HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp), 0857.0.1111.632(IM3), email:IDTesis@gmail.com BBM:2B7D0DB6

Hubungan Kecerdasan Emosi dan Interaksi Teman Sebaya Dengan Penyesuaian Sosial Pada Siswa Kelas viii Program Akselerasi Di Smp Negeri 9 Surakarta

ABSTRAK

Sebagai makhluk sosial, pastilah membutuhkan kehadiran orang lain untuk menjalani hidupnya. Hal ini terkait dengan bagaimana seseorang melakukan interaksi, penyesuaian sosial dimana individu tersebut tinggal. Individu yang memiliki kecerdasan emosi yang baik akan mampu dan mudah untuk berhubungan dengan orang lain karena mampu berempati, memotivasi diri, serta mampu mengelola emosi orang lain. Faktor tinggi rendahnya kecerdasan emosi dan interaksi teman sebaya yang dimiliki oleh setiap individu khususnya para siswa berperan penting dalam keberhasilan penyesuaian sosialnya.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara kecerdasan emosi dan interaksi teman sebaya dengan penyesuaian sosial, hubungan kecerdasan emosi dengan penyesuaian sosial, dan hubungan interaksi teman sebaya dengan penyesuaian sosial. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII program akselerasi SMP Negeri 9 Surakarta yang berjumlah 39 siswa. Karena sedikitnya populasi maka penelitian ini menggunakan semua populasi untuk penelitian. Metode analisis data yang digunakan adalah teknik analisis regresi linier berganda dan korelasi Pearson Product moment dengan bantuan komputer program SPSS for MS windows versi 16. Berdasarkan analisisa data, diperoleh F regresi = 39,924 dengan p <0,05. Hal ini menunjukkan hasil yang signifikan, bahwa kecerdasan emosi dan interaksi teman sebaya secara bersama-sama memiliki hubungan yang signifikan dengan penyesuaian sosial. Hasil rx1y = 0,756 dengan p<0,05 berarti terdapat hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosi dengan penyesuaian sosial, sedangkan rx2y = 0,769 dengan p<0,05 berarti terdapat hubungan yang signifikan antara interaksi teman sebaya dengan penyesuaian sosial. Adapun sumbangan efektif yang diberikan prediktor kecerdasan emosi dan interaksi teman sebaya terhadap penyesuaian sosial ditunjukkan dengan R = 0,692 atau 69,2 % artinya masih ada 30,8 % faktor lain yang mempengaruhi penyesuaian sosial sebesar 30,92 % dan interaksi teman sebaya sebesar 38,82 %. Subjek dalam penelitian ini pada umumnya memiliki kecerdasan emosi yang tinggi (mean empirik = 82,7 dan mean hipotetik = 62,5), mempunyai interaksi teman sebaya yang tinggi (mean empirik = 112,4 dan mean hipotetik = 85), dan mempunyai penyesuaian sosial yang tinggi (mean empirik = 119,5 dan mean hipotetik = 92,5)

Kata kunci : Kecerdasan emosi, interaksi teman sebaya, penyesuaian sosial.

Untuk mendapatkan daftar lengkap contoh skripsi psikologi lengkap / tesis psikologi lengkap, dalam format PDF, Ms Word, dan Hardcopy, silahkan memilih salah satu link yang tersedia berikut :

