT lebih baik daripada PBL dan konvensional, sedangkan yang dikenai model pembelajaran PBL sama dengan konvensional. Prestasi belajar siswa yang berkreativitas belajar rendah yang dikenai model pembelajaran RT, model pembelajaran PBL dan konvensional menghasilkan prestasi belajar yang sama.

 

 

3. Eksperimentasi Model Pembelajaran Think Talk Write (TTW) dengan Pendekatan Matematika Realistik (PMR) terhadap Prestasi Belajar Matematika Ditinjau dari Kemampuan Penalaran Matematika dan Kreativitas Belajar Siswa Kelas VII SMP Se-Kabupaten Wonogiri

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui :

  • manakah yang menghasilkan prestasi belajar matematika lebih baik, pembelajaran dengan model pembelajaran Think Talk Write (TTW) dengan Pendekatan Matematika Realistik (PMR), TTW, atau konvensional,
  • manakah yang mempunyai prestasi belajar matematika lebih baik, siswa yang mempunyai kemampuan penalaran matematika tinggi, sedang, atau rendah,
  • manakah yang mempunyai prestasi belajar matematika lebih baik, siswa yang mempunyai kreativitas belajar tinggi, sedang, atau rendah,
  • pada masing-masing model pembelajaran, manakah yang mempunyai prestasi belajar matematika lebih baik, siswa yang mempunyai kemampuan penalaran matematika yang tinggi, sedang, atau rendah,
  • pada masing-masing model pembelajaran, manakah yang mempunyai prestasi belajar matematika lebih baik, siswa yang mempunyai tingkat kreativitas belajar tinggi, sedang, atau rendah,
  • pada siswa yang memiliki masing-masing tingkat kemampuan penalaran matematika, manakah yang mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik, siswa yang mempunyai kreativitas belajar tinggi, sedang, atau rendah,
  • pada masing-masing model pembelajaran untuk masing-masing tingkat kemampuan penalaran matematika, manakah yang mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik, siswa yang memiliki kreativitas tinggi, sedang, atau rendah.

 

Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental semu dengan desain faktorial 3×3×3. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa SMP Negeri se-Kabupaten Wonogiri. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik stratified cluster random sampling. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 274 siswa, dengan rincian 92 siswa pada kelas eksperimen satu, 90 siswa pada kelas eksperimen dua, dan 92 pada kelas kontrol. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah tes prestasi belajar matematika, tes kemampuan penalaran matematika dan angket kreativitas. Uji prasyarat meliputi uji normalitas populasi menggunakan metode Lilliefors dan uji homogenitas variansi populasi menggunakan metode Bartlett. Dengan , diperoleh simpulan bahwa sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal dan memiliki variansi yang homogen. Uji keseimbangan terhadap data kemampuan awal matematika menggunakan analisis variansi satu jalan dengan sel tak sama diperoleh simpulan bahwa ketiga kelas memiliki kemampuan awal matematika yang seimbang. Pengujian hipotesis menggunakan analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama.

 

Hasil penelitian menunjukkan :

  • model pembelajaran TTW dengan PMR memberikan prestasi belajar yang lebih baik daripada model pembelajaran TTW dan model pembelajaran konvensional, serta model pembelajaran TTW memberikan prestasi belajar yang lebih baik daripada model pembelajaran konvensional.
  • siswa yang memiliki kemampuan penalaran tinggi mempunyai prestasi belajar matematika yang sama dengan siswa yang memiliki kemampuan penalaran matematika sedang, serta siswa yang memiliki kemampuan penalaran matematika tinggi dan sedang mempunyai prestasi belajar yang lebih baik daripada siswa yang memiliki kemampuan penalaran rendah.
  • siswa dengan tingkat kreativitas belajar tinggi, sedang, dan rendah mempunyai prestasi belajar matematika yang sama.
  • pada masing-masing model pembelajaran, siswa yang mempunyai kemampuan penalaran matematika tinggi mempunyai prestasi yang sama dengan siswa yang mempunyai kemampuan penalaran sedang, serta siswa yang mempunyai kemampuan penalaran tinggi dan sedang mempunyai prestasi yang lebih baik daripada siswa yang mempunyai kemampuan penalaran rendah.
  • pada masing-masing model pembelajaran, siswa yang mempunyai kreativitas belajar tinggi, sedang, maupun rendah mempunyai prestasi belajar yang sama.
  • pada masing-masing kategori kemampuan penalaran, siswa yang memiliki kreativitas belajar tinggi, sedang, maupun rendah mempunyai prestasi belajar yang sama.
  • pada masing-masing model pembelajaran untuk masing-masing tingkat kemampuan penalaran matematika, siswa yang memiliki kreativitas belajar tinggi, sedang maupun rendah memiliki prestasi belajar yang sama.

