HP CS Kami 0852.25.88.77.47(AS), 0857.0.1111.632(IM3), email:IDTesis@gmail.com

Metafora dalam Album Cinta Tahun 1970-an dan Tahun 2000-an Skripsi ini membahas jenis dan makna metafora yang digunakan untuk mengungkapkan tema cinta dalam album tahun 1970-an (,,Ich hab die Liebe geseh’n”) yang dinyanyikan oleh Vicky Leandros dan album tahun 2000an (,,Für Dich allein – Die schönsten Liebeslieder”) yang dinyanyikan oleh Andy Borg

ABSTRAK

Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan jenis dan makna metafora yang diungkapkan dalam bahasa yang bersifat ekspresif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna dan jenis metafora yang digunakan dalam mengungkapkan tema cinta lebih banyak dipakai pada album tahun 1970-an dibandingkan dengan album cinta tahun 2000-an. Ranah sumber tahun 1970-an berasal dari hal-hal indah, sedangkan ranah sumber tahun 2000-an berasal dari alam dan materi.

Kata kunci: Metafora, Personifikasi, Ranah sumber, Ranah sasaran

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bahasa memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Secara umum, bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi sosial yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari seseorang kepada orang lain. Jacobson (2005: 53) membagi fungsi bahasa menjadi enam jenis, yaitu fungsi emotif, konatif, referensial, puitis, fatis, dan metalingual. Selain fungsinya yang bermacammacam, bahasa juga memiliki laras yang bervariasi, seperti laras sastra, pidato, puisi, iklan, dan lagu.

Dalam penelitian ini, saya tertarik membahas lagu karena lagu merupakan salah satu bentuk penyampaian pesan secara lisan yang terdiri atas unsur nonverbal (nada, tanda dinamika, instrumen, dll) dan unsur verbal (Vanoye, 1985: 193). Perkembangan lagu diawali di Eropa seiring dengan penyebaran agama Kristen. Pada mulanya, lagu yang berkembang hanyalah lagu religius, yaitu lagu yang diciptakan untuk mengagungkan dan memuji kebesaran Tuhan. Baru pada abad ke-15, lagu mulai berkembang menjadi sebuah wadah atau sarana untuk mengungkapkan perasaan seseorang yang ditujukan untuk diri sendiri ataupun untuk orang lain (Lieberson, 1956: 1755-1756).

Di Jerman pada akhir abad ke-19, lagu yang sangat digemari oleh masyarakat adalah musik rakyat (Volksmusik)1. Pada awal abad ke-20, di Amerika berkembang jenis musik baru seperti Ragtime dan Blues. Namun, jenis musik seperti itu belum banyak ditemukan di Jerman karena keterbatasan teknologi instrumen musik. Baru pada sekitar tahun 1900-an, jenis musik tersebut mulai banyak dimainkan di Jerman. Setelah perang dunia pertama, segala sesuatu yang berbau Amerika semakin disukai di Jerman. Hal tersebut ditandai dengan didirikannya tempat-tempat hiburan malam khas Amerika, di antaranya klub dan bar, di kota-kota besar di Jerman, seperti Berlin dan München. Selain itu, jenismusik jazz, swing, bigband, dan balladen juga mendapat tempat di hati masyarakat Jerman pada umumnya. Pada era tahun 1930-an dan 1940-an selama
perang dunia kedua berlangsung, musik-musik yang berasal dari Amerika praktis dilarang oleh pemerintah Jerman untuk diperdengarkan di seluruh wilayah Jerman. Musik dan lagu yang bertemakan nasionalis menjadi sangat disukai, seperti mars-mars militer, yang sering sekali diputar di radio dan rapat-rapat resmi kenegaraan. Di tahun pertama pasca perang dunia kedua, musik yang sangat diminati oleh masyarakat Jerman adalah musik yang berasal dari Amerika, Inggris, dan Perancis, seperti R&B, DooWoop, Soul dan Folk Rock, bahkan banyak dari lagu-lagu tersebut yang liriknya dialihbahasakan ke dalam bahasa Jerman. Sekitar tahun 1970-an, di Jerman mulai berkembang jenis musik baru yang tidak hanya digemari oleh anak muda, melainkan juga oleh orang tua. Jenis musik ini kemudian dikenal dengan nama Schlager2. Namun, sekitar akhir tahun 1980-an hingga awal 1990-an, sebagian besar lagu-lagu yang populer di Jerman adalah lagu dengan lirik bahasa inggris dengan jenis musik Techno dan Hip-Hop (http://www.nthuleen.com/teach/culture/popmusik.html).

