HP CS Kami 0852.25.88.77.47(AS), 0857.0.1111.632(IM3), email:IDTesis@gmail.com

Peningkatan Keterampilan Menyimak Berita dari Televisi dengan Metode Drill Melalui Media Audio Visual pada Peserta Didik Kelas VIII A SMP Negeri I Jiken Tahun Pelajaran 2006/2007

INTISARI

Kata kunci : Keterampilan menyimak berita, metode drill, dan media audio-visual.

Menyimak merupakan salah satu keterampilan berbahasa. Keterampilan menyimak pada dasarnya adalah keterampilan mendengarkan dengan penuh perhatian dan pemahaman untuk memperoleh suatu informasi yang disampaikan oleh orang lain melalui bahasa lisan. Keterampilan menyimak merupakan keterampilan yang sangat fungsional. Fungsionalnya kegiatan menyimak ini dapat terlihat pada kegiatan sehari-hari kita yang dihadapkan pada berbagai kesibukan menyimak. Tetapi berdasarkan hasil observasi pada peserta didik kelas VIII A SMP Negeri I Jiken, pembelajaran menyimak kurang mendapat perhatian guru bahasa secara khusus dan kemampuan menyimak peserta didik masih rendah, terutama menyimak berita. Alasan peserta didik memiliki kemampuan menyimak berita yang rendah salah satunya adalah metode pembelajaran menyimak berita yang monoton dan kurang menarik. Peserta didik hanya mendengarkan penjelasan-penjelasan dari guru. Guru belum menyertakan media dalam pembelajarannya dan kurang mendorong peserta didik untuk belajar aktif, sehingga pembelajaran menjadi monoton. Hal ini merupakan salah satu penyebab pembelajaran tidak maksimal, dan tujuan pembelajaran kurang berhasil. Oleh karena itu, masalah tersebut perlu diatasi dengan menggunakan metode drill dan penggunaan media audio-visual. Cara ini akan mendorong peserta didik untuk terampil menyimak berita, melatih peserta didik untuk belajar aktif, serta memadukan antara teori dan praktik. Metode dan media ini memungkinkan dapat membuat suasana pembelajaran yang menarik dan meningkatkan keterampilan menyimak berita peserta didik.

Berdasarkan paparan di atas, peneliti ini mengangkat permasalahan, yaitu bagaimanakah peningkatan keterampilan menyimak berita dari televisi dengan metode drill melalui media audio-visual pada peserta didik kelas VIII A SMP negeri I Jiken setelah mengikuti pembelajaran dengan metode drill dan penggunaan media audio-visual dan bagaimanakah perubahan perilaku belajar peserta didik kelas VIII A SMP Negeri I Jiken setelah dilakukan pembelajaran meyimak berita dari televisi dengan metode drill melalui media audio-visual. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peningkatan pembelajaran menyimak berita dari TV dengan metode drill melalui media audio-visual pada peserta didik kelas VIII A SMP negeri I Jiken dan mendeskripsikan perubahan perilaku belajar peserta didik kelas VIII A SMP Negeri I Jiken setelah pembelajaran menyimak berita dari televisi dengan metode drill melalui media audio- visual dilakukan. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan dua siklus yang dilaksanakan pada peserta didik kelas VIII A SMP Negeri I Jiken. Tiap-tiap siklus terdiri atas tahapan perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Pengambilan data dilakukan dengan tes dan nontes. Alat pengambilan data nontes yang digunakan berupa pedoman observasi, jurnal, pedoman wawancara, dan dokumentasi foto. Analisis data yang digunakan dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk menganalisis data kuantitatif yang berupa nilai peserta didik. Pendekatan kualitatif digunakan untuk menganalisis dan mendeskripsikan data yang diperoleh dari observasi, jurnal, wawancara, dan foto.