 

Kata kunci: Think Talk Write dengan Pendekatan Matematika Realistik, kemampuan penalaran matematika, kreativitas belajar, prestasi belajar matematika

 

4. Eksperimentasi Model Problem Based Learning, Think Aloud Pairs Problem Solving dan Group Investigation dengan Pendekatan Saintifik Ditinjau dari Konsep Diri dan Kreativitas Belajar Siswa terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Kelas VIII SMP N Se-Kabupaten Sragen Tahun Pelajaran 2014-2015

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui :

  • manakah yang memberikan kemampuan pemecahan masalah matematika yang lebih baik, pembelajaran dengan model pembelajaran PBL dengan pendekatan saintifik (PBL-S), TAPPS dengan pendekatan saintifk (TAPPS-S), atau GI dengan pendekatan saintifik (GI-S),
  • manakah yang mempunyai kemampuan pemecahan masalah matematika lebih baik, siswa yang memiliki konsep diri positif atau negatif,
  • manakah yang mempunyai kemampuan pemecahan masalah matematika lebih baik, siswa yang memiliki kreativitas belajar tinggi, sedang, atau rendah,
  • pada masing-masing model pembelajaran, manakah yang mempunyai kemampuan pemecahan masalah matematika lebih baik, siswa yang memiliki konsep diri positif atau negatif,
  • pada masing-masing model pembelajaran, manakah yang mempunyai kemampuan pemecahan masalah matematika lebih baik, siswa yang memiliki tingkat kreativitas belajar tinggi, sedang, atau rendah,
  • pada siswa yang memiliki masing-masing tingkat konsep diri siswa, manakah yang mempunyai kemampuan pemecahan masalah matematika yang lebih baik, siswa yang mempunyai kreativitas belajar tinggi, sedang, atau rendah,
  • pada masing-masing model pembelajaran untuk masing-masing tingkat konsep diri siswa, manakah yang mempunyai kemampuan pemecahan masalah matematika yang lebih baik, siswa yang memiliki kreativitas belajar tinggi, sedang, atau rendah.

 

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental semu dengan desain faktorial 3×2×3. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP N Se-Kabupaten Sragen TP. 2014/2015. Teknik pengumpulan sampel menggunakan stratifed cluster random sampling dan diperoleh SMP N 1 Gemolong dari kategori tinggi, SMP N 1 Kalijambe dari kategori sedang, dan SMP N 1 Sumberlawang dari kategori rendah. Data yang dikumpulkan nilai UAS semester ganjil TP. 2014/2015 pada pelajaran matematika menggunakan metode dokumentasi, konsep diri dan kreativitas belajar siswa menggunakan metode angket dan kemampuan pemecahan masalah matematika menggunakan metode tes. Uji prasyarat analisis variansi (anava) terdiri dari uji normalitas menggunakan metode Lilliefors dan uji homogenitas variansi menggunakan uji Bartlett. Uji keseimbangan menggunakan anava satu jalan dengan sel tak sama dan uji hipotesis menggunakan anava tiga jalan dengan sel tak sama pada taraf signifikansi 0.05.

 

Hasil Penelitian ini adalah :

  • pembelajaran yang menggunakan model PBL-S menghasilkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang sama dengan model TAPPS-S, serta keduanya menghasilkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang lebih baik daripada siswa dengan model GI-S,
  • siswa dengan kategori konsep diri positif menghasilkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang lebih baik daripada siswa dengan kategori konsep diri negatif
  • Siswa dengan kategori kreativitas belajar tinggi menghasilkan kemampuan pemecahan masalah matematika lebih baik daripada siswa dengan kategori kreativitas sedang dan rendah, Namun Siswa dengan kategori kreativitas belajar sedang dan rendah menghasilkan kemampuan pemecahan masalah matematika yang sama,
  • Pada masing-masing model pembelajaran siswa dengan kategori konsep diri positif dan negatif mempunyai kemampuan pemecahan masalah matematika yang sama,
  • pada siswa model PBL-S dan GI-S dengan kreativitas tinggi, sedang, rendah mempunyai kemampuan pemecahan masalah matematika yang sama, pada siswa model TAPPS-S adanya perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematika dengan kategori kreativitas tinggi dan rendah, sedangkan bila dilihat dari kreativitas tinggi untuk masing-masing model sama dan adanya perbedaan antara model PBL-S dan GI-S yang menghasilkan kemampuan pemecahan masalah matematika kreativitas tinggi, antara masing-masing model untuk siswa kreativitas sedang mempunyai kemampuan pemecahan masalah matematika yang sama serta antara masing-masing model untuk siswa kreativitas rendah mempunyai kemampuan pemecahan masalah matematika yang sama,
  • Siswa dengan konsep diri positif dengan kreativitas tinggi, sedang dan rendah mempunyai kemampuan pemecahan masalah matematika yang sama, serta Siswa dengan konsep diri negatif dengan kreativitas tinggi, sedang dan rendah mempunyai kemampuan pemecahan masalah matematika yang sama,
  • pada masing-masing model siswa yang memiliki kategori konsep diri positif dan negatif dengan kreativitas tinggi, sedang dan rendah mempunyai kemampuan pemecahan masalah matematika yang sama.

