HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp), 0857.0.1111.632(IM3), email:IDTesis@gmail.com BBM:2B7D0DB6

Hubungan Antara Persepsi Karyawan Terhadap Penerapan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3) Dengan Stres Kerja Bagian Weaving II PT

ABSTRAK

Stres kerja merupakan suatu keadaan atau kondisi yang muncul akibat ketidaksesuaian antara individu dengan lingkungan pekerjaan yang dirasakan tidak menyenangkan sehingga menyebabkan seseorang merasa tertekan. Persepsi karyawan terhadap penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah pandangan karyawan terhadap apa yang diberikan oleh perusahaan, yang bertujuan supaya karyawan terjaga dan terjamin keselamatan dan kesehatan kerjanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi karyawan terhadap Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (X) dengan Stres Kerja (Y) karyawan bagian weaving II PT. Batam Tekstil Industri Ungaran. Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan bagian produksi weaving PT. Batam Tekstil Industri Ungaran. Jumlah populasi dalam penelitian ini sebanyak 454 karyawan, diambil sebanyak 130 karyawan yang berada di Weaving II, tetapi hanya 40 karyawan yang memenuhi syarat sebagai sampel penelitian. Sampel diambil dengan menggunakan purposive sampling, yaitu pengambilan sampel dengan cara mengambil subjek bukan didasarkan atas strata atau random atau daerah tetapi didasarkan atas tujuan tertentu yaitu karyawan yang mengalami stres. Data penelitian diambil dengan menggunakan skala Stres Kerja dan Skala Persepsi Karyawan Terhadap Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Metode analisis data yang digunakan adalah korelasi product moment.

Hasil analisis data yang dilakukan menunjukkan adanya hubungan antara persepsi karyawan terhadap Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja dengan Stres Kerja dengan koefisien korelasi -0,506, nilai koefisien korelasi tersebut bernilai negatif, yang artinya Semakin positif persepsi karyawan terhadap Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), maka tingkat Stres Kerja rendah. Begitupula sebaliknya semakin negatif persepsi karyawan terhadap Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), maka tingkat Stres Kerja tinggi”. Sedangkan nilai koefisien determinasi 0,256 yang artinya 25,6% Stres Kerja dapat dijelaskan oleh persepsi karyawan terhadap penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dan sisanya 74,4% dipengaruhi oleh faktor lain Disarankan bagi perusahaan untuk menekan seminimal mungkin terjadinya kecelakaan kerja dan mengurangi stres kerja, dengan jalan antara lain menerapkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dengan baik dan tepat. Hal tersebut dapat dilakukan dengan sering diadakan sosialisasi tentang manfaat dan arti pentingnya Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) bagi karyawan, seperti misalnya dengan pemberitahuan bagaimana cara penggunaan peralatan, pemakaian alat pelindung diri, cara mengoperasionalkan mesin secara baik dan benar. Selain itu perusahaan harus meningkatkan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) serta menerangkaan prinsipprinsip Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dalam kegiatan operasional.

Kata Kunci : Stres Kerja, persepsi karyawan terhadap penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Untuk mendapatkan daftar lengkap contoh skripsi psikologi lengkap / tesis psikologi lengkap, dalam format PDF, Ms Word, dan Hardcopy, silahkan memilih salah satu link yang tersedia berikut :

Contoh Tesis

Contoh Skripsi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Manusia dalam suatu organisasi selalu berinteraksi dengan lingkungan termasuk lingkungan perusahaan. Lingkungan kerja yang menantang dan kompleks, serta makin cepatnya perubahan yang terjadi menuntut individu untuk bisa menyesuaikan diri dengan dunia kerjanya. Di dalam proses penyesuaian diri ini, dirasa penting untuk mengetahui kondisi lingkungan yang bisa mengancam dan membahayakan diri. Dalam melakukan segala aktifitasnya, manusia memerlukan pemikiran yang dinamis agar segala aktifitasnya dapat berjalan dengan baik. Di sisi lain, manusia memiliki keterbatasan-keterbatasan, antara lain mengalami kelelahan, terbatas tenaganya. Pekerjaan yang berat serta tuntutan kerja yang tinggi perusahaan menyebabkan individu sering mengalami kecemasan, kejenuhan dan juga mengakibatkan stres. Individu akan cenderung mengalami stres apabila kurang mampu mengadaptasikan keinginan-keinginan dengan kenyataan-kenyataan yang ada, baik kenyataan yang ada di dalam maupun di luar dirinya. Segala macam bentuk stres, pada dasarnya disebabkan oleh kekurangmengertian manusia akan keterbatasan-keterbatasannya sendiri. Ketidak mampuan untuk melawan keterbatasan inilah yang akan menimbulkan frustrasi, konflik, gelisah dan rasa bersalah. Istilah stres sering digunakan untuk menunjuk suatu kondisi dinamik, yang didalamnya, individu dikonfrontasikan dengan suatu peluang, kendala (constains), atau tuntutan (demands) yang dikaitkan dengan apa yang sangat diinginkannya dan yang hasilnya dipersepsikan sebagai tidak pasti dan penting (Robbins, 2003:376). Istilah stres merupakan istilah yang netral, artinya stres tidak harus mempunyai nilai negatif, stres juga mempunyai nilai positif. Stres merupakan suatu peluang bila stres itu menawarkan perolehan yang potensial. Namun disisi lain, stres dapat membahayakan individu karena diakibatkan oleh suatu pekerjaan yang dapat mengancam keselamatan seseorang.

