HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp), 0857.0.1111.632(IM3), email:IDTesis@gmail.com BBM:2B7D0DB6

Peningkatan Keterampilan Menyampaikan Informasi dengan Teknik Information Gap pada Siswa Kelas VIII-D SMP Negeri 5 Semarang Tahun Ajaran 2005/2006

INTISARI

Kata kunci: keterampilan berbicara, menyampaikan informasi, pendekatan kontekstual, teknik information gap.

Berbicara merupakan keterampilan yang sangat penting karena di dalamnya mengandung informasi yang ingin disampaikan. Namun, pada proses pembelajaran masih sering terjadi misunderstanding informasi antara guru dengan siswa. Pembelajaran berbicara pun belum dilaksanakan dengan baik Berdasarkan hasil observasi, kelas VIII-D SMP Negeri 5 Semarang tahun ajaran 2005/2006 adalah kelas yang tingkat keterampilan berbicaranya paling rendah. Rumusan masalah penelitian ini yaitu bagaimana perubahan perilaku belajar siswa kelas VIII-D SMP Negeri 5 Semarang dalam menyampaikan informasi setelah diberikan tindakan pembelajaran dengan teknik information gap? Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsi perubahan perilaku belajar siswa kelas VIII-D SMP Negeri 5 Semarang dalam menyampaikan informasi setelah diberikan tindakan pembelajaran melalui teknik information gap.

Penelitian ini menerapkan teknik information gap dalam pembelajaran menyampaikan informasi. Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas yang terdiri atas 2 siklus, masing-masing terdiri atas 4 tahap yaitu: perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Sumber datanya adalah siswa kelas VIII-D SMP Negeri 5 Semarang tahun ajaran 2005/2006 sebanyak 46 siswa. Teknik yang diterapkan yaitu: siswa berlatih berbicara, guru menampilkan gambar dan menghadirkan narasumber, guru melakukan simulasi dan pemodelan, siswa bertanya kepada narasumber, dan siswa menyampaikan informasi.

Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan perilaku siswa yang positif. Tindakan yang dilakukan guru pada siklus I berupa pemberian simulasi dan pemodelan cara menyampaikan informasi dengan teknik information gap, memberi rumus 5W+H dalam menyampaikan informasi, memberi siswa kesempatan berlatih berbicara, dan memberi pilihan gambar dengan tema sama. Siswa memberi reaksi positif dengan cara menyampaikan informasi sesuai tindakan guru. Berdasarkan refleksi siklus I perlu adanya pengubahan tema.

Tindakan perbaikan yang dilakukan guru pada siklus II berupa: mengubah tema dengan 7 tema berbeda, menunjukkan kesalahan yang masih dilakukan siswa dan cara memperbaikinya, serta memberi penegasan rumus 5W+H dalam menyampaikan informasi. Siswa memberi reaksi lebih positif karena siswa lebih maksimal melakukan pembelajaran. Perubahan perilaku belajar siswa ditunjukkan dengan: pada pembelajaran siklus I, siswa masih banyak yang ramai, bercanda sendiri, kurang bertanggung jawab terhadap tugasnya, merasa bosan, dan bermalas-malasan. Namun, pada pembelajaran siklus II siswa terlihat lebih tenang, serius, lebih bertanggung jawab, dan antusias mengikuti pembelajaran. Perubahan perilaku itu mengakibatkan peningkatan keterampilan menyampaikan informasi sebesar 18,75% yaitu 68,30 pada siklus I menjadi 81,11 pada siklus II.

Dapat disimpulkan bahwa telah terjadi perubahan perilaku belajar siswa ke arah positif yang diikuti dengan peningkatan keterampilan menyampaikan informasi siswa setelah diterapkan pembelajaran menyampaikan informasi dengan teknik information gap.

 

 

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Mereka hidup dalam kelompok-kelompok yang saling berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain. Secara garis besar, ada dua cara dalam berkomunikasi, yaitu komunikasi verbal dan nonverbal. Komunikasi verbal menggunakan sarana bahasa, sedangkan komunikasi nonverbal memanfaatkan sarana berupa gerakgerik atau lambang-lambang tertentu. Komunikasi verbal dianggap paling efektif dan efisien serta sedikit kemungkinan terjadi salah penafsiran. Komunikasi verbal dibagi menjadi dua, yaitu komunikasi lisan dan tulis. Komunikasi lisan sering dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dialog dalam lingkungan keluarga, dialog antara pembeli dan penjual, percakapan di telepon, wawancara, debat, pidato, dan sebagainya. Kegiatan-kegiatan tersebut memanfaatkan komunikasi lisan berupa kegiatan berbicara (Tarigan dkk. 1997:29).