 

Kata kunci: PBL, TAPPS, GI, Pendekatan Saintifk, Konsep Diri Siswa, Kreativitas Belajar.

 

5. Eksperimentasi Pembelajaran Matematika dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Thinking Aloud Pairs Problem Solving (TAPPS) dan Missouri Mathematics Project (MMP) Ditinjau dari Tingkat Kreativitas Belajar Siswa Kelas VIII SMP Negeri di Kabupaten Pacitan

Abstrak

 

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui :

  • Diantara model pembelajaran kooperatif tipe TAPPS, MMP dan Konvensional manakah yang dapat memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik,
  • Diantara tingkat kreativitas siswa, yang dapat memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, kreativitas tinggi, sedang atau rendah,
  • Pada masing-masing model pembelajaran manakah di antara tingkat kreativitas siswa yang dapat memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, kreativitas tinggi, sedang atau rendah,
  • Pada masing-masing tingkat kreativitas siswa (tinggi, sedang, dan rendah), manakah di antara model pembelajaran yang dapat memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, model pembelajaran kooperatif tipe TAPPS, MMP atau konvensional.

 

Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimental semu. Rancangan penelitian ini menggunakan desain faktorial 3 x 3. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri se-Kabupaten Pacitan pada tahun ajaran 2011/2012. Sedangkan untuk sampel dipilih dengan cara stratified cluster random sampling. Banyak sampel 275 siswa dengan 92 siswa untuk kelas eksperimen I, 92 siswa untuk kelas eksperimen II dan 91 siswa untuk kelas kontrol. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah angket kreativitas belajar dan tes prestasi belajar matematika. Uji coba instrumen angket meliputi validitas isi, konsistensi internal dan reliabilitas. Uji coba tes meliputi validitas isi, tingkat kesukaran, daya beda dan reliabilitas. Untuk uji normalitas menggunakan uji Liliefors, uji homogenitas menggunakan uji Bartlett. Tes keseimbangan yang digunakan yaitu anava satu jalan dengan sel tak sama untuk mengetahui kemampuan awal matematika yang sama. Uji tes matematika menggunakan analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama.

 

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa :

  • Pembelajaran dengan model pembelajaran TAPPS menghasilkan prestasi belajar matematika yang sama baiknya dengan model pembelajaran MMP dan lebih baik daripada model pembelajaran konvensional, sedang model pembelajaran MMP sama baik dengan model pembelajaran konvensional,
  • Prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai kreativitas tinggi lebih baik dibanding dengan siswa yang mempunyai kreativitas sedang, prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai kreativitas tinggi lebih baik dibanding dengan siswa yang mempunyai kreativitas rendah, dan prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai kreativitas sedang sama baik dengan siswa yang mempunyai kreativitas rendah,
  • Dilihat dari masing-masing model pembelajaran, prestasi belajar matematika siswa dengan kreativitas tinggi lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa dengan kreativitas sedang dan rendah, sedangkan prestasi belajar matematika siswa dengan kreativitas sedang sama baik dengan prestasi belajar matematika siswa dengan kreativitas rendah,
  • Dilihat dari masing-masing tingkat kreativitas, baik tinggi, sedang maupun rendah prestasi belajar matematika siswa dengan model pembelajaran TAPPS sama baik dengan model pembelajaran MMP tetapi lebih baik daripada prestasi belajar matematika dengan model konvensional. Sedangkan prestasi belajar siswa dengan model pembelajaran MMP sama baik dengan model konvensional.

Kata Kunci: TAPPS, MMP, Konvensional, Kreativitas Belajar

 

6. Pembelajaran Kontruktivis Menggunakan Peta Konsep dan Teka Teki Silang Ditinjau dari Minat dan Kreativitas Belajar Siswa

 

Abstrak

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui :

  • perbedaan prestasi belajar IPA- fisika bagi peserta didik jika proses pembelajarannya menggunakan peta konsep dan teka teki silang,
  • perbedaan prestasi belajar IPA-fisika bagi peserta didik yang memiliki t ingkat minat t inggi dan rendah,
  • perbedaan prestasi belajar IPA- fisika bagi peserta didik yang memiliki kreat ivitas t inggi dan rendah,
  • pengaruh interaksi antara penerapan peta konsep dan teka teki silang dengan t ingkat minat terhadap prestasi belajar IPA-fisika,
  • pengaruh interaksi antara penerapan peta konsep dan teka teki silang dengan kreat ivitas terhadap prestasi belajar IPA-fisika,
  • pengaruh interaksi antara kemampuan tingkat minat dengan kreativitas terhadap prestasi belajar IPA-fisika,
  • pengaruh interaksi antara penerapan peta konsep dan teka teki silang, t ingkat minat dan kreativitas terhadap prestasi belajar IPA-fisika.