Berdasarkan analisis data penelitian keterampilan menyimak berita pada peserta didik kelas VIII A SMP Negeri I Jiken hasil nilai prasiklus, siklus I, dan siklus II mengalami peningkatan. Sebelum dilakukannya tindakan nilai rata-rata kelas menyimak berita sebesar 56,64 dengan kategori kurang. Pada siklus I terjadi peningkatan sebesar 3,12% dengan nilai rata-rata 59,85 dengan kategori kurang dan pada siklus II mengalami peningkatan sebesar 11,7% dengan nilai rata-rata 71,02 atau masuk pada kategori baik. Peningkatan nilai rata-rata kelas ini diikuti dengan peningkatan skor pada tiap aspek penilaian. Pada aspek unsur 5W + 1H , skor rata-rata pada prasiklus sebesar 30 dengan kategori cukup. Pada siklus I terjadi peningkatan sebesar 3,97% dengan nilai rata-rata 33,97 dengan kategori cukup dan pada siklus II mengalami peningkatan sebesar 6,68% dengan nilai rata-rata 40,65 atau masuk pada kategori baik. Rata-rata pada aspek kesesuaian isi kalimat dengan pokok-pokok berita pada prasiklus sebesar 9,60 atau masuk pada kategori sangat baik, pada siklus I sebesar 7,76 termasuk kategori baik, dan pada siklus II sebesar 9,93 yang termasuk dalam kategori sangat baik. Pada aspek jumlah kalimat, skor rata-rata pada prasiklus sebesar 9,81 dengan kategori sangat baik. Pada siklus I sebesar 8,85 dengan kategori sangat baik, dan pada siklus II sebesar 8,87 dengan kategoti sangat baik pula. Rata-rata skor pada aspek penyusunan kalimat hasil rata-rata prasiklus sebesar 1,21 dengan kategori sangat kurang, siklus I sebesar 2,49 masuk pada kategori kurang, dan pada siklus II sebesar 3,68 dengan kategori baik. Pada aspek penggunaan diksi (pilihan kata), skor rata-rata pada prasiklus 4,51 dengan kategori baik, siklus I sebesar 4,33 masuk pada kategori baik juga, dan hasil siklus II sebesar 4,60 termasuk pada kategori sangat baik. Dan skor rata-rata aspek penggunaan ejaan dan tanda baca pada prasiklus sebesar 1,51 dengan kategori sangat kurang, siklus I sebesar 2,46 dengan kategori kurang, dan siklus II sebesar 3,29 masuk pada kategori cukup. Peningkatan keterampilan menyimak berita pada peserta didik kelas VIII A SMP Negeri I Jiken ini diikuti dengan perubahan perilaku belajar yang positif dari perilaku belajar yang negatif sebelumnya pada siklus I dan siklus II ini peserta didik semakin aktif dalam pembelajaran, mereka mulai senang, tertarik, dan menikmatai pembelajaran menyimak berita dari televisi dengan metode drill melalui media audio-visual.

Saran yang disampaikan adalah 1) guru bahasa Indonesia sebaiknya menggunakan cara mengajar yang mampu mendorong peserta didik untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran bahasa Indonesia dapat tercapai, yaitu mempunyai kamampuan menyimak berita yang baik, dan 2) guru dapat menggunakan metode drill dan media audio-visual sebagai salah satu alternatif teknik pembelajaran menyimak berita.

 

 

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Masalah

“Bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia” (Keraf 2001:1). Dilihat dari pengertiannya, bahasa sangat diperlukan oleh masyarakat bahasa dalam kegiatan berbahasanya yaitu sebagai alat komunikasi. Kegiatan berbahasa yang berupa memahami bahasa yang dihasilkan orang lain melalui sarana lisan atau pendengaran merupakan kegiatan yang paling pertama yang dilakukan manusia. Keadaan itu sudah terlihat sejak manusia masih bernama bayi. Bayi manusia yang belum mampu menghasilkan bahasa, sudah akan terlihat dalam kegiatan mendengarkan dan usaha memahami bahasa orang-orang di sekitarnya. Dalam belajar bahasa asing pun kegiatan pertama yang dilakukan pelajar adalah menyimak bunyi-bunyi bahasa yang dipelajari, baik yang berupa ucapan langsung maupun melalui sarana rekaman.

Secara alami bahasa bersifat lisan dan terwujud dalam kegiatan berbicara dan memahami pembicaraan itu. Hal itu akan lebih nyata terlihat pada masyarakat bahasa yang belum mengenal sistem tulisan. Pada masyarakat bahasa modern pun dalam kehidupan sehari-harinya, kegiatan berbahasa secara lisan akan jauh lebih banyak daripada berbahasa tulis. Kenyataan itu dapat diartikan bahwa kemampuan berbahasa secara lisan lebih fungsional dalam kehidupan sehari-hari daripada kemampuan berbahasa secara tulis, dalam kaitan ini adalah kemampuan menyimak yang perlu diberi perhatian secara memadai.