Keterampilan berbicara merupakan salah satu segi dalam caturtunggal keterampilan berbahasa di samping tiga keterampilan berbahasa yang lain, yaitu: keterampilan menyimak (listening skill), keterampilan membaca (reading skill), dan keterampilan menulis (writing skill). Setiap keterampilan tersebut saling berhubungan erat dan tidak dapat berdiri sendiri-sendiri. Dalam proses memperoleh keterampilan berbahasa, kita biasanya melalui suatu urutan yang teratur, pada masa kecil kita menyimak bahasa, kemudian berbicara, sesudah itu kita belajar membaca, dan menulis (Tarigan 1981:1).

Berdasarkan fungsinya, keterampilan membaca dan menyimak termasuk keterampilan berbahasa yang reseptif dan apresiatif. Artinya, kedua keterampilan tersebut digunakan untuk menangkap dan memahami informasi yang disampaikan melalui bahasa lisan dan tertulis. Sebaliknya, keterampilan berbicara dan menulis merupakan keterampilan berbahasa yang bersifat produktif dan reseptif. Artinya, kedua keterampilan berbahasa tersebut digunakan untuk menyampaikan informasi atau gagasan baik secara lisan maupun tertulis (Wagiran dan Doyin 2005:1-2).

Berbicara merupakan keterampilan yang sangat penting dan harus dipelajari karena setiap proses berbicara pasti ada pesan atau informasi yang ingin disampaikan oleh pembicara kepada pendengarnya. Oleh karena itu, menyampaikan informasi dimasukkan dalam salah satu kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa kelas VIII SMP. Indikatornya adalah: (1) mampu mengajukan pertanyaan untuk meminta penjelasan dari seorang narasumber; (2) mampu menyampaikan informasi kepada orang lain; dan (3) mampu membandingkan keutuhan pesan yang diterima dari narasumber dengan isi pesan yang disampaikan.

Tahun 2004 mulai diberlakukan kurikulum baru yang dinamakan kurikulum 2004 atau sering disebut Kurikulum Berbasis Kompetensi. Kurikulum ini menggunakan pembelajaran kontekstual sebagai landasan berpikirnya. Walaupun sudah satu tahun kurikulum 2004 diterapkan di SMP Negeri 5 Semarang, tetapi praktiknya masih belum diterapkan secara maksimal. Guru mata pelajaran masih menerapkan metode ceramah. Guru menyampaikan materi di depan kelas dan siswa mendengarkan. Terjadi proses pembelajaran yang berpusat kepada guru, siswa hanya berperan sebagai objek pembelajaran. Kadang-kadang guru juga telah menerapkan teknik diskusi dalam kelompok masyarakat belajar (learning community). Namun, hal tersebut justru menjadi ‘bumerang’ bagi siswa. Siswa sering menggantungkan diri pada anggota kelompok yang lain sehingga mengakibatkan siswa yang aktif semakin aktif dan siswa yang pasif semakin tertinggal. Hal tersebut disebabkan karena selama ini mereka dimanjakan dengan cara menerima materi dari guru.

Walaupun siswa hanya menerima materi dari guru, namun salah paham dalam proses pembelajaran masih terjadi. Siswa belum dapat sepenuhnya memahami dan menjelaskan kembali materi dari guru sehingga siswa sering salah dalam menjawab pertanyaan. Dalam hal ini, proses komunikasi antara guru dan siswa dalam pembelajaran masih mengalami misunderstanding sehingga pengetahuan yang diterima siswa relatif rendah.

Model pembelajaran yang benar belum diterapkan oleh guru. Kurikulum Berbasis Kompetensi menuntut adanya pembelajaran yang ‘sebenarnya’. Pembelajaran bahasa yang harus diterapkan adalah belajar berkomunikasi baik secara lisan maupun tertulis (Depdiknas 2003:5). Pembelajaran berbicara masih dilakukan dengan model ceramah. Padahal, model pembelajaran berbicara seharusnya dilakukan dengan model praktik secara langsung. Selain itu, model penilaiannya pun dilakukan berdasarkan teori-teori yang dikuasai siswa, bukan kemampuan siswa berbicara karena pada prinsipnya, Bahasa dan Sastra Indonesia adalah sarana komunikasi sehingga pendekatan pembelajaran bahasa lebih menitikberatkan aspek performansi atau kinerja bahasanya (Depdiknas 2003:2-3). Teknik yang diterapkan oleh guru pun sering tidak sesuai dengan indikator yang ingin dicapai pada setiap kompetensi dasarnya. Misalnya, untuk kompetensi dasar menyampaikan laporan perjalanan (indikator: mampu menyampaikan laporan perjalanan dengan bahasa yang komunikatif berdasarkan urutan, ruang, waktu, atau topik) guru justru menekankan pada kompetensi dasar membaca. Cara yang digunakan yaitu guru menyuruh siswa membaca teks laporan perjalanan yang ada di dalam buku, bukan bagaimana proses siswa menyampaikan laporan perjalanannya.