 

Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan desain faktorial 2x2x2. Populasi penelitian adalah seluruh peserta didik kelas VII SMP Negeri 2 Toroh. Sampel penelitian ditentukan secara acak dengan teknik cluster random sampling terdiri dari empat kelas. Kelompok eksperimen I pembelajarannya menggunakan peta konsep dan kelompok eksperimen II pembelajarannya menggunakan teka-teki silang. Masing-masing kelompok terdiri dari 80 peserta didik. Pengumpulan data menggunakan teknik tes, dan non tes (angket). Semua instrumen telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Uji hipotesis penelitian menggunakan anava t iga jalan sel tak sama. Uji lanjut anava menggunakan uji Scheffe.

 

Hasil penelitian didapatkan :

  • ada perbedaan prestasi belajar IPA-fisika bagi peserta didik jika proses pembelajarannya menggunakan peta konsep dan teka teki silang,
  • ada perbedaan prestasi belajar IPA-fisika bagi peserta didik yang memiliki t ingkat minat t inggi dan rendah,
  • ada perbedaan prestasi belajar IPA- fisika bagi peserta didik yang memiliki kreat ivitas t inggi dan rendah,
  • tidak ada pengaruh interaksi antara penerapan peta konsep dan teka teki silang dengan t ingkat minat terhadap prestasi belajar IPA-fisika,
  • tidak ada pengaruh interaksi antara penerapan peta konsep dan teka teki silang dengan kreat ivitas terhadap prestasi belajar IPA-fisika,
  • tidak ada pengaruh interaksi antara kemampuan t ingkat minat dengan kreativitas terhadap prestasi belajar IPA-fisika,
  • tidak ada pengaruh interaksi antara penerapan peta konsep dan teka teki silang, ingkat minat, dan kreat ivitas terhadap prestasi belajar IPA-fisika.

 

8. Pengaruh Model PBL dan Model Kooperatif GI Terhadap Prestasi Belajar Ditinjau dari Motivasi Belajar dan Kreativitas Belajar Siswa (Studi Pada Materi Bioteknologi Kelas XII Semester 2 SMA Negeri I Gondang Kabupaten Sragen Tahun Peajaran 2013/2014)

 

Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prestasi belajar Biologi sebagai akibat dari pengaruh :

  • model pembelajaran PBL dan GI,
  • motivasi belajar,
  • kreativitas belajar,
  • interaksi model pembelajaran dengan motivasi belajar,
  • interaksi model pembelajaran dengan kreativitas belajar,
  • interaksi motivasi belajar dengan kreativitas belajar,
  • interaksi model pembelajaran, motivasi belajar, dan kreativitas belajar.

 

Model penelitian yang digunakan adalah eksperimental. Populasi penelitian adalah siswa kelas XII IPA SMA N 1 Gondang. Sampel dalam penelitian ini sejumlah 60 orang dengan teknik penentuan sampel purposif. Sampel dibagi menjadi dua yaitu 30 orang mengikuti kelas GI dan 30 orang mengikuti kelas PBL. Teknik pengumpulan data prestasi belajar kognitif menggunakan Model tes, prestasi belajar afektif dan psikomotor menggunakan lembar observasi sedangkan motivasi dan kreativitas diukur dengan angket. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik Analisis Variasi (Anava) Tiga Jalur.

 

Hasil penelitian ini terhadap prestasi belajar Biologi adalah :

  • ada pengaruh model pembelajaran PBL dan GI dengan hasil prestasi belajar pada PBL lebih tinggi daripada GI,
  • ada pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi belajar kognitif, tetapi tidak mempengaruhi prestasi belajar afektif dan psikomotor,
  • ada pengaruh kreativitas belajar terhadap prestasi belajar kognitif, tetapi tidak mempengaruhi prestasi belajar afektif dan psikomotor,
  • tidak ada interaksi motivasi belajar dengan model pembelajaran,
  • tidak ada interaksi kreativitas belajar dengan model pembelajaran,
  • interaksi motivasi belajar dengan kreativitas belajar mempengaruhi prestasi belajar afektif, tetapi tidak mempengaruhi prestasi belajar kognitif dan psikomotor,
  • tidak ada interaksi model pembelajaran, motivasi belajar dan kreativitas belajar.

