HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com

Contoh Tesis Implementasi Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja Tahun 2020

CONTOH TESIS NO.1 HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN SIKAP SISWA TERHADAP PENDIDIKAN KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA DI SMAN 1 MARGAHAYU

Abstrak

Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa 80,67% siswa memiliki pengetahuan yang baik tentang pendidikan kesehatan reproduksi remaja sedangkan 55% siswa memiliki sikap positif (unfavorable). Dengan taraf signifikansi ? = 5% diperoleh t hitung (3,616 ) > dari t tabel (1,968), sehingga dapat disimpulkan terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan sikap siswa terhadap pendidikan kesehatan reproduksi remaja dengan keeratan hubungan rendah tapi pasti. Saran dari penelitian ini diharapkan sekolah, puskesmas, dan lintas sektoral yang berkaitan mampu meningkatkan pelaksanaan pendidikan kesehatan reproduksi menjadi agenda bulanan yang rutin dilaksanakan ke sekolah-sekolah. Pokok materi utama yang harus lebih ditingkatkan adalah hal-hal yang berhubungan dengan HIV/AIDS.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

Terjadinya penyimpangan perilaku seksual terjadi karena minimnya pengetahuan dan bimbingan tentang kesehatan reproduksi remaja. Pendidikan kesehatan reproduksi menjadi sebuah sarana yang tepat sebagai upaya promotif dan preventif dalam peningkatan pengetahuan dan sikap terhadap pembentukan moral remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan pengetahuan dengan sikap siswa terhadap pendidikan kesehatan reproduksi remaja di SMAN 1 Margahayu.

 

Teknik Analisis

Jenis penelitian kuantitatif menggunakan metode korelasi. Sedangkan pengambilan sampel menggunakan stratified random sampling sehingga didapat sampel sebanyak 300 siswa yang tersebar dari kelas VII-IX. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan diolah serta dianalisa menggunakan uji statistik Rank Spearman

 

CONTOH TESIS NO.2 PENDIDIKAN KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA DI SMPN 52 SURABAYA

Abstrak

Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi penyampaian materi kesehatan reproduksi remaja di SMPN 52 Surabaya. Pemahaman guru mengenai materi KRR yang semakin baik dapat meningkatkan kualitas penyampaian materi pada siswa. Pendidikan KRR bukan hanya menjadi tanggung jawab sekolah, namun perlu mendapatkan dukungan dari keluarga, masyarakat hingga pemeritah. Pemerintah perlu memberikan pelatihan pada guru terkait pendidikan KRR. Keluarga perlu memberikan pendidikan KRR di rumah, sedangkan masyarakat perlu memberikan pengawasan pada remaja di lingkungannya.

 

BAB I

Remaja mengalami perkembangan fisik, psikologis dan intelektual yang pesat. Remaja cenderung menyukai tantangan tanpa pertimbangan yang matang. Hal tersebut menimbulkan berbagai permasalahan pada remaja, khususnya permasalahan kesehatan reproduksi. Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) oleh guru merupakan suatu upaya untuk mengatasi masalah kesehatan reproduksi siswa.

 

Teknik Analisis

Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus observasional dengan pendekatan kualitatif. Informan dalam penelitian ini terdiri dari guru dan siswa. Pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan studi dokumen. Penelitian ini mengungkapkan bahwa sebagian besar informan guru kurang memahami KRR komprehensif. Informan guru menyatakan bahwa pendidikan KRR adalah tanggung jawab orang tua, sekolah, masyarakat dan pemeritah. Informan guru menyampaikan materi KRR dengan berbagai metode. Saat menyampaikan materi KRR yang sensitif, guru memisahkan siswa laki-laki dan perempuan. Metode tersebut dapat meningkatkan keaktifan siswa untuk tanya-jawab dengan guru.

