HP CS Kami 0852.25.88.77.47(AS), 0857.0.1111.632(IM3), email:IDTesis@gmail.com

Hubungan Antara Preeklampsia Berat Dengan Asfiksia Perinatal di RSUD dr Moewardi Surakarta

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah :
Kematian bayi merupakan salah satu indikator dari derajat kesehatan masyarakat. Angka kematian bayi sangat dipengaruhi oleh angka kematian perinatal. Di Kabupaten Kulon Progo angka kematian perinatal mengalami peningkatan yang cukup tajam yaitu sebesar 8,98 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2001 menjadi 19,17 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2002 (Suparjono, 2003). Dengan angka kematian bayi sebesar 35 per 1.000 kelahiran hidup dan angka kematian balita sebesar 46 per 1.000 kelahiran hidup, Indonesia berada di jalur yang baik dalam upaya mencapai sasaran. Tujuan Pembangunan Milenium untuk mengurangi angka kematian bayi dan balita. Meskipun demikian, angka kematian antar provinsi bisa sangat berbeda satu sama lain. Demikian juga halnya dengan wilayah perkotaan dan pedesaan, 76% kematian anak balita terjadi pada usia dibawah 12 bulan, dan sebanyak 45% kematian bayi terjadi pada usia dibawah 28 hari (neonatal). Tiga penyebab utama kematian bayi adalah komplikasi perinatal (dibawah usia 7 hari), infeksi pernapasan akut, dan diare. Sekitar sepertiga kematian balita dan separuh kematian bayi terjadi pada masa perinatal (dibawah usia 7 hari), yang berkaitan dengan layanan penting selama kehamilan dan persalinan (Unicef, 2006).

Penyebab kematian bayi dapat bermula dari masa kehamilan 28 minggu sampai hari ke-7 setelah persalinan (masa perinatal). Penyebab kematian bayi yang terbanyak adalah karena pertumbuhan janin yang lambat, kekurangan gizi pada janin, kelahiran premature, dan berat bayi lahir rendah yaitu sebesar 40,68%. Sedangkan penyebab lainnya yang cukup banyak terjadi adalah kurangnya oksigen dalam rahim (hipoksia intrauterus) dan kegagalan nafas secara spontan dan teratur pada beberapa saat setelah lahir (asfiksia lahir), yaitu 25,13%. Hal ini dapat diartikan bahwa 65,8% kematian bayi pada masa perinatal dipengaruhi pada kondisi ibu saat melahirkan (Depkes, 2005). Menurut penelitian terdahulu di Rumah Sakit Dokter Moewardi Surakarta didapatkan angka kejadian preeklampsia adalah 6,7% sedangkan jumlah kelahiran hidup dan yang terjadi asfiksia sekitar 11,72%. Apabila terdapat hubungan yang bermakna antara preeklampsia berat dengan asfiksia perinatal maka dapat dilakukan usaha koreksi untuk dapat mencegah ataupun melakukan koreksi terhadap preeklampsia berat maupun terhadap asfiksia perinatal yang terjadi (Rofi’I, 1999).

Incoming search terms:

Agar artikel ini bisa bermanfaat bagi orang banyak dalam komunitas anda… bantu saya untuk menginfomasikannya pada teman-teman anda di Facebook , Twitter, atau Email.

Jika Bermanfaat Berbagilah...

Leave a Reply

Current day month ye@r *

Email
Print