Hal serupa juga terjadi pada kompetensi dasar berwawancara dengan narasumber dari berbagai kalangan. Guru memberi tugas rumah kepada siswa untuk berwawancara, siswa mencatat hasil wawancaranya. Dalam hal ini, guru hanya menilai kemampuan siswa dari aspek menulis, sedangkan keterampilan berbicara siswa belum terevaluasi.

Berdasarkan hasil observasi yang diperkuat dengan informasi dari guru mata pelajaran, kelas VIII-D adalah kelas yang tingkat keterampilan berbicaranya paling rendah di antara kelas yang lain. Kelas yang terdiri atas 21 siswa putra dan 25 siswa putri itu terkenal dengan kelas yang paling ramai. Namun, pada saat proses diskusi kelompok, kelas itu paling statis. Mereka tidak mau memanfaatkan kesempatan bertanya atau menanggapi hasil presentasi kelompok lain sehingga guru harus menawarkan kesempatan sampai beberapa kali dan hasilnya hanya satu sampai dua orang saja yang mau berkomentar. Siswa sering bersikap pasif dalam proses pembelajaran. Hal tersebut disebabkan siswa terbiasa menerima materi dari guru sehingga siswa kurang berlatih berbicara. Bahasa yang digunakan siswa pun sering kurang santun dan bersifat nonformal. Hal tersebut terlihat ketika mereka berbicara kepada teman, bahkan kepada guru PPL.

Berdasarkan hasil wawancara, penyebab rendahnya tingkat keterampilan berbicara siswa tidak hanya berasal dari faktor guru, tetapi juga dari faktor siswa. Anggapan siswa bahwa berbicara merupakan sesuatu yang dimiliki dengan sendirinya sehingga tidak perlu berlatih berbicara lagi. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Bormann dan Bormann (1991:5) yang menyatakan bahwa berbicara merupakan kejadian yang sudah sangat biasa, boleh dikatakan kita sudah berbicara sejak kecil sehingga keterampilan berbicara dianggap relatif gampang dan kurang penting untuk dipelajari atau dipraktikkan. Untuk mengatasi masalah rendahnya keterampilan berbicara dan menambah variasi teknik pembelajaran berbicara, maka penelitian ini menawarkan sebuah alternatif pembelajaran berbicara menyampaikan informasi menggunakan teknik information gap yang penerapannya sesuai dengan pendekatan kontekstual.

Information gap merupakan teknik pembelajaran yang mengandung unsur permainan. Pembelajaran yang mengandung unsur permainan terbukti dapat membuat siswa merasa senang dan bersemangat selama mengikuti proses pembelajaran. Selain itu, siswa akan lebih mudah menangkap materi dengan cara tersebut. Pembelajaran menyampaikan informasi dengan teknik information gap memberi kesempatan kepada siswa praktik berbicara secara langsung dan individu sehingga siswa berlatih berbicara. Selain itu, pembelajaran dengan teknik information gap menggunakan rangsang gambar visual yang terbukti dapat membantu daya ingat siswa. Kehadiran narasumber juga terbukti membantu proses pembelajaran. Yang paling penting, teknik information gap memiliki unsur yang tidak dapat diterka sebelumnya, hal ini penting agar proses komunikasi berlangsung realistis. Diharapkan, setelah pembelajaran ini siswa menyadari bahwa apa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya nanti sehingga mereka mampu mengembangkan potensi berbicaranya masing-masing.

Selain itu, alasan pemilihan teknik information gap pada pembelajaran menyampaikan informasi adalah karakteristik teknik information gap sangat sesuai dengan 3 indikator yang ingin dicapai pada kompetensi dasar menyampaikan informasi yang tertuang dalam standar kompetensi mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia kelas VIII Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah.

Tags: ,
Leave a Reply

Current day month ye@r *

Alamat :

Jl Veteran Gang Satria UH II / 1060 Muja-Muju Kecamatan Umbulharjo Yogyakarta (Belakang Pegadaian Syariah Jln Veteran)

HP AS : 0852.2588.7747 

HP IM3 : 0857.0.1111.632