 

CONTOH TESIS NO.3 KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA

Abstrak

Masa remaja (usia 11 – 20 tahun) adalah masa yang khusus dan penting, karena merupakan periode pematangan organ reproduksi manusia. Masa remaja disebut juga masa pubertas, merupakan masa transisi yang unik ditandai dengan berbagai perubahan fisik, emosi dan psikis. Remaja berada dalam situasi yang sangat peka terhadap pengaruh nilai baru, terutama bagi mereka yang tidak mempunyai daya tangkal. Mereka cenderung lebih mudah melakukan penyesuaian dengan arus globalisasi dan arus informasi yang bebas yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan perilaku menyimpang karena adaptasi terhadap nilainilai yang datang dari luar. Masalah yang paling menonjol dilakangan remaja saat ini, misalnya masalah seksualitas, sehingga hamil di luar nikah dan melakukan aborsi. Kemudian rentan terinfeksi penyakit menular seksual (IMS), HIV dan AIDS serta penyalahgunaan Narkoba. Adanya motivasi dan pengetahuan yang memadai untuk menjalani masa remaja secara sehat, diharapkan remaja mampu untuk memelihara kesehatan dirinya sehingga mampu memasuki masa kehidupan berkeluarga dengan reproduksi sehat.

 

BAB I

Masa remaja merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa, yang dimulai pada saat terjadinya kematangan seksual. Remaja tidak mempunyai tempat yang jelas, yaitu bahwa mereka tidak termasuk golongan anak-anak tetapi tidak juga termasuk golongan dewasa. Perkembangan biologis dan psikologis remaja dipengaruhi oleh perkembangan lingkungan dan sosial. Oleh karena itu remaja akan berjuang untuk melepaskan ketergantungannya kepada orang tua dan berusaha mencapai kemandirian sehingga mereka dapat diterima dan diakui sebagai orang dewasa.

 

Teknik Analisis

Penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif

 

CONTOH TESIS NO.4 Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja (PKRR) Dalam Kurikulum SMA Dan Pengetahuan & Sikap Kesehatan Reproduksi Siswa

Abstrak

Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari setengah (54%) dari siswa perempuan dan 49% siswa laki-laki memiliki pengetahuan baik tentang KRR. Skor rata-rata pengetahuan KRR siswa terbukti secara statistik berbeda antara kurikulum; intra-kurikulum dan extra-kurikulum, intrakurikulum dan lebih-dari-1jenis-kurikulum. Sikap terhadap permisifitas seksual ditemukan cukup permisif pada siswa laki-laki (86%) dan siswa perempuan (70%). Faktor yang signifikan berpengaruh terhadap sikap permisifitas seksual adalah jenis kelamin, tingkat pendidikan ayah. Persepsi siswa terhadap PKRR dalam kurikulum sekolah menyatakan bahwa intra-kurikulum lebih mendukung PKRR dibandingkan kurikulum yang lain, temuan ini menunjukkan bahwa meningkatkan pendidikan KRR dengan mengintergrasikannya ke dalam intra-kurikulum adalah strategi yang baik untuk pendidikan kesehatan reproduksi remaja (PKRR) di sekolah.

 

BAB I

Secara menyeluruh di dunia telah terbukti bahwa pendidikan di Sekolah memainkan peranan penting dalam memperbaiki kesalahpahaman pengetahuan di kalangan remaja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan pengetahuan dan sikap siswa terkait kesehatan reproduksi remaja (KRR) dan pendidikan KRR dalam kurikulum di Sekolah.

 

Teknik Analisis

Penelitian ini adalah penelitian crosss-sectional menggunakan self-administered questionnaire. Mutistage design sampling digunakan untuk mendapatkan 253 siswa dari 3 SMA di Semarang.

 

CONTOH TESIS NO.5 PENGARUH PEMBERIAN PENDIDIKAN KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA TERHADAP PENGETAHUAN TENTANG PERILAKU SEKSUAL

Abstrak

Hasil survei pendahuluan tentang perilaku seksual di Desa Cepogo, Jepara menunjukkan bahwa 26,6% remaja berpengetahuan baik, 26,6% remaja berpengetahuan baik berpengetahuan luas, dan 46,6% berpengetahuan kurang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan reproduksi remaja terhadap pengetahuan remaja tentang perilaku seksual di Cepogo desa, Jepara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pendidikan kesehatan reproduksi remaja terhadap pengetahuan tentang seksual perilaku yang ditunjukkan dengan t hitung (8,037) lebih besar dari t tabel 1,668. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Ada pengaruh pendidikan kesehatan reproduksi remaja terhadap pengetahuan seksual remaja perilaku di Cepogo

 

BAB I

Remaja mengalami perubahan emosi dan fisik seiring dengan pertumbuhan dan perkembangannya. Selanjutnya remaja membutuhkan informasi agar dapat beradaptasi dengan perubahan tersebut. Sebagai akibat dari kekurangan informasi tentang segala sesuatu yang terjadi memungkinkan remaja terjerumus ke dalam hal-hal yang merugikan dirinya sendiri, orang lain orang, dan keluarganya.

