HP CS Kami 0852.25.88.77.47(AS), 0857.0.1111.632(IM3), email:IDTesis@gmail.com

Perkara Perpindahan Perwalian dari Wali Nasab Kepada Wali Hakim Karena Wali Adhol (Studi Kasus di Pengadilan Agama Salatiga Tahun 2000-2005)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Manusia diciptakan Allah SWT dalam jenis yang berbeda namun berpasangan dengan maksud agar manusia dapat mengembangkan keturunan. Dalam Islam jalan yang sah untuk mengembangkan keturunan ialah melalui perkawinan. Firman Allah SWT:
15 2 Perkara Perpindahan Perwalian dari Wali Nasab Kepada Wali Hakim Karena Wali Adhol (Studi Kasus di Pengadilan Agama Salatiga Tahun 2000 2005)
(21
Artinya: “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istrimu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikannya diantara kamu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. Perkawinan merupakan suatu ikatan yang suci antara seorang pria dan wanita sebagaima yang disyariatkan oleh agama, dengan maksud dan tujuan yang luhur. Suatu perkawinan dimaksudkan untuk mewujudkan keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal yang diliputi perasaan cinta, kasih, dan kedamaian di antara masing-masing anggotanya, sebagaimana tercermin dalam undang-undang perkawinan sebagai berikut:
“Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Pada dasarnya, yang berkepentingan langsung dalam perkawinan adalah para calon suami istri, namun tidak boleh dilupakan bahwa perkawinan adalah masalah besar, masalah keturunan yang akan menyambung kehidupan dari suatu generasi ke generasi berikutnya. Oleh karena itu, perkawinan seharusnya tidak hanya dipandang sebagai masalah para pribadi yang mengalaminya, bukan masalah pribadi yang saling “cinta” satu sama lain tanpa menghiraukan hubungannya dengan keluarga, lebih-lebih orang tua masing-masing yang bersangkutan. Sahnya suatu perkawinan menandakan adanya suatu keadaan dimana perkawinan telah dilakukan dengan memenuhi syarat dan rukunnya berdasarkan hukum Islam.

Adapun orang-orang yang berhak menjadi wali nikah atas seorang calon mempelai wanita harus seorang laki-laki yang memenuhi syarat hukum agama, dan wali dalam hal ini ada tiga macam:  1.Wali Nasab
Wali nasab ialah orang yang berasal dari calon pengantin perempuan dan berhak menjadi wali. Dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 21 ayat 1 disebutkan bahwa wali nasab terdiri dari empat kelompok dalam urutan kedudukan, kelompok yang satu didahulukan dari kelompok yang lain sesuai erat tidaknya susunan kekerabatan dengan calon mempelai wanita.
a. Kelompok kerabat laki-laki garis lurus ke atas, yakni ayah, kakek dari pihak ayah dan seterusnya.
b. Kelompok kerabat saudara laki-laki kandung atau saudara laki-laki seayah, dan keturunan laki-laki mereka
c. Kelompok kerabat paman, yakni saudara laki-laki kandung ayah, saudara seayah dan keturunan laki-laki mereka.
d. Kelompok saudara laki-laki kandung kakek, saudara laki-laki seayah kakek, dan keturunan laki-laki mereka.
1. Wali Hakim
Wali hakim ialah orang yang diangkat oleh pemerintah atau lembaga mayarakat yang biasa disebut dengan Ahlul Halli wal Aqdi untuk menjadi qadhi dan diberi wewenang untuk bertindak sebagai wali dalam suatu perkawinan.
Perwalian nasab atau kerabat pindah kepada perwalian hakim, apabila:
a. Wali nasab tidak ada
b. Wali nasab bepergian jauh atau tidak di tempat, tetapi tidak memberi
kuasa kepada wali yang lebih dekat yang ada di tempat
c. Wali nasab kehilangan hak perwaliannya
d. Wali nasab sedang haji/umroh
e. Wali nasab menolak bertindak sebagai wali/’adhal
f. Wali nasab menjadi mempelai laki-laki dari perempuan dibawah perwaliannya.
2. Wali Muhakkam
Wali muhakkam adalah seorang yang diangkat oleh kedua calon suami istri untuk bertindak sebagai wali dalam akad nikah. Apabila suatu pernikahan yang semestinya dilaksanakan dengan wali hakim, tetapi di tempat tersebut tidak ada wali hakimnya, maka pernikahan dilangsungkan dengan wali muhakkam. Adapun yang akan penulis bicarakan disini adalah tentang pernikahan dengan menggunakan wali hakim karena wali nasab menolak untuk menjadi wali nikah calon mempelai wanita. Dewasa ini sering muncul permasalahan dimana orang tua mempelai tidak setuju dengan pernikahan anaknya, sehingga orang tua enggan untuk menikahkan calon mempelai. Dalam hal ini, wali yang menolak untuk menjadi wali nikah disebut Wali Adhol. Hanya dalam hal yang benar-benar dipandang tidak beralasan, orang tua tidak menyetujui perkawinan anaknya dan menolak menjadi wali, misalnya orang tua menolak atas pertimbangan materi, pangkat, dan sifat-sifat lahiriyah calon suami, bukan atas pertimbangan agama dan akhlak. Perwalian dapat dimintakan kepada sultan, kepala negara yang disebut juga hakim.

Melihat dari realita yang ada, penulis tertarik untuk mengkaji lebih jauh tentang perpindahan perwalian ini. Untuk itu penulis mengambil judul: “PERKARA PERPINDAHAN PERWALIAN DARI WALI NASAB KEPADA WALI HAKIM KARENA WALI ADHOL (Studi Kasus di Pengadilan Agama Salatiga Tahun 2000-2005)”.
B. Penegasan Istilah
Untuk memperoleh kejelasan mengenai judul diatas, penulis akan menegaskan sebagai berikut:
a. Pindah ialah gerakan beralih atau bertukar tempat.
b. Wali nasab adalah orang yang terdiri dari keluarga calon mempelai wanita.
c. Wali hakim adalah orang yang diangkat pemerintah atau oleh lembaga masyarakat yang biasa disebut dengan Ahlul Hall Wal Aqdi dan diberi wewenang untuk bertindak sebagai wali dalam pernikahan.
d. Wali Adhol adalah wali yang enggan atau menolak. Maksudnya seorang wali yang enggan atau menolak untuk menikahkan anaknya atau tidak mau menjadi wali dalam pernikahan anak perempuannya dengan seorang laki-laki yang sudah menjadi anaknya.

Incoming search terms:

Agar artikel ini bisa bermanfaat bagi orang banyak dalam komunitas anda… bantu saya untuk menginfomasikannya pada teman-teman anda di Facebook , Twitter, atau Email.

Jika Bermanfaat Berbagilah...

Leave a Reply

Current day month ye@r *

Email
Print