Contoh Tesis

Contoh Skripsi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perkembangan arus zaman yang terus melaju pesat selayaknya diikuti kemampuan intelektual yang tinggi dengan mencetak generasi-generasi baru yang dituntut memiliki kemampuan kognitif serta mental yang tinggi agar dapat bertahan dan bersaing untuk mencapai sukses. Salah satu antisipasi yang ditempuh pemerintah Indonesia untuk membentuk generasi yang unggul adalah mengadakan terobosan baru dalam dunia pendidikan, yaitu membentuk program akselerasi atau percepatan. Menurut Hawadi (2004) akselerasi adalah kemajuan yang diperoleh dalam program pengajaran pada waktu yang lebih cepat atau dalam usia yang lebih muda dari pada usia konvensional. Tujuan dari program akselerasi adalah memberikan pelayanan untuk anak berbakat secara intelektual untuk dapat menyelesaikan pendidikan lebih awal. Program akselerasi pada pelaksanaannya ditemukan berbagai masalah. Seorang guru salah satu SMU di Yogyakarta mengeluarkan pernyataan bahwa selama mendampingi siswa akselerasi di sekolahnya, siswa terlihat kurang berkomunikasi, mengalami ketegangan, dan kurang bergaul dengan teman sebayanya (Syamril, 2007). Fakta menyatakan bahwa banyak anak-anak yang masuk kelas akselerasi mengalami gangguan emosi dan cenderung stres karena dibebani oleh mata pelajaran yang tidak sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Siswa yang terpilih di kelas akselerasi akan sangat berbeda dengan temanteman yang berada dalam kelas reguler dikarenakan waktu mereka lebih banyak digunakan untuk belajar dan sangat sedikit waktunya untuk bersosialisasi atau mengikuti kegiatan lain. Hal tersebut mengakibatkan tidak sedikit siswa akselerasi yang mengalami kesulitan membagi waktu antara belajar, bergaul, dan bermain (Setiawan, 2001). Fauziah (2007) menambahkan bahwa fakta diatas juga diperkuat oleh penelitian yang dilakukan terhadap 231 siswa (usia 15-19 tahun) yang terdiri masing-masing 77 siswa berbakat tinggi (higly gifted student), siswa berbakat sedang (moderate gifted student) dan siswa non- berbakat (non gifted student) pada sekolah SMU di Semarang dan Yogjakarta. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa siswa berbakat tinggi cenderung lebih formal dalam bersosialisasi, lebih menyukai kesendirian atau kurang menyukai stimulasi sosial dan cenderung mempunyai altruisme yang rendah.

Karakter psikologis siswa berbakat tinggi pada dasarnya telah banyak diteliti (Janos, Fung, & Robinson, 1985; Kerr, Colangelo, & Gaeth, 1988; Loeb & Jay, 1987; Olszewski-Kubilius, Kulieke, & Krasney, 1988; Whalen & Csikszentmihalyi, 1989). Penelitian-penelitian tersebut seluruhnya berfokus pada salah satu dimensi, misalnya; kecemasan, citra diri sikap dan depresi yang semuanya, menyatakan bahwa siswa berbakat tinggi mempunyai konsep diri positif terhadap akademik, akan tetapi mempunyai hubungan sosial yang negatif (Field, 1998). Anak berbakat yang masuk kelas akselerasi dalam berinteraksi dengan lingkungannya tidak akan terlepas dari penilaian sebagai akibat dari proses interaksi tersebut. Permasalahan penyesuaian sosial pada anak berbakat terjadi ketika anak melakukan interaksi dengan lingkungannya. Tjahjono (2002) mengatakan ketika anak berbakat berinteraksi dengan lingkungannya, akan terjadi serangkaian aksi-reaksi dimana lingkungan mengintepretasikan serta memberikan respon terhadap sikap dan perilaku anak. Penempatan anak berbakat pada kelas akselerasi dapat mempengaruhi perkembangan sosial dan penyesuaian diri anak. Hal tersebut dikarenakan pemberian jadwal pelajaran yang padat membuat pergaulan anak menjadi terbatas.

Masalah penyesuaian sosial yang muncul pada anak berbakat disebabkan juga karakteristik anak berbakat yang memang kurang dapat bergaul, seperti yang dikemukakan oleh Utami Munandar (dalam Rahmawati, 2007) bahwa anak berbakat mempunyai ciri-ciri sosial diantaranya sukar bergaul dengan temanteman sebaya dan sukar menyesuaiakan diri dalam berbagai bidang. Hal ini didukung oleh penelitian Iswinarti (2002) bahwa ada kecenderungan anak berbakat hanya akan berteman akrab dengan teman yang sama pandainya. Bergaul dengan teman yang kepandaiannya setingkat, anak akan mendapat teman untuk berdiskusi dalam rangka memenuhi hasrat ingin tahunya yang besar. Hal tersebut juga selaras dengan pendapat Darmaningtyas (dalam Permanasari, 2004) bahwa anak yang tumbuh di lingkungan homogen (kelas akselerasi), dapat menyebabkan anak menjadi egois dan elistis. Akan tetapi, Iswinarti (2002) juga menambahkan bahwa sebenarnya anak berbakat mudah menyesuaikan diri walaupun tampak adanya pola umum dalam hal pemilihan teman bergaul, hal ini sesuai dengan salah satu ciri sosial anak berbakat yaitu suka berteman dengan orang lain yang lebih tua.