 

Teknik Analisis

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasy eksperimental yang berusaha menemukan kausal hubungan dengan cara yang melibatkan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Adapun teknik pengambilan sampelnya adalah pengambilan sampel multistage. Penelitian ini menggunakan analisis uji-t untuk mengetahui pengaruh remaja pendidikan kesehatan reproduksi terhadap pengetahuan remaja tentang perilaku seksual.

 

CONTOH TESIS NO.6 Efektivitas Pendidikan Kesehatan Reproduksi Terhadap Peningkatan Pengetahuan Remaja di SMK Islam Wijaya Kusuma Jakarta Selatan

Abstrak

Hasil analisis pengetahuan kesehatan reproduksi remaja menunjukan ada keefektifan pemberian pendidikan kesehatan reproduksi tentang seks bebas terhadap peningkatan pengetahuan kesehatan reproduksi remaja kelas 2 di SMK Islam Wijaya Kusuma Jakarta Selatan. Pemberian pendidikan kesehatan tentang seks bebas memiliki keefektifan dalam meningkatkan pengetahuan kesehatan remaja kelas 2 di SMK Islam Wijaya Kusuma Jakarta Selatan. Pendidikan kesehatan perlu diberikan kepada remaja untuk menghindari masalah kesehatan reproduksi remaja khususnya tentang seks bebas.

BAB I

Pendidikan kesehatan merupakan salah satu upaya untuk menanggulangi masalah-masalah kesehatan reproduksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pendidikan kesehatan tentang seks bebas terhadap peningkatan pengetahua remaja.

 

Teknik Analisis

Metode penelitian yang digunakan dalah One Group Pre test-Post test. Sampel diambil dengan menggunakan teknik total sampel, yang berjumlah 160 siswa. Penelitian ini menggunakan alat peraga sebagai pengganti objek nyata guna agar responden lebih mengerti dan memahami dari pesan yang di sampaikan peneliti. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Uji statistik yang digunakan adalah uji paired sample T-Test (uji t berpasangan).

 

CONTOH TESIS NO.7 PENGARUH PENYAMPAIAN PENDIDIKAN KESEHATAN REPRODUKSI OLEH KELOMPOK SEBAYA (PEER GROUP) TERHADAP PENGETAHUAN KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA DI SMP NEGERI 2 KASIHAN BANTUL YOGYAKARTA

Abstrak

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penyampaian pendidikan kesehatan reproduksi oleh peer group terhadap pengetahuan kesehatan reproduksi remaja di SMP Negeri 2 Kasihan Bantul Yogyakarta.

Hasil: Hasil analisa pengetahuan kesehatan reproduksi remaja menunjukkan zhitung adalah -4,337 dengan p < 0,05 yang berarti bahwa ada pengaruh penyampaian pendidikan kesehatan reproduksi oleh kelompok sebaya terhadap pengetahuan kesehatan reproduksi remaja di SMP Negeri 2 Kasihan Bantul Yogyakarta.

Kesimpulan: Berdasarkan hal tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa penyampaian pendidikan kesehatan reproduksi oleh peer group sebanyak tiga kali pertemuan, dapat meningkatkan pengetahuan kesehatan reproduksi remaja di SMP Negeri 2 Kasihan Bantul Yogyakarta. Dengan mempertimbangkan hasil penelitian ini disarankan agar pendidikan kesehatan reproduksi perlu diberikan kepada remaja untuk menghindari remaja dari berbagai masalah kesehatan reproduksi remaja dan perlu diberdayakan peer group untuk dilatih menjadi peer educator dalam menyampaikan pendidikan kesehatan reproduksi remaja.

