HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:2B7D0DB6

Hubungan Faktor-Faktor Motivasi Pendorong dan Faktor-Faktor Motivasi Penarik Untuk Melakukan Wisata Backpacking

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mencari hubungan faktor-faktor motivasi pendorong dan faktor-faktor motivasi penarik pada wisata backpacking. Motivasi pendorong untuk berwisata merupakan motivasi internal seseorang yang mempengaruhi individu untuk berwisata. Sedangkan motivasi penarik berwisata adalah motivasi di luar diri yang menarik seseorang untuk mengunjungi tempat wisata tertentu. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 95 orang yang berada pada rentang usia dewasa muda yaitu 20 tahun hingga 40 tahun. Peneliti menggunakan alat ukur motivasi pendorong dan motivasi penarik yang keduanya disusun oleh peneliti. Skor dari 95 partisipan usia dewasa muda yang mengikuti penelitian ini dihitung menggunakan korelasi kanonikal. Dua fungsi kanonikal berkontribusi secara signifikan pada hubungan antara dua variable penelitian. Analisa dari fungsi pertama kanonikal menghasilkan bahwa nilai yang tinggi pada semua faktor dari motivasi pendorong backpacker berhubungan dengan nilai yang tinggi pada semua faktor pada motivasi penarik. Fungsi ke-dua menghasilkan bahwa nilai yang tinggi faktor motivasi pendorong keluar dari lingkungan rutin dan membosankan, relaksasi dan nilai yang rendah pada faktor fasilitasi interaksi sosial berhubungan dengan nilai yang tinggi pada faktor motivasi penarik static dan current decision dan nilai yang rendah pada faktor novelty dan education.

Kata kunci: Motivasi, korelasi kanonikal, backpacker

Untuk mendapatkan daftar lengkap contoh skripsi psikologi lengkap / tesis psikologi lengkap, dalam format PDF, Ms Word, dan Hardcopy, silahkan memilih salah satu link yang tersedia berikut :

Contoh Tesis

Contoh Skripsi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Berwisata merupakan sebuah kegiatan yang umum dilakukan oleh masyarakat. Dari pengalaman penulis sendiri, kegiatan berwisata dilakukan semenjak berada di tingkat pendidikan taman kanak-kanak (TK). Saat itu pihak sekolah mengorganisir semua siswa-siswi dari TK untuk melakukan perjalanan wisata ke berbagai tempat, kegiatan serupa juga dilakukan oleh institusi pendidikan penulis ketika penulis bersekolah di tingkat SD, SMP, SMA bahkan sampai tingkat perguruan tinggi. Penulis pun masih melakukan kegiatan wisata baik sendiri, bersama kawan atau keluarga. Saat melakukan kegiatan wisata terkadang terbersit pertanyaan di benak penulis, sebenarnya bagaimana sejarah pariwisata? Salah satu riwayat kepariwisataan dunia yaitu perjalanan John Murray sekitar tahun 1836 (Enzensberger, 1996) yang didokumentasikan dalam sebuah buku berjudul “Red Book”, buku tersebut memberikan penjelasan mengenai pemandangan di Belanda, Belgia dan Rhineland, juga merekomendasikan tempat-tempat yang indah dan rute-rute romantis.

Tokoh lain yang penulis temukan dalam sejarah pariwisata dunia adalah Thomas Cook (1841), ia mengorganisasikan perjalanan antara Loughborough dan Leicester untuk klubnya yang bernama Teetotalers, empat tahun setelahnya ia mendirikan sebuah agen wisata, yang selama tiga dekade menjadi agen wisata yang mendunia (Enzensberger, 1996). Di Indonesia, literatur mengenai sejarah pariwisata dan promosi pariwisata yang penulis temukan pernah dilakukan oleh sebuah perusahaan perkapalan Belanda yang bernama KPM (Konenklijke Paketvaart Maatschappij) (Pendit, 1965). Perusahaan ini mempromosikan Bali kepada para wisatawan Eropa. Namun Bali masih dipandang negatif pada masa itu. Bali masih sangat tradisional (jika tidak ingin dikatakan sebagai primitif) dengan wanitanya yang masih bertelanjang dada.