 

 

8. Pengaruh Pembelajaran Ekonomi dengan Model Pencapaian Konsep terhadap Prestasi Belajar Ditinjau dari Kreativitas Belajar Siswa Kelas X SMAN 3 Sragen Tahun Ajaran 2012/2013

 

Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah :

  • untuk mengetahui pengaruh penggunaan model pencapaian konsep terhadap prestasi belajar ekonomi siswa,
  • untuk mengetahui pengaruh kreativitas belajar siswa terhadap prestasi belajar ekonomi siswa
  • untuk mengetahui interaksi pengaruh model pencapaian konsep dengan kreativitas belajar siswa terhadap prestasi belajar ekonomi siswa.

 

Penelitian ini termasuk eksperimental semu. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas x sma negeri 3 sragen tahun ajaran 2012/2013 yang terdiri dari sembilan kelas. Jumlah keseluruhan populasi dalam penelitian ini adalah 279 siswa. Pengambilan sampel dengan menggunakan teknik purposive sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah kelas xi kelas ini digunakan sebagai kelas eksperimen dengan menggunakan model pencapaian konsep dan kelas xe yang digunakan sebagai kelas kontrol. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi, tes dan angket. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis variansi dua jalan yang dilanjutkan dengan uji t. Uji pra syarat dalam penelitian ini menggunakan uji normalitas dengan uji kolmogorov-smirnov z dan uji homogenitas dengan uji lavene.

 

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa :

  • penggunaan model pencapaian konsep berpengaruh terhadap prestasi belajar ekonomi siswa,
  • kreativitas belajar siswa berpengaruh terhadap prestasi belajar ekonomi siswa,
  • interaksi model pembelajaran dengan kreativitas belajar siswa berpengaruh terhadap prestasi belajar ekonomi siswa.

 

 

9. Pengaruh Penggunaan Metode Pembelajaran Tipe Group Investigation (GI) dan Teams Games Tournament (TGT) terhadap Berpikir Kritis Ditinjau dari Kreativitas Belajar Siswa dalam Pembelajaran Sejarah pada Siswa Kelas XI SMA Negeri di Kabupaten Pati

 

Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui :

  • Pengaruh metode pembelajaran GI dan TGT, terhadap berpikir kritis siswa dalam pembelajaran sejarah di SMA N di Kabupaten Pati.
  • Pengaruh kreativitas belajar terhadap berpikir kritis siswa dalam pembelajaran sejarah di SMA Negeri di Kabupaten Pati.
  • Pengaruh interaksi antara metode pembelajaran dan tingkat kreativitas terhadap berpikir kritis siswa dalam pemelajaran sejarah di SMA Negeri di Kabupaten Pati.

 

Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA N di Kabupaten Pati Tahun ajaran 2012-2013. Sebagai sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IS 2 SMA N 1 Tayu dan siswa kelas XI IS 3 SMA N 1 Batangan. Teknik pengambilan sampel dengan multi stage cluster random sampling dengan tahapan: 1) dari semua SMAN di Kab. Pati diperoleh secara random 2 sekolah SMAN yaitu SMA N 1 Tayu dan SMA N 1 Batangan. 2)dari 2 SMAN tersebut masing-masing diperoleh secara random kelas XI. 3) dari 2 kelas tersebut diperoleh secara random kelas XI IS 2 SMA N 1 Tayu dan XI IS 3 SMA N 1 Batangan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan desain faktorial 2 X 2. Data yang diperoleh khususnya mengenai data penerapan metode GI dan TGT, Kreativitas belajar dan berpikir kritis dalam pembelajaran sejarah kemudian dianalisis dengan menggunakan anava dua jalan.

 

Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan :

  • Ada perbedaan pengaruh yang signifikan penggunaan metode GI dan TGT terhadap berpikir kritis siswa dalam pembelajaran sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran sejarah dengan menggunakan metode GI, siswa memperoleh rata-rata nilai yang lebih baik (mean = 71,83) dibandingkan dengan pencapaian kemampuan berpikir kritis siswa dengan menggunakan metode TGT (mean = 65,36).
  • Ada perbedaan pengaruh yang signifikan kreativitas belajar siswa tinggi dan rendah terhadap berpikir kritis dalam pembelajaran sejarah. Pada siswa yang memiliki kreativitas tinggi memiliki nilai rata-rata berpikir kritis yang lebih tinggi (mean = 72,03) dibanding dengan rata-rata nilai berpikir kritis siswa yang memiliki kreativitas belajar rendah (mean = 64,93).
  • Tidak ada interaksi pengaruh yang signifikan antara metode pembelajaran dan kreativitas siswa untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran sejarah.