 

BAB I

Latar belakang: Hasil konferensi internasional tentang kependudukan dan pembangunan atau International Conference on Population (ICPD) di Kairo tahun  1994, dikatakan bahwa kesehatan reproduksi remaja perlu mendapatkan perhatian khusus secara global. Hal ini karena pada masa remaja muncul berbagai masalah kesehatan reproduksi akibat pengetahuan yang diperoleh remaja tentang kesehatan reproduksi masih minim. Saat ini, kebanyakan remaja memperoleh pengetahaun kesehatan reproduksi dari media cetak dan elektronik dimana sumber informasi tersebut belum tentu semuanya benar dan bermutu.

 

Teknik Analisis

Metode: Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah praeksperimen dengan rancangan One Group Pre test Post test Design untuk mengetahui peningkatan pengetahuan kesehatan reproduksi remaja setelah diberi pendidikan kesehatan reproduksi oleh peer group. Populasi adalah siswa-siswi SMP Negeri 2 Kasihan Bantul Yogyakarta, total sampel sebanyak 40 responden. Penelitian ini menggunakan peer sebagai mediator dalam penyampaian pendidikan kesehatan reproduksi kepada responden dan memberikan modul. Pengumpulan data menggunakan kuisioner. Uji statistik menggunakan uji Wilcoxon.

 

CONTOH TESIS NO.8 PERANAN PROGRAM PKPR (PELAYANAN KESEHATAN PEDULI REMAJA) TERHADAP KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA DI KECAMATAN BULELENG

Abstrak

Hasil penelitian menunjukkan bahwa:

  1. Peranan Puskesmas dalam program PKPR adalah sebagai ujung tombak pemberi pelayanan kesehatan di masyarakat termasuk remaja;
  2. Program PKPR yang dicanangkan Puskesmas Buleleng 1 sebagian besar sudah terlaksana dengan baik, namun masih terdapat 1 sasaran yang belum tercapai yaitu pembentukan konselor sebaya serta belum maksimalnya sosialisasi kepada remaja secara luas;
  3. PKPR dirasakan memiliki peranan yang sangat penting bagi remaja.

BAB I

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui:

  1. Peranan Puskesmas dalam Program Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR);
  2. Keterlaksanaan program PKPR terhadap kesehatan reproduksi remaja;
  3. Peranan program PKPR terhadap kesehatan reproduksi remaja.

Teknik Analisis

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan focus group discussion. Informan dipilih secara purposive sampling. Data dianalisis dengan menggunakan analisis interaktif model dari Miles dan Huberman terdiri dari empat tahap yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan/verifikasi.

                                                           

CONTOH TESIS NO.9 Pendidikan Kesehatan Reproduksi Formal dan Hubungan Seksual Pranikah Remaja Indonesia

Abstrak

Hasil analisis keberlangsungan berpantang melakukan hubungan seksual pranikah menunjukkan bahwa remaja yang tidak menerima atau hanya menerima salah satu dari materi pendidikan kesehatan reproduksi memiliki hazard ratio yang lebih besar (berturut-turut 1,55 ( CI= 1,32 – 1,82); 0,99 (CI=0,86 – 1,15) dan 2,26 (CI=1,43 – 3,56). Menerima informasi secara lengkap memberikan waktu berpantang yang lebih lama. Penyalahgunaan obat, merokok, minum alkohol, laki-laki, berusia 20 – 24 tahun dan miskin berpeluang lebih besar untuk melakukan hubungan seksual pranikah. Penerimaan informasi kesehatan reproduksi pada jenjang pendidikan formal dapat menunda terjadinya hubungan seksual pranikah.

BAB I

Transisi demografi kedua akan terjadi di Indonesia dan ditandai dengan revolusi seksual dan reproduksi. Masalah potensial di masa ini adalah peningkatan perilaku seksual pranikah, kehamilan yang tidak diinginkan, infeksi menular seksual dan penyalahgunaan obat. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pendidikan kesehatan reproduksi formal terhadap penundaan hubungan seksual pranikah pada remaja dan dewasa muda Indonesia.

