HP CS Kami 0852.25.88.77.47(AS), 0857.0.1111.632(IM3), email:IDTesis@gmail.com

Karya Tulis Ilmiah antara Prestise Akademis, Ekonomis, dan Popularitas

Karya Tulis Ilmiah 150x150 Karya Tulis Ilmiah antara Prestise Akademis, Ekonomis, dan PopularitasDefinisi karya tulis ilmiah menurut para ahli :

  1. Menurut Janah Sojanah karya tulis ilmiah adalah karya tulis yang memiliki kareakterisitik keilmuan dan memenuhi syarat keilmuan, yaitu : isi kajian berada pada lingkup pengetahuan ilmiah, menggunakan metode berpikir ilmiah, dan sosok tulisan keilmuan.
  2. Menurut Eko Susilo karya ilmiah adalah sebuah tulisan dimana bentuk dan isinya menggunakan kaidah keilmuan yang didapat melalui kegiatan ilmiah semisal penelitian, analisis laboratorium, telaah aneka buku referensi, dan lainnya.

Menyajikan informasi-informasi tentang pendidikan sangatlah penting untuk kemajuan pendidikan di Indonesia.Seorang guru tidak hanya dituntut profesional di bidang tugasnya tetapi di haruskan dapat menegembangkan diri, salah satunya adalah kemampuan menulis.

Dengan menulis baik fiksi maupun nonfiksi banyak hal yang dapat kita peroleh, baik yang bersifat akademis, ekonomis maupun popularitas.

  1. Prestise Akademis

Menulis fiksi maupun nonfiksi yang dilakukan oleh guru dapat membuatnya dihargai secara akademis. Pertama, dengan kemauan dan kemampuan guru menulis dapat mengantarkan ke tangga karier yang lebih baik. Para guru yang mempunyai prestasi dalam hal karya tulis ilmiah akan mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. Sebagai contoh, setiap tahun pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional menyelenggarakan lomba guru berprestasi dan lomba keberhasilan guru dalam pembelajaran. Kedua, karya tulis ilmiah yang kita buat dapat menjadikan posisi tawar kita secara akademis meningkat. Lingkungan di sekitar kita akan lebih memberikan apresiasi atas karya tulis ilmiah yang kita hasilkan. Penulis sendiri merasakan hal itu. Ketika artikel penulis dimuat di koran Kompas beberapa kali dan hasil penelitian penulis berupa penelitian tindakan kelas (PTK) berrhasil sebagai pemenang tingkat nasional dalam kegiatan forum ilmiah widyaiswara (FIW) serta buku penulis yang berjudul Guru Profesional terbit, apresiasi akademis dari lingkungan sekitar terasa lebih tingi.

Dengan karya tulis yang kita hasilkan, akan ada pengakuan dari lingkungan sekitar bahwa kita dianggap mempunyai kemampuan dalam hal menulis karya tulis ilmiah. Selain itu, hal tersebut dapat mengantarkan kita untuk menjadi fasilitator atau narasumber pada diklat atau workshop karya tulis ilmih.

Ketiga, hasil karya tulis ilmiah kita bisa dijadikan bahan referensi oleh orang lain, apakah sebagai referensi makalah, buku, skripsi, maupun tesis. Ketika tulisan kita dikutip dan dijadikan bahan referensi tulisan orang lain betapa senang dan bangganya kita. Seperti yang pernah penulis alami ketika buku penulis sebelumnya, yang berjudul Guru Profesional dijadikan referensi sebuah tesis oleh seorang Mahasiswa S2.

Selain ketiga hal diatas, kegiatan menulis merupakan suatu aktivitas yang dapat memberikan motivasi tinggi kepada para guru. Ketika tulisan-tulisan (karya tulis) dipublikasikan di media, kita pasti akan merasa sangat senang serta terdorong untuk menulis dan menulis lagi. Kita juga merasa bangga dengan dimuatnya tulisan kita. Hal ini bisa menjadi motivasi. Jika guru banyak menulis, sang guru akan sangat termotivasi bahwa akan mendapat nilai tambah (added value) karena bisa digolongkan kelompok intelektual. Ini salah satu nilai positifnya.

