HP CS Kami 0852.25.88.77.47(AS), 0857.0.1111.632(IM3), email:IDTesis@gmail.com

Hubungan antara Upah, Motivasi Kerja dengan Produktivitas Kerja Karyawan pada PT. Pilar Kekar Plasindo Surakarta Tahun 2004 – 2005

ABSTRAK

Saat ini pasar semakin kompetitif, kelangsungan suatu bisnis mutlak tergantung dari ada tidaknya perhatian yang besar terhadap kebutuhan pelanggan. Terutama di bidang jasa, service jasa yang ditawarkan membutuhkan penampilan atau kinerja yang baik agar setiap hal yang dilakukan dapat diterima pelanggan dengan puas sesuai dengan harapan pelanggan. Dengan melakukan analisis brand perceived quality (persepsi kualitas merek) perusahaan akan dapat mengetahui harapan dan persepsi pelanggan pada kualitas pelayanan yang diberikan selama ini. Maka tujuan dari penelitin ini adalah untuk mengetahui brand perceived quality (persepsi kualitas merek) pada pelayanan BPPA (Bengkel Perawatan dan Perbaikan Astra Daihatsu Cabang Solo). Dan setelah mengetahui hasilnya dapat diketahui pula dimensi apa saja yang harus dipertahankan dan perlu ditingkatkan.

Dalam penelitian ini populasi yang diambil adalah pelanggan Astra International Daihatsu Cabang Solo dengan sampel sebanyak 100 responden. Metode pepengumpulan data yang digunakan dengan menyebar kuesioner yang dibagikan pada pengunjung Astra International Daihatsu Cabang Solo pada tanggal 30 Maret 2009 sampai 8 April 2009. Sedangkan metode pembahasan yang digunakan yaitu analisis deskriptif dengan mengubah data mentah menjadi bentuk atau gambaran yang mudah dipahami.

Pada pembahasan penelitian ini intinya adalah dengan membandingkan performance (kinerja) perusahaan dengan importance (harapan) pelanggan. Dimensi pengukuran yang digunakan adalah bentuk fisik, kompetensi, keandalan, tanggung jawab, dan empati. Yang kemudian dirangkum pada diagram kartesius yang terbagi atas empat daerah yaitu underact, maintenance, low priority, overact.

Setelah melalui pembahasan, diperoleh kesimpulan bahwa masih ada performance (kinerja) perusahaan yang perlu diperbaiki karena performance (kinerja) tersebut masih berada di bawah importance (harapan) pelanggan. Dan demi meningkatkan dan mengembangkan BPPA (Bengkel Perawatan dan Perbaikan Astra Daihatsu Cabang Solo) perlu adanya evaluasi dan perbaikan dari performance (kinerja) tersebut sehingga perusahaan dapat tetap bertahan ditengah persaingan bisnis yang ketat.

Kata Kunci : Brand Equity

BAB I
PENDAHULUAN

B. LATAR BELAKANG MASALAH

Dunia yang semakin global menjadi tantangan bagi perusahaan untuk menghadapi persaingan atas kondisi konsumen yang semakin kritis, semakin tidak mudah diprediksi, semakin menuntut, dan tidak mudah puas. Hal tersebut menyebabkan adanya interaksi antara konsumen dengan berbagai produk dan merek perusahaan. Berbagai strategi pemasaran dirancang oleh perusahaan untuk mempengaruhi proses informasi konsumen saat proses pembelian. Misalnya saat ini semakin banyak penjual yang menambah manfaat dan arti psikologi pada merek atau produk untuk menciptakan perbedaan nilai dengan merek lain (Poeiz dalam Ferrinadewi : 2008). Merek yang mampu memasarkan produk dengan tampilan atau pesan yang unik akan memenangkan persaingan. Terutama kekuatan merek yang perlu diperhatikan karena merek merupakan aset perusahaan yang paling bernilai yang dapat digunakan untuk memprediksi kelangsungan hidup perusahaan. Mengingat konsumen saat ini lebih bersifat menuntut. Mereka tidak lagi seperti duluyang menerima semua perlakuan penjual. Bahkan konsumen menginginkan sentuhan personal emosional yang tinggi. Artinya konsumen ingin agar merek dapat mengerti mereka, bukan sebaliknya.