Teknik Analisis

Penelitian potong lintang yang dianalisis sebagai kohort retrospektif menggunakan data Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia tahun 2012 (10.980 laki-laki dan 8.902 perempuan). Efek pendidikan kesehatan reproduksi formal terhadap penundaan perilaku hubungan seksual dianalisis menggunakan kurva kaplan meier, uji log-rank, dan uji chi square, sedangkan analisis multivariabel menggunakan regresi logistik. Semua tes menggunakan tingkat kepercayaan 95% dan nilai p = 0,05.

 

CONTOH TESIS NO.10 PENGEMBANGAN BUKLET SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN KESEHATAN REPRODUKSI PADA REMAJA CACAT NETRA

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan booklet sebagai media pendidikan kesehatan reproduksi bagi remaja tunanetra. Bahan pokok yang digunakan dalam pembuatan booklet ini adalah 160 gram kertas HVS ukuran 11,5 X 12 inch2 untuk teks dan 0,15 cm plastik mika untuk gambar. Bentuk organ reproduksi manusia 3 dimensi diilustrasikan oleh dua hingga tiga gambar 2 dimensi dari perspektif yang berbeda. Teks dicetak menggunakan printer Braille dan gambar dibuat dari thermoform. Buklet terdiri dari 27 halaman dengan harga Rp. 48.000,00 biaya konstan dan biaya variabel Rp13.750,00. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa booklet dapat dikembangkan sebagai media edukasi kesehatan reproduksi pada remaja tunanetra. Sembako yang digunakan adalah 160 gram kertas HVS ukuran 11,5 X 12 inch2 dan plastik mika 0,15 mm.

BAB I

Pendidikan kesehatan reproduksi sangat penting bagi remaja tunanetra, karena remaja tunanetra secara fisiologis mengalami perkembangan normal sistem, fungsi, dan proses reproduksinya. Booklet dipilih sebagai media pendidikan kesehatan reproduksi bagi remaja tunanetra, karena merupakan media cetak yang mampu menampung teks dan gambar dalam jumlah besar, mengingat huruf Braille membutuhkan ruang 1½ – 2 kali lebih besar dibandingkan dengan huruf biasa.

Teknik Analisis

Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif di Resource Center IX DIY dan Yayasan Kesejahteraan Tuna Netra Islam (Yaketunis) Yogyakarta. Subjek penelitian ini adalah praktisi media cetak pendidikan bagi penyandang tunanetra, guru remaja tunanetra, dan remaja tunanetra. Instrumen penelitian ini meliputi pedoman wawancara mendalam, pedoman FGD (focus group discussion), dan cetak biru booklet. Pengembangan booklet meliputi penentuan tujuan â € “yaitu meningkatkan pengetahuan kesehatan reproduksi remaja-, menyusun materi buklet kesehatan reproduksi, dan menentukan bahan pokok pembuatan booklet.   

 

CONTOH TESIS NO.11 Analisis Praktik Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja Oleh Guru Bimbingan dan Konseling pada SMP yang Berbasis Agama di Kota Semarang

Abstrak                     

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan pendidikan KRR untuk konselor di SMP berbasis agama belum tersebar luas dan frekuensinya masih rendah. Semua informan sudah melakukan edukasi KRR namun belum terlaksana dengan baik. Materi, metode, frekuensi, dan peran konselor dalam pendidikan KRR belum mencukupi. Persepsi dan sikap mereka baik, serta menerima pendidikan KRR secara positif dan suppori bagi siswa SMP. Tidak semua SMP berbasis agama memiliki fasilitas pendidikan KRR seperti buku, CD, majalah, dan alat peraga tentang KRR. Sebagian besar kepala sekolah menengah pertama berbasis agama telah melakukan upaya yang mendukung program pendidikan KRR tetapi belum optimal. Apabila disarankan kepada dinas terkait seperti dinas kesehatan dan pendidikan, BKKBN berkoordinasi untuk meningkatkan keterampilan konselor dalam KRR, menyediakan perangkat pembelajaran KRR yang sesuai untuk sekolah menengah pertama berbasis agama, dan mengadvokasi kepala sekolah.