Dalam dunia kerja, individu tidak bisa melepaskan diri dari stressor, baik dari diri sendiri maupun lingkungan. Biasanya munculnya stres yang dialami oleh karyawan disebabkan oleh sumber-sumber stres, sumber-sumber stres yang biasanya muncul antara lain sumber stres di dalam diri seseorang, didalam keluarga, sumber stres di dalam komunitas dan lingkungan dan sumber stres akibat pekerjaan. Di dalam perusahaan, stres kerja sering dialami oleh karyawan dikarenakan kondisi lingkungan dan kurangnya kemampuan adaptasi karyawan. Bisa dikenali, bahwa penyebab munculnya stres kerja antara lain lingkungan fisik yang terlalu menekan, seperti kebisingan, temperatur, penerangan, kurangnya kontrol yang dirasakan, kurangnya hubungan interpersonal dan kurangnya pengakuan terhadap kemajuan kerja. Di sisi lain faktor lingkungan kerja merupakan hal yang perlu diperhatikan. Diduga lingkungan merupakan salah satu stressor bagi karyawan. Salah satu gambaran adalah kasus kecelakaan kerja yang mengalami kenaikan yang terjadi di Jakarta, sejak 2003 sampai triwulan pertama 2004 tercatat terjadi 20.937 kasus kecelakaan kerja, atau 49 kasus perhari. Dari jumlah itu, 5 korban di antaranya meninggal dunia. Namun sampai Agustus 2004, jumlah kecelakaan kerja menggelembung hingga 86.880 kasus, atau 143 kasus perhari. (Suara Merdeka, 30 Nov 2005. hal 5). Dari 125 perusahaan yang mengalami kasus kecelakaan diatas ditetapkan empat perusahaan yang mengalami kasus kecelakaan kerja terbanyak, yakni PT Total E&P Indonesia (kategori Industri Pertambangan, Minyak, dan Gas), PT Nestle Indonesia (Industri Consumer Goods), PT Amoco Mitsui PTA Indonesia dan PT Wijaya Karay (Industri lainnya). Pemerintah memiliki keterbatasanketerbatasan dalam menangani masalah Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Di pihak lain, kesadaran untuk menerapkan prinsip keselamatan kerja pada perusahaan masih rendah. Adapun penelitian yang dilakukan oleh Prayitno (1993) dalam (Seminar Nasional Ergonomi, 2004:900) tentang job-stress yang dilakukan di Indonesia diantaranya adalah stres okupasional yang diteliti pada 52 orang staf perusahaan minyak lepas pantai menunjukkan bahwa yang terpapar pada stressor berat terdapat 40.38% dan yang menderita penyakit jantung koroner 4.5%. Dengan melihat hasil penelitian yang dilakukan oleh Prayitno di atas penulis disini akan membahas pokok permasalahan yang terjadi pada PT. Batam Textile Industry Ungaran.

Pada tahun 1971 didirikan sebuah perusahaan di atas tanah seluas 6 Ha dengan lokasi di desa Langensari, Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang yang diberi nama PT. Batam Textile Industry (PT. Batamtex). PT. Batam Textile Industry merupakan perusahaan yang bergerak dibidang produksi, produksinya menghasilkan beraneka ragam produk tekstil yang lain (benang, kain, dry printing) kecuali garmen. Pada bagian produksi jumlah karyawannya mencapai 2808 karyawan lebih. Bagian produksi ini terdapat 9 unit produksi antara lain: Office (42 karyawan), Spinning atau pemintalan (1125), Weaving atau pertenunan (897), DPF atau pabrik pencelupan (361 karyawan), Utility (137 karyawan), GMO (72 karyawan), Security (84 karyawan), Gudang (64 karyawan), SHE (26 karyawan). Kasus kecelakaan kerja pada Pt. Batam Textile Industry antara bulan Juni 2002 – bulan Mei 2004 terdapat 196 kecelakaan kerja. Kecelakaan kerja yang terjadi pada bulan Juni 2002 – bulan Desember 2002 terdapat 59 kasus kecelakaan kerja, bulan Januari 2003 – bulan Desember 2003 terdapat 79 kasus kecelakaan kerja, dan bulan Januari 2004 – bulan Mei 2004 terdapat 58 kasus kecelakaan kerja. Kemudian kasus kecelakaan kerja yang terjadi pada bulan Januari 2005- bulan Desember 2005 terdapat 187 kasus kecelakaan kerja. Pada bagian unit produksi yang tingkat kecelakaan kerjanya paling tinggi adalah bagian Weaving atau pertenunan. Pada bagian produksi ini terdapat lebih dari 77 kasus kecelakaan kerja, misalnya telapak tangan kanan tertusuk griper pada waktu memasang sisir mesin tenun, sewaktu bekerja ibu jari tangan kanan terjepit mesin sisir kuku lepas,

Tags:
Leave a Reply

Current ye@r *

Alamat :

Jl Veteran Gang Satria UH II / 1060 Muja-Muju Kecamatan Umbulharjo Yogyakarta (Belakang Pegadaian Syariah Jln Veteran)

HP AS : 0852.2588.7747 

HP IM3 : 0857.0.1111.632

Stat