 

 

10. Pengaruh Strategi Pembelajaran terhadap Prestasi Belajar IPS Sejarah Ditinjau dari Kreativitas Belajar Siswa SD Negeri Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus Tahun Pelajaran 2008/2009 (Studi Eksperimen Pada SD N 1 Kuwukan Dan SD N 4 Cranggang)

 

Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui :

  • Perbedaan pengaruh Strategi Pembelajaran kooperatif dan individual terhadap prestasi belajar IPS Sejarah;
  • Perbedaan pengaruh kreativitas belajar siswa terhadap prestasi belajar IPS Sejarah, dan
  • Perbedaan pengaruh interaksi Strategi Pembelajaran dan kreativitas belajar siswa terhadap prestasi belajar IPS Sejarah.

 

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SD Negeri gugus Pattimura Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus, sebanyak 94 siswa. Sampel penelitian diambil dengan menggunakan teknik sampling purposive, sebanyak 60 siswa, terdiri dari 30 siswa untuk kelompok eksperimen dan 30 siswa untuk kelompok kontrol. Teknik pengumpulan data menggunakan metode tes untuk variabel kreativitas belajar siswa dan untuk mengetahui prestasi belajar IPS sejarah. Teknik analisis data menggunakan analisis variansi dua jalan (ANAVA dua jalan).

 

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan :

  • Ada pengaruh Strategi Pembelajaran kooperatif dan individual terhadap prestasi belajar IPS Sejarah (F hitung > F tabel atau 6,896 > 4,02),
  • Ada pengaruh kreativitas belajar siswa terhadap prestasi belajar IPS sejarah (F hitung > F tabel atau 60,936 > 4,02), dan
  • Ada pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran dan kreativitas belajar siswa terhadap prestasi belajar IPS sejarah (F hitung > F tabel atau 47,45 > 4,02).

 

Dengan demikian penggunaan strategi pembelajaran yang tepat dan memiliki kreativitas belajar tinggi, diharapkan ada peningkatan prestasi belajar siswa, tujuan pembelajaran dapat tercapai, serta siswa memiliki kreativitas yang tinggi dalam pembelajaran dengan berani mengeluarkan pendapat serta ide-ide dalam memecahkan suatu masalah. Selain itu diharapkan siswa senantiasa memupuk rasa percaya diri agar tercapai apa yang diinginkan. Karena kreativitas saja tidak dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, maka perlu menggunakan strategi pembelajaran yang tepat dengan menggunakan strategi pembelajaran kooperatif.

 

11. Pengembangan Modul Fisika Berbasis Somatic, Auditory, Visual, Intellectual (SAVI) untuk Meningkatkan Kreativitas Belajar Siswa Kelas X SMA/MA dengan Topik Kalor dan Perpindahannya

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk :

  • mendeskripsikan karakteristik modul Fisika berbasis SAVI,
  • mengetahui kelayakan modul Fisika berbasis SAVI dengan topik Kalor dan Perpindahannya,
  • mengetahui peningkatan kreativitas belajar siswa setelah menggunakan modul Fisika berbasis SAVI dengan topik Kalor dan Perpindahannya.

 

 

Metode penelitian yang digunakan adalah metode Research and Development (R&D). Model penelitian dan pengembangan menggunakan model prosedural dengan prosedur menurut Borg and Gall, meliputi :

  • tahap analisis kebutuhan dan pengumpulan data,
  • tahap perencanaan,
  • tahap perancangan draft modul,
  • tahap pembuatan draft modul,
  • tahap validasi modul,
  • tahap revisi,
  • tahap uji coba lapangan awal dan revisi,
  • tahap uji coba lapangan utama dan revisi, dan
  • tahap diseminasi.

 

Modul Fisika berbasis SAVI dikembangkan menggunakan tahap pembelajaran SAVI, meliputi tahap persiapan, tahap penyampaian, tahap pelatihan, dan tahap penampilan hasil. Modul ini dinilai berdasarkan kelayakan isi, media, dan bahasa kemudian diujicobakan terhadap enam siswa. Setelah direvisi, modul diujicobakan pada kelas X-B. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan kajian dokumen, angket, lembar validasi, wawancara, dan observasi. Teknik analisis data kuantitatif dilakukan dengan menjumlah skor setiap aspek. Selanjutnya jumlah skor dikategorikan ke dalam lima kriteria menurut Azwar. Adapun teknik analisis data kualitatif yang digunakan adalah model analisis Miles dan Huberman.

