HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp), 0857.0.1111.632(IM3), email:IDTesis@gmail.com BBM:2B7D0DB6

Variasi Tindak Tutur dalam Kursus Panatacara Permadani Semarang

INTISARI

Kata kunci : Variasi Tindak Tutur, Kursus Panatacara, Permadani Semarang.

Kursus panatacara merupakan kegiatan yang diadakan dalam rangka melestarikan budaya Jawa. Kursus tersebut tidak hanya mempelajari bahasa Jawa tetapi kebudayaan Jawa yang harus tetap dijunjung tinggi. Dalam kegiatannya terjadi proses komunikasi antara individu satu dengan yang lain sehingga terjadi keragaman tuturan. Pada sebuah komunikasi terkandung maksud yang ingin disampaikan oleh seorang penuturnya. Maksud tuturan tersebut hanya dapat diidentifikasi melalui konteks tutur.

Masalah penelitian ini meliputi 1 tindak tutur apa sajakah yang digunakan dalam kursus Panatacara Permadani Semarang di lihat dari modus, kelangsungan, dan daya tutur 2 tindak tutur apa yang dominan digunakan dalam kursus Panatacara Permadani Semarang di lihat dari modus, kelangsungan, dan daya tutur. Berdasarkan masalah tersebut penelitian ini bertujuan 1 mendeskripsi tindak tutur dalam kursus Panatacara Permadani Semarang, 2 mendeskripsi tindak tutur yang dominan dalam kursus Panatacara Permadani Semarang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif. Data penelitian diambil saat pertemuan kursus Panatacara berlangsung berupa variasi tindak tutur yang digunakan oleh peserta dan pelatih kursus panatacara. Pengumpulan data menggunakan tehnik simak bebas libat cakap (SBLC), tehnik rekam, dan tehnik catat. Analisis data menggunakan identifikasi. Penyajian hasil data disajikan dengan metode informal.

Berdasarkan analisis data penelitian ditemukan 3 jenis tindak tutur berdasarkan daya tutur meliputi lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Tindak tutur lokusi ditemukan tindak tutur menyatakan sesuatu. Tindak tutur ilokusi ditemukan 8 jenis tindak tutur meliputi pengumuman, melaporkan, menyarankan, mengusulkan, bertanya, mengucapkan selamat, mendesak, dan berterima kasih. Tindak tutur perlokusi ditemukan 4 jenis tindak tutur meliputi menakut-nakuti, membujuk, membuat jengkel, dan melegakan. Tindak tutur berdasarkan modus tutur dalam kursus Panatacara Permadani Semarang ditemukan 5 jenis tindak tutur antara lain tindak tutur representatif, meliputi menyatakan, mengakui, menunjukkan, dan memberi kesaksian, tindak tutur direktif meliputi meminta, memohon, dan mendesak, tindak tutur komisif ditemukan tindak tutur menyatakan kesanggupan, tindak tutur ekspresif juga ditemukan tindak tutur mengucapkan selamat, tindak tutur deklarasi meliputi melarang dan memutuskan. Berdasarkan kelangsungan tutur ditemukan tindak tutur langsung harfiah dantidak langsung harfiah. Berdasarkan analisis data jenis tindak tutur pada kursus Panatacara Permadani Semarang menurut modus tuturnya, tindak tutur yang paling dominan adalah tindak tutur representatif. Berdasarkan daya tuturnya, tindak tutur yang paling dominan adalah tindak tutur ilokusi. Berdasarkan kelangsungan tutur , tindak tutur yang paling dominan adalah tuturan langsung harfiah. Saran supaya ada penelitian lanjutan untuk meneliti bahasa Jawa dengan kajian yang berbeda dari penelitian ini.

 

 

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Manusia hidup dengan bahasa. Dalam setiap langkah dan setiap hembusan nafasnya manusia senantiasa menggunakan bahasa dalam berbagai bentuk guna memenuhi kebutuhan dalam hidupnya. Bahasa dipergunakan pada waktu manusia berkomunikasi dengan manusia lain, pada waktu manusia ingin menyatakan perasaannya baik ketika dihadiri oleh orang lain maupun ketika sendirian. Manusia berfikir juga menggunakan bahasa, berangan-angan, bahkan bermimpipun manusia sering menggunakan bahasa. Di mana pun manusia berada dia tidak akan terlepas dari penggunaan bahasa. Bahasa merupakan salah satu tanda adanya kehidupan bermasyarakat bagi manusia, seperti halnya peraturan, kebiasaan dan lain sebagainya yang ada di dalam masyarakat manusia (Kartomiharjo 1988:1).