BAB I

Salah satu penyebab masalah kesehatan reproduksi pada siswa SMP adalah kurangnya informasi yang benar tentang balita KRR. Praktik pendidikan KRR dapat dipengaruhi oleh faktor budaya seperti norma agama. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan praktik pendidikan kesehatan reproduksi remaja yang dilakukan oleh konselor siswa (BK) sekolah menengah pertama berbasis agama di Semarang dan untuk menjelaskan faktor-faktor apa saja yang berperan dalam praktik tersebut.

Teknik Analisis

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam. Data dianalisis dengan menggunakan analisis isi.

 

CONTOH TESIS NO.12 PEMAHAMAN KESEHATAN REPRODUKSI BAGI PEREMPUAN: Sebuah Strategi Mencegah Berbagai Resiko Masalah Reproduksi Remaja

Abstrak

Tulisan ini mendeskripsikan tentang strategi penanganan kasus kekerasan seksual pada perempuan melalui pemahaman kesehatan reproduksi bagi perempuan. Kesehatan reproduksi merupakan suatu kondisi sehat pada semua sistem organ, fungsi, dan proses reproduksi. Islam memiliki sikap sangat hati-hati terhadap upaya mencapai kesehatan reproduksi. Pendidikan kesehatan reproduksi amat penting untuk dilakukan, mengingat masih banyak remaja tidak memiliki pengetahuan yang akurat mengenai kesehatan reproduksi. Pendidikan tersebut juga diperlukan agar remaja dapat menghindari perilaku seks yang beresiko, yang membahayakan kesehatan reproduksi dan seksualnya. Pemahaman terhadap kesehatan reroduksi bagi remaja juga berfungsi sebagai strategi untuk menghindari tindak kekerasan seksual pada remaja.

BAB I

Terdapat  kenaikan  yang  cukup  signifikan  pada  kasus aborsi  yang  di-lakukan  remaja  perempuan.  Kuntari  menyebutkan  bahwa  di  Indonesia angka  abortus  remaja  perempuan  mencapai  2-2,6  juta kasus  pertahunnya atau sekitar 43 kasus aborsi setiap 100 kehamilan usia muda antara 15-24 tahun.  Kasus  lain  berkaitan  dengan  problem  penyakit  menular  seksual lainnya adalah meningkatnya jumlah angka penderita dengan HIV/AIDS. Tahun 2012 sebanyak 26.483 kasus HIV/AIDS terjadi pada kelompok usia muda antar 20-29 tahun. Tahun 2013 terdapat 29.031 kasus HIV/AIDS ter-jadi pada keompok usia muda.

Teknik Analisis

Teknik Analisis dalam penelitian ini yaitu deskriptif kualitatif.

 

CONTOH TESIS NO.13 EFEKTIVITAS PENDIDIKAN KESEHATAN MELALUI E-FILE MULTIMEDIA MATERI KRR DAN TATAP MUKADI KELAS TERHADAP PENINGKATAN PENGETAHUAN KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA

Abstrak

Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas media E-file kesehatan reproduksi remaja sebagai metode pendidikan kesehatan dalam meningkatkan pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi.

Hasil: Rata-rata skor pendidikan kesehatan tentang kesehatan reproduksi dengan menggunakan file elektronik multimedia adalah 4,31 pada standar deviasi 1,32 sedangkan metode tatap muka di kelas adalah 2,5 dengan deviasi standar 1.39. Perbedaan rata-rata pada kedua metode adalah 1,8 pada 95% CI (1,19 – 2,42) dan p = 0,00 atau p <0,05.

Kesimpulan: Tidak ada perbedaan antara metode file elektronik multimedia dan metode tatap muka di meningkatkan pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi.

BAB I

Latar Belakang: Kesehatan reproduksi belum sepenuhnya dimasukkan ke dalam pendidikan kesehatan di sekolah formal sistem karena alokasi waktu dan guru yang terbatas. Karena media telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan remaja hidup lebih dari sekedar teman sebaya, oleh karena itu salah satu alternatif dalam mengedukasi remaja tentang kesehatan reproduksi adalah dengan menggunakan multimedia E-file ”Materi Informasi, Edukasi dan Komunikasi tentang Reproduksi Remaja Kesehatan”.