 

Hasil penelitian ini adalah :

  • karakteristik modul Fisika berbasis SAVI berorientasi pada pendekatan student center. Modul Fisika berbasis SAVI pada materi Kalor dan Perpindahannya dikembangkan menggunakan tahap pembelajaran SAVI, yang meliputi
    • tahap persiapan dapat dilakukan dengan cara siswa mengamati dan membaca fenomena yang disajikan dalam modul. Kemudian muncul permasalahan terkait materi yang akan dipelajari,
    • tahap penyampaian dapat dilakukan dengan cara siswa melakukan eksperimen berdasarkan alat dan bahan serta prosedur kerja,
    • tahap pelatihan dapat dilakukan dengan cara siswa melakukan analisis data menurut variabel yang diukur, dan
    • tahap penampilan hasil dapat dilakukan dengan cara siswa membuat kesimpulan berdasarkan analisis data, kemudian siswa menampilkan hasil pekerjaannya di depan kelas,
  • modul Fisika berbasis SAVI pada materi Kalor dan Perpindahannya layak digunakan sebagai bahan ajar berdasarkan hasil uji coba lapangan utama diperoleh hasil 77% siswa menyatakan bahwa modul ini berada pada kriteria sangat baik keterbacaan modul dari aspek isi, media, dan bahasa,
  • kreativitas belajar siswa pada kelas X-B setelah menggunakan modul Fisika berbasis SAVI pada materi Kalor dan Perpindahannya mengalami peningkatan yang ditunjukkan dari angket dan observasi kreativitas belajar dengan nilai gain sebesar 0,40 dan 0,52. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa modul Fisika berbasis SAVI dapat meningkatkan kreativitas belajar siswa dengan kriteria gain ternormalisasi sedang.

 

Kata kunci: Modul, Pembelajaran Berbasis SAVI, Kreativitas Belajar.

 

12. Perbedaan Pengaruh Model Pembelajaran Jigsaw dan Make A Match terhadap Prestasi Belajar Sejarah Ditinjau dari Kreativitas Belajar Siswa Kelas XI SMA Negeri di Kabupaten Sambas Tahun 2015/2016

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan ;

  • perbedaan pengaruh antara model pembelajaran Jigsaw dan model pembelajaran Make a Match terhadap prestasi belajar Sejarah.
  • perbedaan pengaruh antara kreativitas belaja tinggi dan kreativitas belajar rendah terhadap prestasi belajar Sejarah.
  • interaksi pengaruh antara model pembelajaran dan kreativitas belajar terhadap prestasi belajar Sejarah.

 

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan eksperimen dengan rancangan factorial 2 x 2. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa Kelas XI SMA Negeri Kabupaten Sambas Propinsi Kalimantan Barat tahun pelajaran 2015/2016. Tekhnik pengambilan sampel yang digunakan adalah tekhnik multi stage cluster random sampling. Dalam penelitian ini yang menjadi sampel penelitian adalah siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Sambas dengan jumlah 37 siswa dan SMA Negeri 2 Tebas denga jumlah 31 siswa. Tekhnik pengumpulan data menggunakan tekhnik tes dan angket. Tekhnik analisis data yang digunakan teknik Analisis Variansi (ANAVA) Dua Jalur. Sebelum dianalisis, dilakukan uji validitas dengan korelasi Product Moment, realibilitas menggunakan Alpha Cronbach dan KR 20, uji normalitas dan uji homogenitas.

 

Hasil uji hipotesis menunjukkan :

  • terdapat perbedaan pengaruh antara model pembelajaran Jigsaw dan model pembelajaran Make a Match terhadap prestasi belajar sejarah. Model pembelajaran Make a Match menghasilkan prestasi belajar sejarah yang lebih baik dibandingkan dengan model pembelajaran Jigsaw.
  • terdapat perbedaan pengaruh antara siswa yang memiliki kreativitas tinggi dan kreativitas rendah terhadap prestasi belajar sejarah. Siswa dengan kreativitas tinggi lebih baik prestasi belajar dibandingkan dengan kreativitas belajar rendah.
  • tidak ada interaksi pengaruh antara model pembelajaran dengan kreativitas belajar siswa terhadap prestasi belajar sejarah. Siswa yang diterapkan model pembelajaran tipe Make a Match, yang memiliki kreativitas belajar tinggi lebih baik prestasi belajarnya dibandingkan dengan siswa yang diterapkan model pembelajaran tipe Jigsaw yang memiliki kreativitas belajar tinggi. Sedangkan siswa yang diterapkan model pembelajaran tipe Make a Match kreativitas belajar rendah juga lebih baikdibandingkan siswa yang diterapkan model pembelajaran tipe Jigsaw kreativitas belajar rendah..