Suatu kenyataan bahwa bahasa wajar dimiliki oleh manusia. Dan kewajaran ini dianggap sebagai barang sehari-hari yang biasa saja, sehingga tidak perlu mendapat perhatian yang selayaknya sesuai dengan fungsinya di dalam masyarakat. Bahasa tidak perlu bagi kehidupan alam semesta ini, akan tetapi pastilah merupakan hal yang paling vital bagi kehidupan manusia (Samsuri 1983:3). Keraf (1994:4) menyimpulkan bahwa komunikasi merupakan akibat yang lebih jauh dari ekspresi diri. Sebagai alat komunikasi, bahasa merupakan saluran saluran perumusan maksud kita, melahirkan perasaan kita dan memungkinkan kita menciptakan kerja sama dengan sesama warga. Komunikasi mengatur aktifitas kemasyarakatan, merencanakan dan mengarahkan masa depan kita. Komunikasi juga memungkinkan manusia menganalisis masa lampaunya untuk memetik hasilhasil yang berguna bagi masa kini dan masa yang akan datang.

Dick (1994:20-21) menyimpulkan bahwa Komunikasi sebagai fungsi yang paling umum bagi pemakai bahasa. Bahasa bukan semata-mata terjadi melalui pemakai bahasa tetapi juga terdapat bentuk komunikasi non verbal. Bahasa juga sebagai sarana yang paling terperinci dan efektif untuk dapat berkomunikasi dengan orang lain. Agar terjadi komunikasi yang bermakna, pembicara dan pendengar perlu adanya pengenalan. Untuk itu dituntut untuk mengenal sistematika bahasa dan pemakaian bahasa yang digunakan oleh pembicara. Koentjaraningrat dalam Chaer (1990:12) mengatakan bahwa kebahasaan berada di bawah kebudayaan. Dengan kata lain bahasa merupakan salah satu unsur, subsistem dari unsur-unsur lain di dalam kebudayaan. Bahasa mempengaruhi kebudayaan dan cara berpikir sehingga ciri-ciri bahasa itu akan tercermin pada sikap dan budaya manusia penuturnya.

Banyak orang mempunyai kemampuan berbahasa, dalam kemampuan berbahasa itu kebanyakan budaya di dunia menambahkan di kalangan anggota-anggota tertentu suatu kesadaran terhadap bahasa ini mungkin pertama-tama dirangsang oleh hubungan dengan penutur bahasa asing, oleh keberadaan dan pengakuan terhadap pemisahan dialek dalam suatu masyarakat tutur, atau oleh suatu kecenderungan bawaan manusia yang tidak ingin tahu tentang dirinya sendiri dan dunia sekitarnya (Robins 1995:1).

Bahasa Jawa meupakan bahasa ibu yang telah diakui di Indonesia. Terbukti telah diresmikannya peringatan hari bahasa ibu internasional pada tangal 21 Februari. Setiap peringatan hari ibu bagi masyarakat yang menggunakan bahasa Jawa khususnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang menggunakan bahasa Jawa tersebut wajib untuk menggunakan bahasa Jawa. Saat ini keberadaan bahasa Jawa sepertinya sedang ‘sakit parah’ atau dalam bahasa kasarnya ‘sekarat’. Ibarat sebuah rumah sudah tidak lagi dicintai pemiliknya, rumah tersebut akan kotor karena sang pemilik selalu pergi sehingga tidak sempat lagi mengurus dan merawat apalagi berusaha mempercantik. Jika kondisi yang memprihatinkan ini dibiarkan terus-menerus, tidak mustahil beberapa tahun mendatang hal-hal berbau Jawa akan masuk musium karena tidak pernah digunakan dan terlalu indah untuk tidak diabadikan. Ibarat bangunan yang pada masanya sempat mengalami masa kejayaan harus roboh secara perlahan disebabkan tidak ada lagi yang mau merawat atau sekadar menjenguk. Untuk melestarikan bahasa terutama bahasa Jawa, Permadani adalah salah satu organisasi yang menampung untuk mempertahankan budaya Jawa terutama penggunaan bahasa Jawa.