”Merek adalah nama, istilah, tanda, simbol atau rancangan atau kombinasi dari hal-hal tersebut. Tujuan pemberian merek adalah untuk mengidentifikasi produk atau jasa yang dihasilkan sehingga berbeda dari produk atau jasa yang dihasilkan oleh pesaing” (American Marketing Association dalam Rangkuti : 2004). Bagi pemasar, merek mewakili hubungan pemasaran yang tercipta dengan konsumen. Dijelaskan dalam ”Merek merupakan salah satu pilar dalam suatu hubungan jangka panjang antara konsumen dan penjual, disamping itu tujuan merek adalah untuk menciptakan hubungan dengan pelanggan” ( Aaker dan Joachimsthler dalam Ferrinadewi : 2008). Merek yang memiliki muatan emosi akan dicintai oleh konsumen. Merek yang dibentuk suatu perusahaan harus mampu meyakinkan konsumen bahwa mereka akan mendapatkan kualitas yang konsisten ketika mereka membeli produk atau jasa tersebut.

Pemasar perlu mengembangkan cara-cara yang cerdas untuk menciptakan hubungan personal yang lebih mendalam antara merek dan konsumen. Untuk mengetahui respon konsumen terhadap sebuah merek yang berkaitan dengan nilai suatu merek maka perlu adanya Brand Equity (Ekuitas Merek). Brand Equity (Ekuitas Merek) adalah seperangkat aset dan liabilitas merek yang terkait dengan suatu merek, nama, simbol yang mampu menambah atau mengurangi nilai yang diberikan oleh suatu produk atau jasa baik pada perusahaan maupun pada pelanggan (Durianto, Sugiarto, Sitinjak, 2001 : 4). Equity atau ekuitas berarti nilai. Setiap keputusan pembelian konsumen didasarkan pada faktor-faktor yang menurut mereka penting, maka semakin banyak faktor yang dinilai penting, merek tersebut dapat dikatakan sebagai merek yang bernilai. Brand Equity (ekuitas merek) terdiri dari 4 kategori yaitu Brand Awareness (kesadaran merek), Brand Perceived Quality (persepsi kualitas merek), Brand Association (asosiasi merek) dan Brand Loyalty (loyalitas merek) (David A.Aaker dalam Rangkuti : 2004).

Diantara keempat kategori dari brand equity diatas akan sangatmenarik membahas tentang brand perceived quality (persepsi kualitas merek), karena mengingat pentingnya penciptaan persepsi dalam benak konsumen bahwa suatu merek produk maupun jasa bukan hanya sekedar nama, simbol tetapi merek produk dan jasa tersebut memiliki kualitas unggul. Persepsi konsumen terhadap kualitas adalah penilaian konsumen secara menyeluruh terhadap kinerja produk atau jasa. Dalam melakukan penilaian terhadap kinerja produk, kemampuan konsumen untuk melakukan penilaian sangat tergantung pada apakah atribut-atribut intrinsik produk dapat dirasakan, dan dievaluasi pada saat hendak melakukan pembelian (Ferrinadewi, 2008 : 61). Persepsi konsumen terhadap kualitas tidak saja penting dalam tahap pemrosesan informasi namun juga berperan pada paska konsumsi produk yaitu ketika konsumen melakukan evaluasi atas keputusan pembeliannya. Apakah konsumen merasa puas atau sebaliknya, penilaian ini pun tidak lepas dari persepsi mereka. Perceived quality dapat didefinisikan sebagai persepsi pelanggan terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk atau jasa layanan berkaitan dengan apa yang diharapkan oleh pelanggan (Durianto, Sugiarto, Sitinjak, 2001 : 96).  engukurannya akan melibatkan apa yang dianggap penting bagi pelanggan karena setiap pelanggan memiliki persepsi kepentingan yang berbeda dan diukur secara relatif.

