HP CS Kami 0852.25.88.77.47(AS), 0857.0.1111.632(IM3), email:IDTesis@gmail.com

Gerakan 3R dalam Pengelolaan Sampah di Jepang sebagai Praktik Sosial: Analisis dari Teori Strukturasi Giddens

ABSTRAK

Skripsi ini membahas tentang pelaksanaan gerakan 3R -Reduce, Reuse, Recycledalam pengelolaan sampah padat perkotaan di Jepang sebagai praktik sosial menurut teori strukturasi yang dikemukakan oleh Giddens. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui sumber sekunder seperti: buku-buku, data statistik, laporan penelitian, jurnal, dan publikasi elektronik. Dengan mengacu pada teori strukturasi, hasil penelitian membuktikan bahwa gerakan 3R dalam pengelolaan sampah padat perkotaan di Jepang adalah benar praktik sosial yang mengintegrasikan agen dan struktur.

Kata Kunci: 3R (Reduce, Reuse, Recycle), pengelolaan sampah padat perkotaan, praktik sosial, struktur, agen, teori strukturasi

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Sampah merupakan salah satu permasalahan kompleks yang dihadapi, baik oleh negara-negara berkembang maupun negara-negara maju di dunia. Masalah sampah merupakan masalah yang umum dan telah menjadi fenomena universal di berbagai negara belahan dunia manapun, dengan titik perbedaannya terletak pada seberapa banyak sampah yang dihasilkan.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) mengartikan sampah sebagai benda yang dibuang karena tidak terpakai dan tidak dapat digunakan lagi. Sejalan dengan KBBI, Waste Management Law dalam UU No. 137/1970 pada pasal 2 ayat (1), mendefinisikan sampah sebagai materi dalam wujud padat ataupun cair yang dibuang karena tidak diperlukan lagi. Selanjutnya, Waste Business Journal (n.d.) menambahkan bahwa sampah yang berwujud cair umumnya disebut sebagai limbah, sedangkan sampah yang berwujud padat disebut sampah padat.

Terlepas dari wujudnya, secara umum, sampah itu sendiri dapat dibedakan menjadi dua kategori yaitu: sampah industri dan sampah umum. Sampah industri adalah sampah-sampah yang dihasilkan dari aktivitas produksi (Kawasaki 2005: 1). Sampah industri pun dibedakan lagi menjadi dua jenis yaitu: sampah industri terkontrol khusus dan sampah industri lainnya -termasuk di dalamnya limbah industri-. Sementara, semua sampah di luar kategori sampah industri disebut sebagai sampah umum, dan secara garis besar dibagi menjadi tiga yaitu: sampah umum terkontrol khusus, limbah umum dan tinja, dan sampah umum lainnya atau yang lebih dikenal dengan nama Municipal Solid Waste (NREL 1993: 44; Fujiso?go?kenkyu?jo 2001: 10; Kawasaki 2005: 1). Penjelasan lebih lanjut mengenai jenis sampah dapat dilihat pada bab tiga, sementara pada bab ini hanya akan dijelaskan sedikit gambaran mengenai Municipal Solid Waste (MSW).

Municipal Solid Waste (MSW) atau “sampah padat perkotaan” adalah jenis sampah umum yang mencakup sampah rumah tangga, sampah badan komersil, sampah di area-area umum, dan ada kalanya sampah hasil treatement plant site yang dikumpulkan oleh municipality1 dalam wilayah tertentu (NREL 1993: 62). Dengan kata lain, MSW didominasi oleh sampah rumah tangga, yang jumlahnya paling banyak dibandingkan dengan sampah dari badan komersil, area umum, maupun treatment plant site.

Dalam rangka membatasi ruang lingkup penelitian, maka skripsi ini hanya akan memfokuskan pembahasan pada lingkup Municipal Solid Waste (MSW) atau “sampah padat perkotaan,” khususnya sampah rumah tangga. Hal ini didasari atas pertimbangan bahwa sampah rumah tangga merupakan sampah yang paling mendominasi di daerah perkotaan, dan dinilai sebagai masalah yang paling dekat dengan kehidupan manusia, karena hampir setiap aktivitas yang dilakukan oleh ayah, ibu, anak-anak, dan anggota keluarga lainnya dalam sebuah rumah tangga setiap harinya berpeluang menghasilkan sampah-sampah baru. Dengan demikian, sampah rumah tangga dapat dikatakan sebagai suatu masalah yang cukup penting untuk dikaji lebih dalam lagi.

Berbicara mengenai timbunan sampah perkotaan di suatu negara, pastinya tidak terlepas dari tiga faktor utama yang mempengaruhi yaitu: tingkat konsumsi, tingkat pendapatan, dan kepadatan penduduk di daerah perkotaan (World Bank 1999: 5). Tingkat konsumsi masyarakat dianggap sangat mempengaruhi timbunan sampah pada suatu wilayah atau negara (Pramono 2004: 3). Pola hidup konsumtif yang digambarkan dalam tingginya tingkat konsumsi, mendorong orang tidak hanya memenuhi kebutuhan primer, namun juga mengejar kebutuhan sekunder maupun kebutuhan tersiernya. Hal ini, pada akhirnya, merubah jenis dan jumlah sampah yang dihasilkan oleh individu setiap harinya (Wardhani 2007: 57).

