HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Analisis Likuiditas Saham Sebelum dan Sesudah Stock Split di BEJ

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Informasi merupakan kebutuhan yang mendasar bagi para investor dalam pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan ini berkaitan dengan pemilihan portofolio investasi yang paling menguntungkan dengan tingkat resiko tertentu. Informasi dapat mengurangi ketidakpastian yang terjadi, sehingga keputusan yang diambil diharapkan akan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Krisis ekonomi yang melanda Indonesia dewasa ini membuat kinerja saham-saham di lantai bursa mengalami penurunan yang sangat tajam. Kondisi penurunan harga saham di bursa tentunya tidak lepas dari kondisi fundamental perusahaan-perusahaan yang bersangkutan. Oleh karena itu, dalam melakukan penanggulangannya ada bermacam-macam alternatif, seperti Rescheduling, Reconditioning (hair cut), atau Restructuring. Dalam pasar modal, banyak sekali informasi yang dapat diperoleh investor baik  informasi yang tersedia di publik maupun informasi pribadi (privat). Salah satu informasi yang ada adalah pengumuman stock split atau pemecahan saham. Informasi ini dapat memiliki makna atau nilai jika keberadaan informasi tersebut menyebabkan investor melakukan transaksi di pasar modal, yang akan tercermin dalam perubahan harga saham, volume perdagangan, volatilitas harga saham dan indikator atau karaktreristik pasar lainnya.

Berdasarkan Undang-Undang pasar modal ada beberapa cara yang dapat dilakukan emiten untuk meningkatkan kinerja saham mereka yaitu stock split, right issue, atau hak memesan efek terlebih dahulu ( HMTD ). Langkah-langkah ini merupakan suatu kreatifitas untuk meningkatkan kinerja saham di lantai bursa. Stock split adalah suatu aktifitas yang dilakukan oleh perusahaan go-public untuk menaikkan jumlah saham yang beredar ( Brigham dan Gapenski, 1992:506). Aktivitas tersebut biasanya dilakukan pada saat harga dinilai terlalu tinggi sehingga akan mengurangi kemampuan investor untuk membelinya. Dalam hal ini, pemecahan saham mempunyai nilai bagus di pasar dan memperluas distribusi kepemilikan saham, publik dan secara psikologis mampu menaikkan nilai saham. Sebagian besar perusahaan dapat mendistribusikan laba kepada pemegang saham dalam bentuk cash dividends. Selain itu perusahaan juga dapat mendistribusikan tambahan saham dalam bentuk stock dividends dan stock split (split-up) kepada investor tanpa adanya pembayaran terhadap perolehan saham.

Distribusi saham tersebut semata-mata memiliki perubahan yang bersifat “kosmetik” yakni hanya membagi corporate pie dalam jumlah yang lebih kecil (Baker dan Powell, 1993, seperti dikutip di Wang Sutrisno, 2000). Hal ini disebabkan karena stock split tidak berpengaruh pada arus kas perusahaan di masa yang akan datang serta proporsi kepemilikan investor. Dengan demiklan perusahaan tidak dapat mempengaruhi nilai pasar dan tingkat kesejahteraan investor. Bertitik tolak dari pandangan tersebut, beberapa hasil penelitian menunjukkan adanya efek lain akibat stock split atau split-up (selanjutnya diistilahkan split). Beberapa pandangan yang kontroversi mengenai split dapat mempengaruhi kesejahteraan/keuntungan pemegang saham (Fama dkk, 1969; Grinblatt dkk, 1984; Asquith dkk, 1989), perubahan resiko saham (Yosef dan Brown, 1977; Ohlson dan Pen man, 1985; Lamoureux dan Poon, 1987; Brennan dan Copeland, 1988), tingkat likuiditas (Copeland, 1979; Conroy dkk, 1990; Lamoureux dan Poon, 1987; Conroy dkk, 1990), dan sinyal yang diberikan kepada pasar (Grinblatt dkk, 1984; Lakonishok dan Lev, 1987; Brennan dan Copeland, 1988), dalam Sri Fatmawati dan Marwan Asri (1999;94), dan Wang Sutrisno (2000)

Berdasarkan beberapa penelitian, likuiditas saham merupakan ukuran jumlah transaksi suatu saham di pasar modal dalam suatu periode tertentu. Jadi semakin likuid saham maka frekuensi transaksi semakin tinggi. Hal tersebut menunjukkan minat investor untuk memiliki saham tersebut juga tinggi. Minat yang tinggi dimungkinkan karena saham yang likuiditasnya tinggi memberikan kemungkinan lebih tinggi untuk mendapatkan return dibandingkan saham yang likuiditasnya rendah, sehingga tingkat likuiditas saham biasanya akan mempengaruhi harga saham. Jadi suatu saham dikatakan likuid jika saham tersebut tidak mengalami kesulitan dalam membeli atau menjualnya kembali. Pada kenyataannya tidak semua saham mudah ditransaksikan atau dengan kata lain mengalami kesulitan likuiditas. Saham yang tidak likuid dapat dikenakan delisting atau dikeluarkan dari Bursa Efek. Conroy et.al (1990) (Wang Sutrisno, 2000) parameter yang sering digunakan untuk mengukur likuiditas suatu saham adalah volume perdagangan, harga saham, volatilitas harga saham, tingkat spread, information flow, jumlah pemegang saham, jumlah saham yang beredar, dan besarnya biaya transaksi.

Berdasarkan uraian di atas maka penulis berusaha untuk mengkaji kembali mengenal analisis likuiditas saham sebelum dan sesudah stock split. Parameter likuiditas saham yang akan digunakan penulis adalah rata-rata harga saham dan rata-rata volume perdagangan kemudian menterjemahkannya ke dalam, skripsi yang berjudul “Analisis Likuiditas Saham Sebelum dan Sesudah Stock Split di Bursa Efek Jakarta ( Periode 2003 – 2005 )”.

Untuk mendapatkan daftar lengkap contoh skripsi akuntansi lengkap / tesis akuntansi lengkap, dalam format PDF, Ms Word, dan Hardcopy, silahkan memilih salah satu link yang tersedia berikut :

Contoh Tesis

Contoh Skripsi

Incoming search terms:

Leave a Reply