Perceived quality juga berlaku untuk jasa layanan yang melibatkan dimensi kualitas jasa seperti waktu tunggu, keramahan petugas, kenyamanan ruangan dan lainnya. Pelanggan merasakan kepuasan yang tinggi jika harapannya jauh lebih rendah dari kinerja atau kenyataan. Dalam service jasa yang ditawarkan dibutuhkan penampilan atau kinerja yang baik agar setiap hal yang dilakukan akan diterima pelanggan dengan puas. Dibidang jasa, dimana seorang penjual harus benar-benar memberikan service kepada konsumen dengan sebaik-baiknya. Intinya adalah memberikan kepuasan. Dan untuk dapat memberikan kepuasan akan lebih baik apabila perusahaan mengetahui persepsi pelanggan pada kualitas pelayanan yang diberikan selama ini.

PT Astra International Daihatsu Cabang Solo merupakan salah satu perusahaan besar yang bergerak dibidang jasa otomotif yang melayani selling/penjualan mobil keluaran Daihatsu, bengkel yang melayani service dan perbaikan, dan spare-parts (suku cadang). PT Astra International Daihatsu Cabang Solo saat ini juga tengah dihadapkan pada permasalahan yang sama, yaitu ingin mengetahui persepsi kualitas merek dari pelayanan service BPPA (Bengkel Perawatan dan Perbaikan Astra Daihatsu Cabang Solo ) yang diberikan selama ini pada pelanggan setia Daihatsu. Karena pasar kini semakin kompetitif, kelangsungan suatu bisnis mutlak tergantung dari ada tidaknya perhatian yang besar terhadap kebutuhan pelanggan. Dengan melakukan analisis brand perceived quality perusahaan akan dapat mengetahui harapan dan persepsi pelanggan pada kualitas pelayanan di BPPA (Bengkel Perawatan dan Perbaikan Astra Daihatsu Cabang Solo). Sehingga dapat digunakan sebagai masukan perusahaan untuk mempertahankan maupun meningkatkan sistem pelayanan pada pelanggan.

Berdasarkan latar belakang tersebut, untuk mengetahui persepsi kualitas pelayanan pada BPPA (Bengkel Perawatan dan Perbaikan Astra Daihatsu Cabang Solo ) maka mencoba menganalisis kegiatan perusahaan dengan judul ”Analisis Brand Perceived Quality pada Pelayanan BPPA (Bengkel Perawatan dan Perbaikan Astra Daihatsu Cabang Solo)”.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pembangunan ekonomi pada saat ini perlu diarahkan pada terwujudnya perekonomian nasional yang mandiri dan handal berdasarkan demokrasi ekonomi untuk meningkatkan kemakmuran  seluruh rakyat secara selaras, adil dan merata. Untuk itu pertumbuhan ekonomi harus dapat diarahkan dalam peningkatan pendapatan masyarakat, mengatasi ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial. Disamping itu pertumbuhan ekonomi juga harus didukung oleh peningkatan produktivitas, efisiensi dan efektivitas sumber daya yang berkualitas. Pembangunan industri juga harus tetap ditingkatkan dan diarahkan agar sektor industri semakin menjadi penggerak utama ekonomi yang efisien, berdaya saing tinggi, mempunyai struktur yang semakin kokoh dengan pola produksi yang berkembang. Penataan dan pemantapan industri nasional yang mengarah pada penguatan, pendalaman, peningkatan perluasan dan penyebaran industri ke seluruh Indonesia, bersamaan dengan upaya peningkatan pemerataan yang meliputi peningkatan kegiatan ekonomi rakyat, kesempatan usaha, lapangan kerja serta peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.

Upaya untuk lebih meratakan pembangunan serta mengurangi kemiskinan, keterbelakangan kondisi sosial dan ekonomi masih perlu terus dilanjutkan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan mengupayakan terwujudnya kesejahteraan rakyat secara adil dan merata. Pertumbuhan ekonomi sebagai hasil pembangunan harus dapat dirasakan masyarakat melalui upaya pemerataan yang nyata dalam bentuk perbaikan pendapatan dan peningkatan daya beli masyarakat. Keberhasilan pembangunan yang dirasakan sebagai perbaikan taraf hidup oleh segenap golongan masyarakat dapat meningkatkan kesadaran rakyat tentang makna serta manfaat pembangunan sehingga motivasi rakyat makin tergugah untuk berperan aktif dalam pembangunan.