Fungsionalnya kegiatan menyimak ini dapat terlihat dari kehidupan sehari-hari kita yang dihadapkan dengan berbagai kesibukan menyimak. Contohnya dalam dialog antar anggota keluarga, percakapan antara teman, aktivitas pendidikan di sekolah dan masih banyak lagi kegiatan lain yang melibatkan kegiatan menyimak. Selain itu, fungsionalnya kegiatan menyimak bagi kehidupan manusia karena kegiatan menyimak mempunyai peran yang sangat penting. Menurut Tarigan (1991:8), peran dari kegiatan menyimak tersebut adalah sebagai (1) landasan belajar berbahasa, (2) penunjang keterampilan berbicara, membaca, dan menulis, (3) pelancar komunikasi lisan, dan (4) penambah informasi.

Bukti yang menguatkan betapa pentingnya keterampilan menyimak tersebut adalah pendapat dari T. Rankin pada tahun 1926 yang menyatakan bahwa 42% waktu penggunaan bahasa tertuju pada menyimak. Pada tahun 1950 Miriam B. Wist melaporkan bahwa jumlah waktu yang digunakan oleh anak-anak untuk menyimak di kelas-kelas sekolah dasar kira-kira 1 1/2 sampai 2 jam sehari (Tarigan 1994:11).

Namun, dalam pelaksanaan pembelajaran bahasa di sekolah, khususnya bahasa Indonesia, pembelajaran dan tes menyimak kurang mendapat perhatian semua guru bahasa secara khusus. Para guru belum membelajarkan dan sekaligus menguji kemampuan menyimak peserta didik dalam suatu periode tertentu. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang telah dilakukan oleh penulis, diperoleh informasi dari pihak guru bahwa meskipun sudah menggunakan kurikulum KTSP namun dalam pelaksanaannya masih jauh dari sempurna.

Selain itu, minat belajar peserta didik yang masih kurang dan masih menggunakannya metode ceramah sehingga menyebabkan hasil belajar yang dicapai masih rendah dan sudah terbiasanya peserta didik dengan penggunaan metode ceramah. Dengan keadaan yan seperti itu menjadikan peserta didik sulit diajak untuk mengubah cara pembelajaran tersebut dengan metode yang baru. Contohnya, ketika guru mencoba menerapkan sistem diskusi pada pembelajaran menyimak dengan tujuan untuk mengaktifkan peserta didik dan peserta didik bebas berpendapat, namun kebanyakan dari mereka gaduh dengan teman diskusinya, sehingga pokok pembahasan keluar dari pokok pembahasan yang diberikan. Menghadapi situasi ini, akhirnya guru lebih memilih kembali kepada metode ceramah. Sebenarnya permasalahan ini dapat diatasi dengan kekreatifan seorang guru dalam menyiasati suatu permasalahan dalam pembelajaran dan pemahaman seorang guru tentang diri peserta didik dengan berbagai macam keunikannya dan karakteristiknya. Hendaknya guru dapat menciptakan suatu metode baru yang lebih ringan dan menyenangkan untuk pembentukan dan menanamkan jiwa aktif dan rasa percaya diri pada diri peserta didik.

Berdasarkan informasi di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran menyimak yang dilakukan di SMP Negeri I Jiken Kabupaten Blora pada peserta didik kelas VIII A, kurang mendapatkan perhatian dari pihak peserta didik maupun guru. Dengan kondisi seperti itu, maka pembelajaran menyimak cenderung diabaikan dan dinomorduakan dibandingkan dengan pembelajaran bahasa yang lain. Padahal dengan kegiatan menyimak seseorang dapat menyerap informasi penting yang didengarnya. Jadi dapat ditarik simpulan bahwa keterampilan menyimak merupakan keterampilan yang amat penting.