 

Kata kunci: Model pembelajaran, Jigsaw, Make a Macth, Kreativitas Belajar, Prestasi Belajar

 

 

13. Eksperimentasi Model Problem Based Learning, Think Aloud Pairs Problem Solving Dan Group Investigation dengan Pendekatan Saintifik Ditinjau dari Konsep Diri dan Kreativitas Belajar Siswa Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Kelas VIII SMP N Se-Kabupaten Sragen Tahun Pelajaran 2014-2015

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui :

  • manakah yang memberikan kemampuan pemecahan masalah matematika yang lebih baik, pembelajaran dengan model pembelajaran PBL dengan pendekatan saintifik (PBL-S), TAPPS dengan pendekatan saintifk (TAPPS-S), atau GI dengan pendekatan saintifik (GI-S),
  • manakah yang mempunyai kemampuan pemecahan masalah matematika lebih baik, siswa yang memiliki konsep diri positif atau negatif,
  • manakah yang mempunyai kemampuan pemecahan masalah matematika lebih baik, siswa yang memiliki kreativitas belajar tinggi, sedang, atau rendah,
  • pada masing-masing model pembelajaran, manakah yang mempunyai kemampuan pemecahan masalah matematika lebih baik, siswa yang memiliki konsep diri positif atau negatif,
  • pada masing-masing model pembelajaran, manakah yang mempunyai kemampuan pemecahan masalah matematika lebih baik, siswa yang memiliki tingkat kreativitas belajar tinggi, sedang, atau rendah,
  • pada siswa yang memiliki masing-masing tingkat konsep diri siswa, manakah yang mempunyai kemampuan pemecahan masalah matematika yang lebih baik, siswa yang mempunyai kreativitas belajar tinggi, sedang, atau rendah,
  • pada masing-masing model pembelajaran untuk masing-masing tingkat konsep diri siswa, manakah yang mempunyai kemampuan pemecahan masalah matematika yang lebih baik, siswa yang memiliki kreativitas belajar tinggi, sedang, atau rendah.

 

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental semu dengan desain faktorial 3×2×3. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP N Se-Kabupaten Sragen TP. 2014/2015. Teknik pengumpulan sampel menggunakan stratifed cluster random sampling dan diperoleh SMP N 1 Gemolong dari kategori tinggi, SMP N 1 Kalijambe dari kategori sedang, dan SMP N 1 Sumberlawang dari kategori rendah. Data yang dikumpulkan nilai UAS semester ganjil TP. 2014/2015 pada pelajaran matematika menggunakan metode dokumentasi, konsep diri dan kreativitas belajar siswa menggunakan metode angket dan kemampuan pemecahan masalah matematika menggunakan metode tes. Uji prasyarat analisis variansi (anava) terdiri dari uji normalitas menggunakan metode Lilliefors dan uji homogenitas variansi menggunakan uji Bartlett. Uji keseimbangan menggunakan

anava satu jalan dengan sel tak sama dan uji hipotesis menggunakan anava tiga jalan dengan sel tak sama pada taraf signifikansi 0.05.

 

Hasil Penelitian ini adalah :

  • pembelajaran yang menggunakan model PBL-S menghasilkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang sama dengan model TAPPS-S, serta keduanya menghasilkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang lebih baik daripada siswa dengan model GI-S,
  • siswa dengan kategori konsep diri positif menghasilkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang lebih baik daripada siswa dengan kategori konsep diri negatif
  • Siswa dengan kategori kreativitas belajar tinggi menghasilkan kemampuan pemecahan masalah matematika lebih baik daripada siswa dengan kategori kreativitas sedang dan rendah, Namun Siswa dengan kategori kreativitas belajar sedang dan rendah menghasilkan kemampuan pemecahan masalah matematika yang sama,
  • Pada masing-masing model pembelajaran siswa dengan kategori konsep diri positif dan negatif mempunyai kemampuan pemecahan masalah matematika yang sama,
  • pada siswa model PBL-S dan GI-S dengan kreativitas tinggi, sedang, rendah mempunyai kemampuan pemecahan masalah matematika yang sama, pada siswa model TAPPS-S adanya perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematika dengan kategori kreativitas tinggi dan rendah, sedangkan bila dilihat dari kreativitas tinggi untuk masing-masing model sama dan adanya perbedaan antara model PBL-S dan GI-S yang menghasilkan kemampuan pemecahan masalah matematika kreativitas tinggi, antara masing-masing model untuk siswa kreativitas sedang mempunyai kemampuan pemecahan masalah matematika yang sama serta antara masing-masing model untuk siswa kreativitas rendah mempunyai kemampuan pemecahan masalah matematika yang sama,
  • Siswa dengan konsep diri positif dengan kreativitas tinggi, sedang dan rendah mempunyai kemampuan pemecahan masalah matematika yang sama, serta Siswa dengan konsep diri negatif dengan kreativitas tinggi, sedang dan rendah mempunyai kemampuan pemecahan masalah matematika yang sama,
  • pada masing-masing model siswa yang memiliki kategori konsep diri positif dan negatif dengan kreativitas tinggi, sedang dan rendah mempunyai kemampuan pemecahan masalah matematika yang sama.

 

Kata kunci: PBL, TAPPS, GI, Pendekatan Saintifk, Konsep Diri Siswa, Kreativitas Belajar.

 

 

Incoming search terms:

Leave a Reply