Perkembangan ekonomi dihampir semua negara pada saat ini semakin meningkat, hal ini dapat dicermati dengan adanya berbagai macam tantangan yang dihadapi setiap bangsa, yaitu mengalami kecenderungan di dominasi oleh permasalahan ekonomi, bahkan kawasan Asia Fasifik diramalkan menjadi sebuah pusat baru bagi kegiatan perekonomian dunia. Secara umum masalah yang menghadang di masa yang akan datang adalah era globalisasi dimana pasar yang semakin bebas, semakin meningkatnya kualitas sumber daya manusia, pengangguran dan besarnya jumlah pekerja yang memerlukan hak asasinya akan pekerjaan.

Angkatan kerja industri pada saat ini berkembang begitu cepat, sebagai hasil pembangunan pabrik secara besar-besaran di Indonesia terutama di pulau Jawa. Pabrik-pabrik ini merupakan bagian dari sistem pembuatan pabrik modern dalam skala besar dan merupakan daerah lingkungan bekerja dalam perekonomian Indonesia yang diharapkan mampu menyerap semakin banyak tenaga kerja saat ini dan masa depan pada saat struktur perekonomian Indonesia bergerak ke arah peningkatan basis industrialisasi. Peningkatan aktivitas produksi dalam industri, sejauh ini dipandang sebagai peluang usaha yang dapat menyerap tenaga kerja diberbagai sektor. Sejumlah inovasi teknologi yang mengarah ke produksi secara besar-besaran memang terbukti banyak memberikan kontribusi terhadap berkurangnya angka pengangguran, kemudian menjadi sumber pendapatan pajak bagi pemerintah serta menguatkan perekonomian suatu negara. Dengan adanya hal tersebut, proporsi di sektor pertanian tradisional semakin berkurang, sedangkan sektor manufaktur yang diikuti dengan sektor perdagangan dan jasa semakin penting dalam menyerap para pencari kerja baru.

Kegiatan bisnis pada umumnya bertujuan untuk mendapatkan laba dengan memproduksi dan menjual barang produksinya di pasar. Laba yang semakin besar merupakan idaman setiap perusahaan, oleh karena itu untuk mencapai hal tersebut perusahaan, dalam hal ini karyawan berusaha meningkatkan produktivitas kerjanya. Peningkatan produktivitas di sektor bisnis akan memperbanyak jumlah barang yang dijualnya. Di sisi lain untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sebagai konsumen barang, karena kebutuhannya yang terus meningkat. Masyarakat membutuhkan lebih banyak uang untuk membeli barang. Untuk memperoleh uang yang lebih banyak, masyarakat pun berupaya untuk meningkatkan produktivitas kerjanya. Dengan demikian produktivitas telah menjadi kebutuhan baik bagi masyarakat bisnis maupun masyarakat konsumen. Produktivitas akhirnya telah menjangkau kehidupan semua orang. Salah satu teori ekonomi menjelaskan bahwa, upah juga merupakan penentu daya beli masyarakat. Misalkan bila upah 30 juta pekerja Indonesia dinaikkan rata-rata Rp. 500,00 (lima ratus rupiah) per hari berarti untuk satu hari saja telah mencapai nilai Rp. 15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah). Sebagai ilustrasi, misalkan seorang pekerja yang sebelumnya membeli bakmi bakso sekali seminggu kini dapat membeli sepuluh porsi bakmi bakso dalam seminggu. Dapat dibayangkan berapa ratus miliar bakmi bakso harus diproduksi dalam satu tahun untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Pada akhirnnya produksi bakmi bakso meningkat dan keuntungan semakin berlipat.

Pembangunan di sektor ketenagakerjaan perlu dibina dan dikembangkan untuk perbaikan syarat-syarat kerja serta perlindungan karyawan menuju kepada peningkatan kesejahteraan tenaga kerja dan didukung oleh organisasi pekerja yang dipimpin dan dikelola para pekerja itu sendiri secara efisien dan efektif dalam memperjuangkan kepentingan anggotanya. Karena maju mundurnya perusahaan tidak lepas dari karyawan sebagai salah satu faktor yang memiliki peranan penting di dalam aktivitas produksi suatu perusahaan. Keberhasilan seorang manajer dalam mengelola perusahaannya untuk mencapai tujuan laba maksimum bagi perusahaan sangat tergantung kepada tingkat kemampuannya dalam mengkoordinir faktor-faktor produksi yang penting. Faktor-faktor produksi yang penting itu adalah bahan baku (materials), mesin (machines), uang (money), dan manusia (man) yang sering disebut atau disingkat dengan 4M. Disamping itu pula tidak mengesampingkan faktor-faktor produksi yang lainnya.

