HP CS Kami 0852.25.88.77.47(AS), 0857.0.1111.632(IM3), email:IDTesis@gmail.com

Pengaruh Current Ratio, Debt To Equity Ratio, Dan Total Assets Turn Over Terhadap Perubahan Laba Pada Perusahaan Manufaktur Di Bursa Efek Jakarta

ABSTRAK

Informasi akuntansi yang tersaji di dalam laporan keuangan tahunan yang dipublikasikan perusahaan memberikan gambaran mengenai kondisi keuangan perusahaan pada saat tertentu. Dalam operasi perusahaan, laba yang dicapai perusahaan diharapkan mengalami kenaikan. Untuk memperkirakan apakah laba yang diperoleh mengalami kenaikan atau penurunan diperlukan seperangkat teknik analisis yang didasarkan pada laporan keuangan yang dipublikasikan agar dapat mengintepretasikan informasi akuntansi yang relevan dengan tujuan dan kepentingan pemakainya. Salah satu teknik tersebut yang populer diaplikasikan dalam praktek bisnis adalah analisis rasio keuangan. Rasio yang digunakan dalam penelitian ini yaitu CR, DER, dan TATO.

Permasalahan penelitian ini adalah bagaimana pengaruh CR, DER, dan TATO secara simultan dan parsial terhadap perubahan laba pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Jakarta. Populasi dari penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar (listing) di Bursa Efek Jakarta pada periode penelitian yaitu tahun 2001 sampai dengan tahun 2004. Sampel penelitian diambil dengan menggunakan metode random sampling. Yaitu berjumlah 44 perusahaan. Variabel independen dari penelitian ini adalah CR, DER, dan TATO, yang termasuk dalam empat kategori likuiditas, solvabilitas, dan aktivitas sedangkan variabel dependennya adalah perubahan laba. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi dan studi pustaka. Metode analisis yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah analisis regresi berganda dengan terlebih dahulu melakukan uji asumsi klasik. Untuk mengetahui pengaruh secara simultan digunakan uji F dan untuk mengetahui pengaruh secara parsial digunakan uji t.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan rasio keuangan CR, DER, dan TATO mempunyai pengaruh terhadap perubahan laba. Namun secara parsial rasio keuangan yang berpengaruh terhadap perubahan laba yaitu CR dan DER. Sedangkan TATO tidak mempunyai pengaruh terhadap perubahan laba. Secara bersama-sama rasio CR, DER, dan TATO berpengaruh cukup besar terhadap perubahan laba sebesar 52,4% dan secara parsial rasio-rasio tersebut menunjukkan bahwa nilai signifikasi uji variabel CR sebesar 0,005<5%, sehingga CR berpengaruh terhadap perubahan laba, DER memiliki nilai signifikasi sebesar 0,000<5%, sehingga DER berpengaruh terhadap perubahan laba, dan TATO memiliki nilai signifikasi sebesar 0,084>5%, sehingga TATO tidak mempunyai pengaruh terhadap perubahan laba.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa CR, DER, dan TATO secara bersama-sama mempunyai pengaruh terhadap perubahan laba pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Jakarta. Dari keempat rasio tersebut, secara parsial CR dan DER yang mempunyai pengaruh terhadap perubahan laba. Sedangkan TATO tidak mempunyai pengaruh terhadap perubahan laba. Berdasarkan hasil temuan tersebut, saran yang dapat diberikan yaitu sebaiknya faktor lain yang dapat berpengaruh terhadap perubahan laba perusahaan mendapatkan perhatian sebelum mengambil keputusan investasi seperti faktor politik, perubahan kurs dan inflasi serta perlu mengkaji lebih lanjut mengenai variabel informasi keuangan lain yang mempengaruhi laba perusahaan.  Selain itu, peneliti lain disarankan untuk menggunakan data amatan tidak hanya perusahaan manufaktur saja, tetapi menggunakan data informasi keuangan dari perusahaan selain manufaktur. Rasio keuangan yang digunakan tidak hanya CR, DER, dan TATO, tetapi bisa juga menggunakan rasio-rasio lainnya yang dapat mempengaruhi perubahan laba perusahaan.

Kata kunci: CR, DER, TATO, dan Perubahan Laba.

Untuk mendapatkan daftar lengkap contoh skripsi akuntansi lengkap / tesis akuntansi lengkap, dalam format PDF, Ms Word, dan Hardcopy, silahkan memilih salah satu link yang tersedia berikut :

Contoh Tesis

Contoh Skripsi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Gejolak ekonomi yang selalu mengalami perubahan telah mempengaruhi kegiatan dan kinerja perusahaan, baik perusahaan kecil maupun besar. Oleh karena itu, perusahaan harus memanfaatkan sumber daya yang tersedia seefisien dan seefektif mungkin sehingga lebih berguna dan dapat mempertahankan atau meningkatkan kinerja perusahaannya. Salah satu faktor yang mencerminkan kinerja perusahaan adalah laporan keuangan yang harus dibuat oleh pihak manajemen secara teratur.

