HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Batik di Atas Kain Kaca (Sebuah Eksprimen)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dahulu batik merupakan kain tradisi yang digunakan dalam upacara adat Jawa, tetapi sekarang banyak diminati oleh konsumen baik dalam negeri bahkan sebagai produk ekspor. Fungsi kegunaan batik juga lebih berkembang, bukan hanya sekedar bahan pakai melainkan lebih sebagai unsur kebanggaan. Hasil produk batik juga lebih variatif, misalnya saja sarung, rok, selendang, kemeja, dasi, syal, sandal batik dan masih banyak lagi manfaat batik termasuk untuk kehidupan rumah tangga dan interior. Para pembatik tradisional biasanya memakai bahan mori sebagai kain untuk dibatik, kain ini dibuat dari benang kapas, permukaannya halus dan struktur tenunannya rapat. Terdapat berbagai jenis kain mori mulai dari tenunan yang paling halus sampai yang kasar, misal primissima, prima, mori biru dan kain blacu. Namun sesuai dengan perkembangan teknologi pertekstilan maka kini terdapat pula bahan dasar batik berupa kain wol dan sutera.

Seni batik sebenarnya sangat menarik untuk dikembangkan, terutama dari teknik dasar batik yaitu adanya teknik tutup celup warna menggunakan malam untuk memperoleh ragam hias tertentu. Dari adanya teknik dasar dan minat masyarakat terhadap batik, kita dapat mengolah dan memberikan variasi baru terhadap produk batik yang telah ada tanpa meninggalkan proses batik dalam mengembangkan produk baru. Pengembangan tersebut masih dapat dilakukan selama proses pembuatannya masih menggunakan malam ataupun titik-titik dari malam sebagai teknik tutup warna dalam pencelupannya. (Didik Riyanto, 1993, hal 6). Salah satu contoh pengembangan batik yang dapat kita ambil misalnya pengolahan ragam hias dan penggunaan warna yang lebih variatif atau mengolah batik Surakarta yang digabungkan dengan batik Pekalongan, bisa juga menggabungkan proses batik dengan penyempurnaan tekstil lain seperti tie-dye (jumputan), painting, air-brush dan lain sebagainya.

Dewasa ini para seniman batik Indonesia mengembangkan bahan dasar pembuatan batik yang tidak terbatas hanya pada kain mori saja, contohnya : lycra, kain kaos, tenunan dari serat-serat tumbuhan dan lain sebagainya. Batik bahan sintetis masih jarang dilakukan dalam pembatikan. Pembatikan pada kain sintetis harus memperhatikan daya rekat malam pada serat, sehingga mudah dalam pelorodannya serta untuk pewarnaannya harus melalui reaksi panas untuk mendapatkan hasil warna yang bagus dan kuat. Sistem ikatan warna pada kain sintetis adalah ikatan unsur padat dalam padat, sehingga serat yang akan digunakan harus dibuka kerapatannya agar memudahkan zat warnanya masuk ke dalam serat. ( Sri Endah, wawancara, 2004).

Pendapat tersebut, tentunya akan sulit, bila menggabungkan proses batik menggunakan teknik malam panas dengan reaksi pewarnaan panas, karena akan mengakibatkan malam leleh sebelum zat warna masuk ke dalam kain. Sehingga diperlukan penganalisaan daya serap kain terhadap warna dan pemilihan zat warna harus benar-benar sesuai untuk mendapatkan hasil yang maksimal.  Kain sintetis sekarang banyak diproduksi dalam berbagai jenis, yang dirancang untuk menyerupai kain dari serat alam. Secara fisik mendekati sama, namun kekuatan untuk menyerap zat warna berbeda. Salah satu contoh kain sintetis yang banyak dijual adalah kain kaca, kain ini memiliki struktur tenunan yang renggang, berkilau, tipis dan banyak diminati untuk busana wanita. Berdasarkan latar belakang inilah penulis mengadakan penelitian percobaan proses batik di atas kain kaca sebagai suatu langkah untuk memberikan alternatif pilihan lain berbusana bagi wanita.

Leave a Reply