Banyak faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja, diantaranya adalah pemberian upah yang layak, motivasi, tingkat pendidikan, disiplin, latihan keterampilan dan sebagainya. Faktor-faktor tersebut mempunyai peranan yang sangat penting dalam upaya peningkatan produktivitas kerja untuk mencapai tujuan perusahaan. Apabila seseorang melakukan pekerjaan bagi orang lain, penghasilan yang diperolehnya disebut gaji atau upah. Kata gaji dan upah sesungguhnya berbeda, tetapi bagi seorang pegawai mempunyai arti yang sama, karena kedua kata itu menunjukkan nilai yang sama, yaitu imbalan atas hasil pekerjaan yang telah dilakukannya untuk orang lain. Upah atau gaji dalam bentuk uang merupakan bentuk upah yang lazim dipergunakan oleh setiap perusahaan atau instansi baik pemerintah maupun swasta. Bagi pegawai atau pekerja, upah dalam bentuk uang merupakan sesuatu yang sangat menggembirakan karena bukan saja mudah dibawa pulang, tetapi juga sangat luwes penggunaannya untuk keperluan hidup pekerja atau pegawai beserta keluarganya.

Adanya tuntutan dari karyawan akan kenaikan upah merupakan masalah yang hampir selalu muncul setiap tahunnya, hal ini terjadi karena biaya hidup yang terus meningkat setiap tahun. Puncak permasalahan pengupahan ini biasanya berupa pemogokan yang dilakukan oleh para karyawan terhadap perusahaannya. Pokok permasalahan mengenai pengupahan ini sebenarnya meliputi dua hal yang saling berkaitan yaitu masalah penentuan besarnya gaji/upah dan sistem penggajian/pengupahan yang akan diterapkan dalam organisasi perusahaan. Kedua masalah itu erat sekali kaitannya, karena sistem yang berbeda akan menghasilkan besaran gaji yang berbeda pula. Masalah dalam penentuan upah juga merupakan masalah yang berhubungan erat dengan masalah karyawan, dimana keberhasilan dalam menentukan besar kecilnya tingkat upah akan mempengaruhi berhasil tidaknya dalam mengatasi masalah ketenagakerjaan.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas maka dalam memberikan upah tidak terlepas dari ketentuan pemerintah tentang pemberian upah minimum. Selain itu dalam menentukan besar kecilnya tingkat upah perlu dipikirkan faktor-faktor yang mempengaruhi sehingga tidak merugikan kedua belah pihak baik bagi karyawan maupun bagi perusahaan itu sendiri. Upah sangat besar artinya bagi karyawan, baik untuk dirinya sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat, selain itu juga ada pihak-pihak yang terkait secara langsung dalam persoalan pengupahan ini. Adapun pihak-pihak yang dimaksud ialah pihak organisasi tenaga kerja dan juga pihak pemerintah. Bagi organisasi tenaga kerja, upah mencerminkan berhasil tidaknya pencapaian tujuan organisasi tenaga kerja tersebut. Apabila tingkatan upah pada umumnya relatif rendah, maka dapatlah dikatakan bahwa organisasi tenaga kerja tidak berhasil di dalam perjuangannya. Hal ini dapat menimbulkan perasaan apatis dari pihak tenaga kerja terhadap organisasi, sehingga sedikit banyak akan mempengaruhi prestasi organisasi di dalam memperjuangkan kepentingan anggotanya untuk dapat meningkatkan kesejahteraan melalui naiknya upah pekerja. Berdasarkan hal tersebut, upah merupakan faktor penting untuk mempertahankan adanya organisasi tenaga kerja. Bagi pemerintah upah merupakan indikator kemakmuran masyarakatnya. Upah yang lebih tinggi (dengan asumsi harga-harga tidak berubah atau perubahan harga lebih kecil daripada kenaikan upah) akan mencerminkan kenaikan kemakmuran masyarakat tersebut. Pemberian upah yang di dasari atau berpedoman dari upah minimum adalah suatu pemberian upah yang tepat, karena karyawan menerima balas jasa yang sudah diukur dengan layak sesuai dengan tingkat kebutuhan masyarakat untuk kesejahteraannya.