Sebelumnya kita ketahui dahulu sejarah mengenai keberadaan Permadani. Permadani didirikan pada tanggal 4 Juli 1985 di kota Semarang. Pada saat berdirinya berbentuk yayasan serta melakukan aktifitasnya di Jawa Tengah. Sejalan terbitnya Undang-undang keormasan (UU No.5 TH.1985) PERMADANI menjadi organisasi sosial kemasyarakatan dan terus berkembang ke daerah-daerah di kabupaten atau kota serta kecamatan bahkan mulai berkembang di propinsi lain. Setelah berjalan 19 tahun, Permadani terus melangkah. Kehadirannya ternyata diterima oleh masyarakat luas serta mendapat dukungan dari para pejabat atau aparat pemerintah kabupaten atau kota hingga tingkat kecamatan. Sikap hidup bagi setiap warga PERMADANI menggunakan sesanti “Tri Nitiyogya” yaitu Hamemayu Hayuning Sasana “menciptakan suasana damai atau ketenangan lahir batin, serta saling menghormati antara sesama mahkluk ciptaan Tuhan”. Dados Juru Ladosing Bebrayan Ingkang Sae “dapat menjadi abdi masyarakat yang lebih baik, apapun status dan kedudukannya dimasyarakat”. Sadengah Pakaryanipun Sageda Tansah Angremenaken Tiyang Sanes “setiap langkah yang akan kita lakukan hendaknya dapat memberikan rasa senang bagi orang lain atau tidak suka merugikan orang lain”.

Dalam melaksanakan aktifitasnya untuk mencapai tujuan hidup yang harmonis antarsesama warga Permadani menggunakan cara yang disebut tri rukun yaitu Rukun Rasa “kesamaan persepsi, sikap, kehendak serta tujuan yang sama, bahwa budaya nasional harus tetap kokoh”, Rukun Bandha “menggunakan cara gotong royong dalam memikul beban bersama, atas dasar kemampuan masing-masing”. Rukun Bala “menggalang kebersamaan atau kesetiakawanan atas dasar ikatan tali persaudaraan”.

Kegiatan kursus panatacara yang dilaksanakan oleh organisasi Permadani sebagai kegiatan utama, di samping menghimpun kegiatan kesenian yang lain guna menumbuhkan motifasi masyarakat. Motifasi masyarakat tersebut untuk mengembangkan bakat yang mereka miliki sehingga bakat mereka bisa dikembangkan melalui kegiatan kursus panatacara yang diselenggarakan oleh Permadani. Permadani menyelenggarakan kursus yang diberi nama Pawiyatan Panatacara Tuwin Pamedar Sabda yaitu kursus protokol (MC) dan pidato berbahasa Jawa. Kursus tersebut diselenggarakan oleh Permadani kabupaten maupun kecamatan. Tujuan kursus tersebut, di samping mendidik para ahli di bidang MC bahasa Jawa maupun juru pidato, lebih dari itu adalah menanamkan sikap hidup yang baik, serta berbudi luhur dalam masyarakat, melalui penyampaian materi selama mengikuti kursus yang dilaksanakan selama 4 bulan. Jumlah siswa rata-rata diikuti antara 40-70 siswa setiap angkatan.

Untuk melestarikan bahasa Jawa sebagai budaya Jawa tersebut Permadani salah satunya organisasi yang memberikan suatu materi dalam bidang penggunaan bahasa Jawa. Dengan adanya bahasa tersebut sangat berpengaruh besar di dalam masyarakat. Hal ini berpengaruh kepada peserta tutur atau masyarakat kursus untuk bisa menggunakan bahasa Jawa yang sesuai dengan unggah-ungguh, juga dapat mengetahui tata urutan prosesi dalam kegiatan acara pernikahan yang dilaksanakan oleh masyarakat pada umumnya. Pada tuturan kursus panatacara penutur menggunakan bahasa Jawa yang ada hubungannya dengan penggunaan bahasa, terutama bahasa Jawa dalam kegiatan kursus maupun materi yang berbau budaya Jawa. Untuk menjelaskan materi yang disampaikan penutur menggunakan bahasa Jawa yang mudah dipahami oleh mitra tutur, dan untuk mengurangi kebosanan peserta kursus, pengajar menggunakan bahasa yang bervariasi seperti pada contoh berikut ini.

Tags: ,
Leave a Reply

Current day month ye@r *

Alamat :

Jl Veteran Gang Satria UH II / 1060 Muja-Muju Kecamatan Umbulharjo Yogyakarta (Belakang Pegadaian Syariah Jln Veteran)

HP AS : 0852.2588.7747 

HP IM3 : 0857.0.1111.632