Penelitian yang dilakukan Rahmawati (2007) menunjukkan bahwa sebagian besar siswa akselerasi mempunyai penyesuaian sosial yang kurang baik. Hal itu terlihat dari ketidakpuasan berinteraksi siswa reguler terhadap siswa akselerasi meskipun mereka sudah dapat memainkan peran yang diharapkan. Selanjutnya Versteynen (2006) mengemukakan bahwa penelitian yang dilakukan oleh para ahli, terdapat dua pandangan yang berbeda mengenai perkembangan sosial dan emosional anak berbakat. Pandangan pertama mengatakan bahwa anak berbakat memiliki penyesuaian yang lebih baik dibanding dengan teman sebaya mereka yang tidak berbakat. Pandangan yang lain mengatakan bahwa anak berbakat mempunyai resiko lebih dalam masalah penyesuaiannya dari pada mereka yang tidak berbakat.

Penyesuaian siswa program akselerasi di SMP Negeri 9 Surakarta ternyata tidak menjadi permasalahan. Dari hasil wawancara dengan guru pengampu kelas akselerasi, dijelaskan bahwa hubungan antara siswa akselerasi dengan lingkungan sekitarnya (baik guru, teman reguler, dll) baik-baik saja, dikarenakan kebijaksanaan pihak sekolahan yang tidak membeda-bedakan antara siswa akselerasi dengan siswa reguler dalam beberapa hal. Sama seperti manusia lainnya, anak berbakat selalu berinteraksi dengan orang lain disekitarnya. Salah satu bentuk hubungan yang dilakukan adalah persahabatan (Stewart & Logan, dalam Rahmawati 2007). Persahabatan adalah suatu hubungan dimana dua orang menghabiskan waktu bersama, berinteraksi dalam berbagai situasi, tidak membiarkan orang lain ikut dalam hubungan mereka, dan saling memberikan dukungan emosional (Baron & Byrne, 2005). Sebagai makhluk sosial, manusia pasti membutuhkan dan berinteraksi dengan orang lain. Begitu pula seorang remaja yang dituntut untuk menjalin hubungan sosial dan melakukan penyesuaian diri dengan lingkungan sosialnya. Hubungan sosial menjadi sangat penting karena remaja akan mengalami perasaan sama dengan teman sebayanya, yakni kegelisahan atas perkembangan pesat padanya dan status yang tidak jelas antara anak dan dewasa. Oleh karena itu, teman sebaya dianggap sebagai seseorang yang dapat memahaminya (Rahmawati,2007).

Menurut Hurlock (2002) penyesuaian sosial adalah suatu kemampuan seseorang untuk menyesuaiakan diri terhadap orang lain pada umumnya dan pada kelompok khususnya. Penyesuaian sosial ditentukan oleh dua faktor. Pertama adalah sejauh mana seseorang dapat memainkan peran secara tepat sesuai dengan apa yang diharapkan. Kedua, seberapa besar kepuasan yang diperolehnya. Dengan demikian kualitas persahabatan seseorang dapat terlihat apakah mereka mempunyai penyesuaian yang baik atau tidak. Remaja yang sehat dan normal akan selalu mempunyai keinginan untuk melakukan tindakan yang dinamis agar keberadaannya diakui dan berarti bagi orang lain. Remaja menganggap bahwa teman sebaya sebagai sesuatu yang mampu memberikan dunia tempat kawula muda untuk melakukan perkembangan sosialnya, dimana nilai-nilai yang berlaku bukanlah nilai-nilai yang ditetapkan orang dewasa melainkan berasal dari teman-temannya. Remaja banyak menghabiskan waktu dengan teman sebayanya melebihi waktu yang mereka habiskan dengan orang tua dan anggota keluarga yang lain. Pada masa ini, remaja lebih berorientasi pada teman sebayanya serta berusaha menyesuaikan diri dengan baik. Orientasi teman sebaya ini dibagi menjadi dua tipe, yakni orientasi nasihat teman sebaya dan orientasi ekstrim teman sebaya (Indah, 2005).

Tags: , , , ,
Leave a Reply

Current day month ye@r *

Alamat :

Jl Veteran Gang Satria UH II / 1060 Muja-Muju Kecamatan Umbulharjo Yogyakarta (Belakang Pegadaian Syariah Jln Veteran)

HP AS : 0852.2588.7747 

HP IM3 : 0857.0.1111.632