  1. Nilai Ekonomis

Kegiatan menulis ternyata juga bisa memiliki nilai ekonomis yang cukup besar dan bisa menambah income. Tidak percaya ? Coba saja kirim tulisan atau karya tulis Anda ke media atau ke penerbit. Bila tulisan dimuat atau dicetak, kocek Anda akan bertambah. Dengan demikian, menulis bisa mengatasi kesulitan ekonomi yang dihadapi para guru yang selama ini dirasakan masih rendah tingkat kesejahteraanya. Selain itu, jika guru tekun dan mau aktif menulis artikel di media atau menulis buku, performance guru pasti berubah. Hasil menulis di media maupun buku lebih besar dibandingkan gaji guru yang diterima setiap bulannya. Belum lagi jika hasil penelitian kita memenangkan lomba karya tulis ilmiah tingkat nasional dan kita mendapatkan hadiah berupa uang atas kemenangan tersebut.

Selain itu, hal yang lebih membanggakan lagi adalah jika tulisan kita dijadikan sebuah buku dan diterbitkan oleh penerbit. Dengan diterbitkannya tulisan kita, kita akan mendapatkan royalti. Itu juga menjadi nilai ekonomis tersendiri.

Berdasarkan pengalaman pribadi penulis, penulis sudah merasakan nilai ekonomis dari aktivitas menulis. Semoga hal tersebut bisa menjadi inspirasi para guru dan yang lainnya yang belum tergugah untuk menulis dan akhirnya tergugah, serta mau menulis. Anda pasti bisa !

  1. Nilai Popularitas

Pecaya atau tidak, menulis bisa memberikan keuntungan popularitas. Para penulis yangn seing menulis di media massa biasanya akan dikenal oleh banyak orang. Apalagi kalau ia mampu menuyajikan hal-hal yang menarik, pasti para pembaca akan selalu teringat dengan si penulisnya. Guru juga bisa memiliki banyak penggemar jika ia menulis, baik di media massa, jurnal, maupun buku.

Hal ini sudah penulis alami sendiri. Ketika tulisan penulis yang berjudul “Kurikulum Baru Itu Terlalu Tergesa-Gesa” dimuat di koran Kompas pada tanggal 1 Oktober 2006, keesokan harinya, dari pagi sampai sore, banyak Short Message Servise (SMS) masuk ke ponsel penulis dari teman-teman penulis, baik yang berada di Jakarta maupun luar Jakarta, yang memberikan selamat dan komentar terhadap tulisan tersebut. Begitu juga untuk tulisan-tulisan berikutnya. Juga ketika buku penulis terbit beberapa hari kemudian, banyak SMS maupun telepon yang penulis terima, baik dari orang yang selama ini sudah penulis kenal maupun yang belum kenal sebelumnya.

Hal ini menunjukkan bahwa tulisan (KTI) mempunyai dampak luar biasa dan bisa mengangkat popularitas seseorang.

Selain itu, nilai tambah lain menulis yang dilakukan oleh guru adalah bisa menambah angka kredit. Angka kredit dari unsur KTI ini lebih bergengsi dan jumlahnya lebih besar dari mengajar selama satu semester. Bayangkan saja, satu artikel yang dimuat di media massa memiliki nilai kredit 2 poin. Kalau guru bisa menulis dengan baik, guru tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk membayar biaya menulis sebuah karya tulis untuk kenaikan pangkat. Banyak sekali keuntungan menulis bagi guru kalau guru mau menulis.


Agar artikel ini bisa bermanfaat bagi orang banyak dalam komunitas anda… bantu saya untuk menginfomasikannya pada teman-teman anda di Facebook , Twitter, atau Email.

Jika Bermanfaat Berbagilah...

Leave a Reply

Current day month ye@r *

Email
Print