HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Analisis Efisiensi Teknis Perusahaan Daerah

Analisis Efisiensi Teknis Perusahaan Daerah Bpr/Bkk Di Provinsi Jawa Tengah

 

analisis teknik perusahaan daerah Analisis Efisiensi Teknis Perusahaan Daerah

 A. Latar Belakang

Krisis ekonomi global yang bersumber dari Amerika Serikat sedikit banyak telah mengganggu operasional BPR. Namun, tidak semua BPR terpukul krisis. Krisis ekonomi dunia yang dimulai sekitar akhir 2008, yang dipicu oleh kasus subprime mortgage di Amerika Serikat, berimbas juga ke Indonesia. Akibat krisis ekonomi dunia tersebut, kinerja perekonomian Indonesia menurun. Salah satu sektor yang terkena dampak krisis adalah sektor perbankan, karena krisis tersebut dua bank umum dan satu bank perkreditan rakyat (BPR) dicabut izin usahanya oleh Bank Indonesia (BI). Dicabutnya izin BPR tersebut menjadi pukulan berat bagi BPR-BPR di Indonesia. Masyarakat pun menjadi ragu menyimpan uangnya di BPR. Namun, saat ini, seiring dengan pembenahan intern yang dilakukan BPR dalam mengatasi krisis ekonomi, masyarakat mulai percaya lagi dengan BPR. Hal itu tercermin dari data BI. Berdasarkan  data  BI,  dana  pihak  ketiga  (DPK)  yang  dihimpun  BPR  per April  2009  sebesar  Rp 22,19  triliun, lebih  besar  dibandingkan  dengan posisi sampai dengan akhir April 2008 yaitu  Rp 20,25 triliun (Anonim, 2009a). Mengingat peran dan tugas yang diemban PD. BPR/ BKK tidaklah kecil dalam mendorong pembangunan daerah maka PD. BPR/ BKK juga harus dikelola dengan sungguh-sungguh. Pengelolaan yang baik akan menghasilkan kinerja yang efisien, yang pada akhirnya akan memberikan kontribusi positif terhadap kemajuan daerah.

Bertolak dari latar belakang yang telah dikemukakan, penelitian ini akan menganalisis kinerja PD. BPR/BKK di Jawa Tengah dari sisi efisiensi teknis dan meneliti faktor-faktor yang menyebabkan inefisiensi yang dapat menurunkan kinerja internal dalam perbankan. Penelitian ini mengadopsi pendekatan yang digunakan Ferdyana dengan penambahan variabel input beban operasional lainnya dan variabel output pendapatan operasional lainnya baik pada tahap produksi maupun pada tahap intermediasi. Dengan asumsi kedua variabel tersebut secara operasional juga berpengaruh pada pencapaian tingkat efisiensi perbankan.

 B. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah, perumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut :

  1. Bagaimanakah kinerja Perusahaan Daerah BPR/BKK di Provinsi Jawa Tengah dilihat dari tingkat efisiensi teknis?
  2. Apakah terdapat perbedaan tingkat efisiensi teknis antara Perusahaan Daerah BPR/BKK di Kabupaten dengan Perusahaan Daerah BPR/BKK di Kota Provinsi Jawa Tengah?

 

 

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan uraian latar belakang dan perumusan masalah, tujuan  penelitian ini sebagai berikut :

  1. Mengetahui kinerja Perusahaan Daerah BPR/BKK di Provinsi Jawa Tengah dari tingkat efisiensi teknis.
  2. Mengetahui apakah terdapat perbedaan tingkat efisiensi teknis antara Perusahaan Daerah BPR/BKK di Kabupaten dengan Perusahaan Daerah BPR/BKK di Kota Provinsi Jawa Tengah.

D. Kesimpulan

  1. Tingkat efisiensi PD. BPR/BKK di Jawa Tengah dalam fungsi produksi dan intermediasi belum mencapai efisiensi 100% ( rata-rata sebesar 97,56 % dan 96,99%). Tingkat efisiensi untuk BPR/BKK Kabupaten juga belum mencapai 100%, pada fungsi produksi sebesar 97,06% dan pada fungsi intermediasi sebesar 96,37%. Sedangkan untuk BPR/BKK Kota semuanya sudah mencapai efisiensi 100%.
  2. Hasil penelitian menunjukkan kinerja PD. BPR/BKK dalam fungsi produksi (menyerap dana dari masyarakat) secara keseluruhan terlihat lebih efisien dibandingkan kinerjanya dalam fungsi intermediasi (menyalurkan dana ke masyarakat).
  3. Secara keseluruhan lebih dari 70% PD. BPR/BKK di Provinsi Jawa Tengah di tahun 2008 telah mencapai tingkat efisiensi 100%.
  4. Masih terdapat bank yang efisien dalam menyerap dana namun belum efisien dalam menyalurkannya sebaliknya juga masih terdapat bank yang sebetulnya sudah efisien dalam menyalurkan dana namum belum efisien dalam menyerap dana.
  5. BPR Talang dalam penelitian ini paling rendah dalam pencapaian efisiensi baik dalam fungsi produksi maupun fungsi intermediasi yaitu hanya mencapai 77,05%.
  6. Berdasarkan uji t yang dilakukan, untuk melihat perbedaan antara BPR kabupaten dengan kota, hasilnya untuk komparasi tingkat efisiensi tahap intermediasi nilai t hitung sebesar 1,2576 dengan probabilitas 0,2174 dan untuk tahap produksi nilai t hitung sebesar 1,1947 dengan probabilitas sebesar 0,2407. Perolehan P > 0,05 menandakan perbedaannya tidak signifikan. Berarti antara Kabupaten dan Kota tidak ada perbedaan tingkat efisiensi.

 

 

 

Leave a Reply