Teknik Analisis

Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan eksperimen semu. Sampel dipilih oleh purposive sampling. Sampel penelitian adalah 77 siswa SMP. Data dianalisis menggunakan uji t dengan penerapan regresi linier berganda untuk menguji perbedaan skor rata-rata pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi.

CONTOH TESIS NO.14 Pendidikan Kesehatan Reproduksi Bagi Remaja (Literatur Review)

Abstrak

Hasil kajian pustaka berupa potret pengetahuan pendidikan kesehatan seksual yang telah dilakukan oleh berbagai negara yaitu: Integration of Sexual Education in semua strata pendidikan, Konseling Pendidikan Seksual oleh Dokter Spesialis, Konseling Berbasis Sekolah didampingi oleh Orang Tua. Korelasi pendidikan seks di sekolah menurut guru yang ingin diterapkan di rumah dikaitkan dengan orang tua meskipun perlu adanya konsultasi rutin ke dokter spesialis seperti dokter, dokter anak dan dokter penyakit kelamin. Pendidikan seks tentang kesehatan reproduksi yang telah dilakukan di berbagai negara terbukti dapat mengurangi tiga masalah kesehatan reproduksi remaja

BAB I

Masalah remaja di dunia itu terkait dengan kesehatan dini, peredaran darah dini, penyakit kanker sulit, HIV / AIDS dan peningkatan IMS. Penulisan artikel ini untuk mengetahui dan mengkaji upaya dan program yang telah dilakukan oleh berbagai negara dalam memberikan informasi mengenai isu-isu yang berkaitan dengan ketiga isu kesehatan reproduksi remaja (Seksualitas, HIV / AIDS dan Narkoba).

Teknik Analisis

Metode yang digunakan dalam jurnal menggunakan EBSCO, Proquest, Sciencedirect, google scholar terbitan 2002 hingga 2018

 

CONTOH TESIS NO.15 Pengaruh Pendidikan Kesehatan Reproduksi oleh Kelompok Sebaya (Peer Group) terhadap Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Remaja di SMP Negeri 2 Kasihan Bantul Yogyakarta

Abstrak

Hasil analisis pengetahuan kesehatan reproduksi remaja menunjukkan z-hitung adalah – 4,337 dengan p < 0,05 yang berarti bahwa terdapat pengaruh pendidikan kesehatan reproduksi oleh kelompok sebaya terhadap remaja di SMP Negeri 2 Kasihan Bantul Yogyakarta. Berdasarkan hal tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa penyampaian pendidikan kesehatan reproduksi oleh kelompok sebaya, dapat meningkatkan pengetahuan kesehatan reproduksi remaja di SMP Negeri 2 Kasihan Bantul Yogyakarta.

BAB I

Hasil konferensi internasional tentang kependudukan dan pembangunan atau International Conference on Population (ICPD) di Kairo tahun 1994, dikatakan bahwa kesehatan reproduksi remaja perlu mendapatkan perhatian khusus secara global. Hal ini karena pada masa remaja muncul berbagai masalah kesehatan reproduksi akibat pengetahuan yang diperoleh remaja tentang hal tersebut masih minim. Saat ini, kebanyakan remaja memperoleh pengetahuan kesehatan reproduksi dari media cetak dan elektronik yang belum tentu benar dan bermutu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penyampaian pendidikan kesehatan reproduksi oleh kelompok sebaya terhadap pengetahuan kesehatan reproduksi remaja di SMP Negeri 2 Kasihan Bantul Yogyakarta.

Teknik Analisis

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pra eksperimen dengan rancangan One Group Pre test Post test Design untuk mengetahui peningkatan pengetahuan kesehatan reproduksi remaja setelah diberi pendidikan kesehatan reproduksi oleh kelompok sebaya. Populasi adalah siswa-siswi SMP Negeri 2 Kasihan Bantul Yogyakarta, total sampel sebanyak 40 responden. Penelitian ini menggunakan kelompok sebaya sebagai mediator dalam pendidikan kesehatan reproduksi kepada responden serta menggunakan. Pengumpulan data menggunakan kuisioner dan uji statistik uji Wilcoxon.

 

 

Leave a Reply

Open chat
Hallo ????

Ada yang bisa di bantu?