Pemberian upah yang berdasarkan pada upah minimum yang sudah diukur dengan layak dan tepat akan menimbulkan hubungan yang baik antara karyawan dengan perusahaan, sehingga tercipta suasana kerja tentram di tempat kerja (industrial place), sebab dengan demikian pihak karyawan akan merasa tenang dalam bekerja. Dalam suasana yang demikian kegairahan kerja dapat ditimbulkan, produktivitas dapat ditingkatkan sehingga dapat mendorong majunya perusahaan. Untuk meningkatkan produktivitas kerja, juga dibutuhkan motivasi kerja dari para karyawannya. Motivasi kerja yang tinggi dari karyawan akan memberikan energi dan arahan untuk bekerja dengan baik, memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi dan berupaya meningkatkan prestasi kerjanya yang akan berpengaruh terhadap produktivitas kerja karyawan. Tanpa adanya motivasi dari para karyawannya untuk bekerjasama bagi kepentingan perusahaan, maka tujuan yang telah ditetapkan tidak akan tercapai. Sebaliknya, apabila terdapat motivasi yang tinggi, maka hal tersebut merupakan salah satu jaminan atas keberhasilan perusahaan dalam mencapai tujuannya.

Seiring dengan perkembangan perekonomian, PT. Pilar Kekar Plasindo berkeinginan agar karyawan bekerja dengan kemauan dan semangat yang optimal. Keinginan dari perusahaan tersebut akan keberhasilan kerja adalah suatu masalah yang semakin rumit dengan adanya faktor-faktor yang mempengaruhi karyawan untuk lebih meningkatkan produktivitasnya. Sedangkan faktor-faktor tersebut berbeda-beda antara karyawan yang satu dengan yang lain. Walaupun pemberian upah yang layak dan motivasi kerja telah mempengaruhi perilaku karyawan dalam bekerja di perusahaan, berdasarkan masukan dari karyawan yang hanya sebagian kecil saja, perusahaan berusaha menyelaraskan program manajemen personalia dengan keinginan dan kebutuhan karyawan. Perusahaan juga berusaha menimbulkan dorongan kepada karyawan untuk lebih produktif dalam bekerja, antara lain dengan cara pemberian fasilitas transportasi, kenaikan upah dan adanya berbagai jaminan kesejahteraan untuk karyawannya.

Penelitian ini penulis lakukan pada karyawan PT. Pilar Kekar Plasindo Surakarta. Perusahaan ini bergerak dalam produksi plastik yang berusaha meningkatkan produktivitas perusahaan, sehingga mampu menghadapi persaingan yang semakin ketat. Perusahaan mengadakan berbagai kebijakan dalam meningkatkan produktivitasnya. Kebijakan yang menarik menurut peneliti adalah perbaikan manajemen personalianya dengan memberikan upah yang layak dan motivasi kerja kepada karyawan di perusahaan tersebut. Berdasarkan hal tersebut dapatlah diketahui bahwa dengan adanya pemberian upah yang layak dan motivasi kerja yang tinggi akan dapat memberikan dorongan dan rangsangan pada karyawan untuk bekerja lebih giat dan bersemangat, sehingga dapat meningkatkan produktivitas kerja yang tinggi guna mendukung tercapainya tujuan perusahaan. Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, peneliti merasa tertarik untuk mengadakan penelitian tentang HUBUNGAN ANTARA UPAH, MOTIVASI KERJA DENGAN PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN PADA PT. PILAR KEKAR PLASINDO SURAKARTA TAHUN 2004 – 2005.


Agar artikel ini bisa bermanfaat bagi orang banyak dalam komunitas anda… bantu saya untuk menginfomasikannya pada teman-teman anda di Facebook , Twitter, atau Email.

Jika Bermanfaat Berbagilah...

Leave a Reply

Current day month ye@r *

Email
Print