Laporan keuangan pada dasarnya merupakan hasil dari proses akuntansi yang disajikan dalam bentuk kuantitatif, dimana informasi-informasi yang disajikan didalamnya dapat membantu berbagai pihak (dalam maupun luar perusahaan) dalam mengambil keputusan yang sangat berpengaruh bagi kelangsungan hidup perusahaan (Istikomah 2005:1). Perkembangan harga saham dan volume perdagangan saham di pasar modal merupakan indikasi penting untuk mempelajari tingkah laku pasar, yaitu investor. Dalam menentukan investor, biasanya didasarkan pada berbagai informasi yang dimiliki baik informasi yang tersedia di publik maupun informasi pribadi. Salah satu informasi yang tersedia di publik (bursa efek) adalah laporan keuangan perusahaan emiten yang telah diaudit. Menurut PSAK No. 1 (SAK, 2002) komponen laporan keuangan meliputi: (1) neraca, (2) laporan laba-rugi, (3) laporan perubahan ekuitas, (4) laporan arus kas, dan (5) catatan atas laporan keuangan.

Penggunaan informasi keuangan melalui laporan keuangan oleh pihak luar (ekstern) yaitu untuk membuat keputusan investasi dalam menempatkan sumber daya yang akan diinvestasikan dan juga upaya untuk memutuskan pemberian kredit oleh kreditor. Untuk kepentingan tersebut laporan keuangan dirancang guna mengetahui kemampuan solvency dan profitability perusahaan (Parawiyati dkk 2000:215). Secara umum kegunaan informasi keuangan hasil akuntansi adalah sebagai dasar prediksi bagi pemakainya. Sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi (PSAK) nomor 1 dinyatakan bahwa pemakai laporan keuangan meliputi investor sekarang dan investor potensial, karyawan, pemberi pinjaman, pemasok dan kreditor usaha lainnya, pelanggan, lembaga pemerintah dan masyarakat. Laporan keuangan yang disajikan harus relevan dengan kebutuhan masing-masing pemakai.

Menurut Statement of Financial Accounting Concepts (SFAC) No. 1, (dalam Hudoyo 2005:2) dinyatakan bahwa sasaran utama pelaporan keuangan adalah informasi tentang prestasi perusahaan yang disajikan melalui pengukuran laba dan komponen-komponennya. Laba perusahaan diperlukan untuk kepentingan kelangsungan hidup perusahaan dan ketidakmampuan perusahaan dalam mendapatkan laba akan menyebabkan tersingkirnya perusahaan dari perekonomian. Laba akuntansi adalah perbedaan antara revenue yang direalisasi yang timbul dari transaksi pada periode tertentu dihadapkan dengan biaya-biaya yang dikeluarkan pada periode tersebut (Harahap 1995:147). Laba akuntansi ini didasarkan pada transaksi aktual yang dilakukan oleh sebuah perusahaan. Laba suatu perusahaan atau kelompok industri tertentu sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi. Disisi lain kepekaan suatu industri terhadap pasar berbedabeda mengindikasikan bahwa antara industri memiliki risiko yang berbeda, demikian pula tingkat profitabilitas, peluang berkembang, dan prospek masa depan.

Informasi akuntansi dalam bentuk rasio keuangan merupakan salah satu acuan bagi investor untuk menganalisa fenomena bisnis yang berbeda. Rasio keuangan merupakan instrumen analisis prestasi perusahaan yang menjelaskan berbagai hubungan dan indikator keuangan, yang ditujukan untuk menunjukkan perubahan dalam kondisi keuangan atau prestasi operasi di masa lalu dan membantu menggambarkan trend pola perubahan tersebut, untuk kemudian menunjukkan resiko dan peluang yang melekat pada perusahaan yang bersangkutan (Helfert dalam Warsidi dan Bambang 2000:1). Besar kecilnya laba dapat dilihat dari peningkatan atau penurunan rasio keuangan, sehingga pemakai dapat melihat kondisi perusahaan yang bersangkutan. Mengingat kondisi ekonomi yang selalu mengalami perubahan, maka dapat mempengaruhi kondisi perusahaan yang dapat dilihat dari labanya. Laba perusahaan yang seharusnya naik, justru sebaliknya mengalami penurunan.Ini terjadi pada 150 perusahaan manufaktur tahun 2002 sampai dengan tahun 2004.


Agar artikel ini bisa bermanfaat bagi orang banyak dalam komunitas anda… bantu saya untuk menginfomasikannya pada teman-teman anda di Facebook , Twitter, atau Email.

Jika Bermanfaat Berbagilah...

Leave a Reply

Current day month ye@r *

Email
Print