Dari penjelasan sebelumnya, dapat dikatakan wisata menjadi sebuah kegiatan untuk menikmati perjalanan ataupun sebuah daerah yang menarik. Wisata pun mulai berkembang menjadi salah satu jenis usaha yang menjanjikan bahkan menjadi sebuah industri penghasil devisa yang tinggi bagi negara (Depbudpar, 2008). Menurut World Tourism Oraganization (WTO) pada masa sekarang perkembangan pariwisata dunia mulai mengalami peningkatan yang pesat. Dimulai dari tahun 2000, terlihat dari peningkatan sebesar 7% pada tahun 2007 dengan angka 898 juta kedatangan wisatawan internasional (WTO, 2008). Pertumbuhannya pun tercatat dari tahun 2004-2007 mencapai rata-rata 7% pertahun, melebihi rata-rata pertumbuhan jangka panjang yang hanya sebesar 4%. Berbagai kawasan di dunia pun menikmati perkembangan pariwisata ini, dan untuk kawasan Asia-Pasifik, Indonesia tercatat menjadi tempat tujuan wisata untuk sekitar 15% wisatawan asing di kawasan ini. Berita baik ini ternyata tidak berlangsung terlalu lama, karena pertumbuhan pariwisata dunia mulai mengalami penurunan pada pertengahan tahun 2008 disebabkan oleh kenaikan harga minyak dunia di awal tahun dan memburuknya situasi ekonomi dunia. Namun hal ini tidak berdampak pada pariwisata Indonesia, karena menurut WTO Indonesia memperlihatkan hasil yang positif (terjadi peningkatan kunjungan wisata) (WTO, 2009).

Meningkatnya hasil industri pariwisata Indonesia nampaknya merupakan kesuksesan dari program Visit Indonesia Year yang dicanangkan pada tahun 2008. Hal ini terlihat dari angka kunjungan wisatawan yang mencapai 6,4 juta orang sampai bulan November 2008 dibandingkan keseluruhan tahun 2007 dengan angka 5,5 juta orang. Maka, menurut Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, program Visit Indonesia Year 2008 (VIY 2008) akan diperpanjang sampai tahun 2009 dengan target mencapai 8 juta orang wisatawan (Media-Indonesia, 2007). Latar belakang dicanangkannya Visit Indonesia Year 2008 antara lain karena Indonesia sudah lama tidak mengadakan program tahun kunjungan (terakhir tahun 1991) dan persepsi Indonesia di mata dunia yang semakin membaik (Media-Indonesia, 2007). Untuk mendukung program VIY 2008 beberapa daerah seperti Jambi, Musi (Palembang), Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Selatan, Bangka Belitung, Kalimantan Barat juga mulai mencanangkan program-program kunjungan ke daerah mereka (Yurnaldi, 2008). Kesuksesan program Visit Indonesia Year 2008 secara tidak langsung juga didukung oleh berbagai program-program televisi di Indonesia yang sekarang semakin banyak mempromosikan tempat-tempat wisata (contoh Koper dan Ransel, Backpacker, Dorce Jalan, Jalan-Jalan, Archipelago, dan lain-lain) bahkan acara kuliner (acara yang menginformasikan tempat-tempat makan) seperti Wisata Kuliner, Santapan Nusantara dan Bango Cita Rasa Nusantara juga mempromosikan tempat-tempat wisata yang berdekatan atau satu wilayah dengan tempat wisata makan. Promosi-promosi tempat wisata pun bisa dari mulut ke mulut orang yang pernah pergi ke tempat wisata. Di masa kemudahan mendapatkan informasi seperti saat ini, promosi wisata merambah dunia maya (internet) dengan cerita-cerita perjalanan wisata yang pernah dilakukan seseorang melalui blog-blog dan situs-situs internet, contoh www.BootsnAll.com, nakedtraveler.com, www.indobackpacker.com, dan lain-lain.