Hingga saat ini pun, lagu masih menjadi media pilihan yang digunakan orang untuk menyampaikan pesan (amanat) dan sebagai media untuk mengungkapkan perasaan. Dengan demikian, para pencipta lagu dituntut untuk dapat menciptakan lirik lagu yang singkat, bermakna, namun tetap mengutamakan unsur estetis. Salah satu langkah yang harus ditempuh untuk dapat mewujudkan hal tersebut adalah dengan menggunakan gaya bahasa (majas). Menurut Moeliono (1989: 175), majas digunakan untuk mengkonkretkan dan menghidupkan sebuah tulisan sehingga tulisan tersebut tidak bersifat monoton dan lebih variatif. Majas dibagi menjadi tiga jenis, yaitu majas perbandingan, majas pertentangan, dan majas pertautan. Majas perbandingan terbagi atas perumpamaan, kiasan atau metafora, dan penginsanan. Majas pertentangan mencakup hiperbola, litotes, dan ironi. Majas pertautan dapat digolongkan menjadi metonimia, sinekdok, kilatan (allusion), dan eufemisme. Dalam penelitian ini, saya memfokuskan pada gaya bahasa metafora.

Sejak masa Aristoteles, metafora selalu menarik sebagai bidang kajian berbagai disiplin ilmu sehingga banyak diangkat menjadi topik bahasan dalam setiap penelitian. Menurut Aristoteles, metafora merupakan sebuah alat atau sarana yang berasal dari ragam bahasa puitis, bukan berasal dari ragam bahasa sehari-hari. Berbeda dengan Aristoteles, menurut Kurz, metafora banyak ditemukan dalam ragam bahasa sehari-hari (Kurz, 1982: 8).

Aristoteles menganggap metafora sebagai bahasa yang luar biasa dan dekoratif, serta berbeda dengan bahasa keseharian yang sederhana. Menurutnya, metafora merupakan majas retorika yang hanya digunakan dalam kesempatan tertentu, seperti dalam suatu pementasan drama. Menurut Lakoff dan Johnson (2003), metafora bukan merupakan sesuatu yang luar biasa dalam sebuah bahasa karena metafora dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya di dalam kegiatan berbahasa, tetapi juga di dalam pikiran dan tindakan. Metafora juga memegang peranan yang sangat penting dalam penelitian bahasa karena fungsinya yang bermacam-macam, yaitu dapat mengkomunikasikan apa yang dipikirkan dan dirasakan penulis mengenai sesuatu, dapat menjelaskan dan menyampaikan suatu gagasan atau ide yang bersifat khusus dengan cara yang lebih menarik sehingga mudah dipahami oleh pembaca (Knowles dan Moon, 2006: 4).

Dalam penelitian ini, akan dibahas jenis dan makna metafora yang terdapat di dalam lagu-lagu Jerman bertema cinta yang dirilis pada tahun 70-an dan tahun 2000-an ditinjau dari tataran semantik dan wacana. Pemilihan jenis lagu bertema cinta dilakukan karena lirik lagu cinta cenderung lebih ekspresif dalam menggambarkan perasaan seseorang dan lebih selektif dalam pemilihan kata-kata (diksi) sehingga menarik untuk diteliti dari aspek gaya bahasa yang digunakan dalam lirik lagu tersebut, terutama metafora.


Agar artikel ini bisa bermanfaat bagi orang banyak dalam komunitas anda… bantu saya untuk menginfomasikannya pada teman-teman anda di Facebook , Twitter, atau Email.

Jika Bermanfaat Berbagilah...

Leave a Reply

Current day month ye@r *

Email
Print