Meskipun keterampilan menyimak merupakan keterampilan yang amat penting, namun pada kenyataannya keterampilan tersebut belum dianggap keterampilan yang amat penting. Dengan kondisi yang seperti itu, maka seharusnya dalam pelaksanaan pembelajaran menyimak di sekolah, guru hendaknya menuntut peserta didik untuk menyimak secara ekstensif, dan kegiatan menyimak tidak lagi bersifat pasif sehingga pembelajaran menyimak di sekolah harus bersifat aktif-reseptif. Meskipun dengan kesadaran yang seperti itu, tetap saja dalam pembelajaran langsung tentang cara yang baik untuk menyimak masih terlupakan dan diabaikan karena:
1. pembelajaran menyimak khususnya menyimak berita di sekolah-sekolah pada umumnya kurang mendapat perhatian secara khusus.
2. pembelajaran menyimak secara umum di sekolah-sekolah cenderung diabaikan karena kebanyakan guru kurang memahami teori dan memiliki keterampilan dalam bidang menyimak, khususnya pembelajaran menyimak berita sehingga menyebabkan kurang pemahaman tentang konsep pembelajaran menyimak
3. pembelajaran memahami isi berita yang diberikan di kelas masih menggunakan sistem klasikal dan kembali menggunakan metode ceramah. Sehingga dengan jumlah peserta didik yang banyak yaitu 39 peserta didik setiap kelas, pembelajaran menyimak berita kurang bermakna dan kurang efektif.
4. guru juga kurang menekankan pada latihan-latihan untuk memahami suatu berita, melainkan lebih menekankan pada pengenalan-pengenalan istilah seperti menjelaskan pengertian berita dan aspek-aspek yang ada dalam berita. Terdapat satu hal lagi yang kurang diperhatikan guru demi keberhasilan pembelajarannya yaitu sistem pengelolaan kelas masih menggunakan cara klasikal sehingga terkesan monoton dan kurang menarik bagi peserta didik.

Keadaan tersebut di atas yang menyebabkan keterampilan menyimak peserta didik kelas VIII A masih sangat rendah. Untuk mengatasi permasalahan ini peneliti menggunakan metode drill melalui media audio-visual sehingga keterampilan menyimak peserta didik kelas VIII A dapat meningkat.

“Metode drill (latihan) adalah metode pembelajaran matematika yang lebih ditujukan agar siswa cepat dan cermat dalam menyelesaikan soal” (Suyitno 2004:6). Latihan yang praktis, mudah dilakukan, serta teratur melaksanakannya membina anak dalam meningkatkan penguasaan keterampilan itu, bahkan peserta didik dapat memiliki ketangkasan itu dengan sempurna. Hal ini menunjang peserta didik berprestasi dalam bidang tertentu, misalnya terampil dalam memahami segala informasi yang didengarnya dengan cepat, kaitannya dengan penelitian ini adalah mahir memahami isi berita yang telah didengarkan.

Faktor lain yang mendukung pembelajaran ini adalah penggunaan media pembelajaran, khususnya media audio-visual. Dengan penggunaan media pembelajaran, dapat mempertinggi proses belajar peserta didik dalam pembelajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang ingin dicapainya. Berbeda dengan cara pembelajaran yang masih menggunakan metode ceramah, informasi yang disampaikan hanya berupa kata-kata yang menyebabkan pengalaman yang diperoleh peserta didik hanya berupa pengalaman kata-kata yang cenderung membuat pelajaran atau informasi sukar ditangkap, kurang menarik, dan mudah dilupakan.

Tidak seperti pembelajaran yang diberikan dengan menggunakan media audio- visual, yang memberikan wujud nyata dalam suatu pembelajaran. Dengan pengalaman yang nyata maka sangat efektif untuk mendapatkan suatu pengertian dan pemahaman karena pengalaman nyata itu mengikutsertakan semua indera dan akal. Pengalaman nyata itu adalah cara yang wajar dan memuaskan dalam proses belajar. Kalau semua orang bisa mendapat pengalaman nyata dan mempunyai kecerdasan yang dapat menyerap pengertian yang menyeluruh dari segala segi tentang semua pengalaman itu, ia akan sanggup mengembangkan pengertian yang sebaik-baiknya tentang semua yang dialaminya itu. Penggunaan media juga dapat meningkatkan motivasi peserta didik dalam pembelajaran menyimak karena pembelajaran yang diberikan menarik sehingga peserta didik tertarik dalam mengikuti proses belajar mengajar dan pembelajaran menjadi lebih bermakna.


Agar artikel ini bisa bermanfaat bagi orang banyak dalam komunitas anda… bantu saya untuk menginfomasikannya pada teman-teman anda di Facebook , Twitter, atau Email.

Jika Bermanfaat Berbagilah...

Leave a Reply

Current day month ye@r *

Email
Print