Berbicara panjang lebar mengenai sejarah wisata, perkembangan wisata, promosi wisata tak lengkap tanpa mengetahui siapakah yang disebut dengan wisatawan. Lalu, siapakah yang sebenarnya disebut dengan wisatawan? Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia, yang mengacu pada International Union of Office Travel Organization (IUOTO) dan World Tourism Organization (WTO), memberikan definisi bahwa wisatawan adalah seseorang atau sekelompok orang yang melakukan perjalanan ke sebuah atau beberapa negara di luar tempat tinggal biasanya atau keluar dari lingkungan tempat tinggalnya untuk periode kurang dari 12 (dua belas) bulan dan memiliki tujuan untuk melakukan berbagai aktivitas wisata. Penelitian-penelitian mengenai wisatawan dan latar belakang mereka berwisata pun belum banyak dilakukan, terutama berkaitan dengan ilmu psikologi (Ross, 1994). Dari beberapa penelitian psikologi pariwisata yang penulis temukan konsep motivasi menjadi salah satu bahasan penting. Motivasi dianggap penting karena motivasi menjadi dasar dari hal-hal yang dapat mempengaruhi tingkah laku wisatawan seperti tempat tujuan wisata, kapan akan berwisata, aktivitas apa yang mereka lakukan di tempat wisata dan kepuasan mereka (Crompton, 1979 dalam Jani, 2008). Dari berbagai literatur yang penulis temukan, motivasi dalam berwisata dibagi menjadi dua faktor, yaitu motivasi pendorong (push) dan penarik (pull) (McGehee, Loker-Murphy, dan Uysal 1996; Espinoza, 2002; Jiao, 2003; Awaritefe, 2004; Yoon dan Uysal, 2005; Tien, 2008; Jani, 2008). Motivasi pendorong (push) berkaitan pada aspek internal atau emosional dalam diri seseorang sedangkan motivasi penarik (pull) berkaitan dengan aspek keadaan luar diri seseorang dan keadaan situasional(McGehee, Loker-Murphy, dan Uysal 1996; Awaritefe, 2004; Yoon dan Uysal, 2005; Tien, 2008). Contoh motivasi pendorong adalah keinginan untuk keluar dari rutinitas, berpetualangan, berinteraksi dengan masyarakat setempat, mendapatkan kegembiraan dan lain sebagainya (Crompton, 1979 dalam Yoon dan Uysal, 2005), sedangkan contoh motivasi penarik yaitu daya tarik tempat wisata seperti, pantai, fasilitas rekreasi, daya tarik kebudayaan, hiburan, pemandangan alam, pusat perbelanjaan, dan taman (Yoon dan Uysal, 2005).

Ketika seseorang ataupun sekelompok orang ingin berwisata, untuk lebih mempermudah kegiatan wisata tersebut mereka dapat menggunakan jasa agen wisata. Agen wisata inilah yang akan mengatur perjalanan dari mulai tiket pesawat, kendaraan saat mengunjungi tempat wisata, hotel, dan berbagai akomodasi lain. Agen-agen wisata ini mudah sekali ditemukan karena kebanyakan dari mereka mempunyai kantor di tempat-tempat strategis seperti pusat perkantoran, pusat perbelanjaan bahkan kampus-kampus perguruan tinggi baik negeri ataupun swasta dan mereka pun mempromosikan diri di berbagai surat kabar, majalah, website, bahkan dari mulut ke mulut orang yang sudah menggunakan jasa mereka. Agen-agen wisata secara gencar mempromosikan produk wisata mereka dengan menawarkan banyak kemudahan pelayanan, ketenangan dan kenyamanan yang akan dialami dan dirasakan oleh peserta paket wisata. Paket wisata pun berbagai macam, dari wisata religi, wisata pantai, pegunungan, sampai wisata untuk pasangan yang ingin berbulan madu. Paket wisata juga memberikan berbagai kemudahan dari pengurusan tiket, ruang tunggu bandara, fasilitas hotel berbintang, kendaraan yang nyaman, sampai antar jemput  dari rumah peserta paket wisata bahkan memberikan jaminan asuransi bagi peserta paket wisata sehingga peserta paket wisata hanya perlu membawa identitas diri dan pakaian secukupnya. Namun tentu saja dari berbagai kemudahan dan kenikmatan yang akan diperoleh peserta paket, agen wisata memberikan harga yang relatif mahal dan terkadang hanya mampu dibeli oleh orang-orang yang sangat berkecukupan.

No tags for this post.
Leave a Reply

Current ye@r *

Alamat :

Jl Veteran Gang Satria UH II / 1060 Muja-Muju Kecamatan Umbulharjo Yogyakarta (Belakang Pegadaian Syariah Jln Veteran)

HP AS : 0852.2588.7747 

Stat