Dengan begitu, dapat kita pahami bahwa pada zaman yang modern ini, sampah yang dihasilkan semakin hari semakin bervariasi jenis dan bertambah jumlahnya. Selain itu, tingkat pendapatan nasional dan kepadatan penduduk di daerah perkotaan turut dinilai sebagai faktor yang menentukan rata-rata tingkat timbunan sampah pada suatu negara. Umumnya, semakin makmur suatu negara, semakin tinggi persentase populasi penduduk di daerah perkotaan, maka semakin banyak sampah yang dihasilkan (World Bank 1999: 5), hal ini dapat dibuktikan pada tabel berikut ini.

Tabel 1 Rata-Rata Sampah di Kawasan Asia (1995)
6 4 Gerakan 3R dalam Pengelolaan Sampah di Jepang sebagai Praktik Sosial: Analisis dari Teori Strukturasi Giddens

Sumber: World Bank (1999), hlm. 42, telah diolah kembali.

Dari tabel, dapat diketahui bahwa Jepang mempunyai tingkat pendapatan nasional perkapita tertinggi pada tahun 1995, khususnya untuk kawasan Asia, yaitu sebesar 39.640 US$, dan tertinggi kedua di kawasan dunia setelah Amerika Serikat (Karpel, 2006). Sebagai salah satu negara di Asia, Jepang termasuk dalam kategori negara yang sangat produktif dalam memproduksi sampah. Rata-rata sampah padat perkotaan yang dihasilkan oleh Jepang saja pada tahun 1995 adalah sebesar 1,47 kg/kapita/hari, jumlah tersebut jauh lebih besar dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya, yang notabene kebanyakan jumlah sampahnya tidak sampai 1 kg/kapita/hari.

Jika dibandingkan dengan negara-negara maju lainnya, prestasi Jepang dalam menghasilkan sejumlah sampah tidak dapat dipandang remeh. Berdasarkan data dalam World Bank (1999), diketahui bahwa yang menempati posisi pertama produksi sampah di dunia pada tahun 1995 adalah Amerika Serikat dengan rata-rata 2 kg/kapita/hari, disusul Australia dengan 1,89 kg/kapita/harinya pada posisi kedua, kemudian diikuti oleh Kanada dengan 1,8 kg/kapita/hari di posisi ketiga, lalu posisi keempat Finlandia dengan 1,7 kg/kapita/hari, Islandia dengan 1,53 kg/kapita/hari di posisi kelima, sampai akhirnya Jepang tampil di posisi keenam mewakili wilayah Asia dengan 1,47 kg/kapita/hari mengalahkan negara-negara maju lainnya.

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa Jepang yang termasuk dalam kategori negara dengan populasi sangat padat dan kebanyakan kegiatan industri serta populasinya terpusat di kota, dikatakan mempunyai rata-rata sampah padat perkotaan yang tinggi. Jika ditelusuri melalui sejarahnya, dapat diketahui bahwa penyebab tingginya angka rata-rata sampah padat perkotaan (kg/kapita/hari) yang dihasilkan di Jepang adalah karena dulu Jepang pernah mengalami suatu periode panjang dalam pertumbuhan ekonomi yang menitikberatkan pada produksi massal, konsumsi massal, dan pembuangan massal (METI, 2006). Konsekuensinya adalah saat ini Jepang tengah menghadapi berbagai persoalan lingkungan yang menekan, seperti kekurangan lahan untuk penimbunan sampah, dan ancaman kehabisan sumber daya alam untuk masa yang akan datang (Kawasaki 2005: 2). Belum lagi, kesulitan memperoleh tanah yang sesuai untuk lokasi pembuangan akhir semakin meningkat setiap tahun (Tanaka 1999: 11).

Berangkat dari kondisi yang demikian, pemilihan Jepang sebagai studi kasus dalam skripsi ini didasari oleh dua pertimbangan yakni: Pertama, Jepang mempunyai rata-rata produksi sampah tertinggi, khususnya di wilayah Asia, dan mempunyai peringkat produksi sampah yang tidak kalah dengan negara-negara maju lainnya di dunia pada umumnya. Kedua, penulis menyadari bahwa ada suatu persoalan menarik mengenai sampah di Jepang, dimana Jepang disebut-sebut tengah menghadapi persoalan ganda yaitu: di satu sisi, Jepang sangat produktif dalam menghasilkan sejumlah sampah, namun pada sisi lain dapat dilihat bahwa Jepang mengalami berbagai persoalan yang menekan seperti: kekurangan lahan untuk penimbunan sampah, kesulitan memperoleh lahan untuk pembuangan akhir, dan ancaman akan kehabisan sumber daya alam untuk masa yang akan datang. Semua persoalan ini dinilai dapat menghambat pertumbuhan ekonomi Jepang. Untuk dapat mempertahankan pembangunan negara di masa depan, maka pemerintah Jepang berusaha memfokuskan perhatiannya pada persoalan sampah. Dari pada memandang persoalan itu sebagai faktor yang menekan pertumbuhan ekonominya, dikatakan dalam METI (2006) bahwa Jepang lebih memilih jalan proaktif dalam menangani persoalan sampahnya. Dengan berlandaskan pada kerangka hukumnya, seperti: Waste Management Law pada tahun 1970; Law for Promotion of Utilization of Recycled Resources pada tahun 1991; Containers and Packaging Recycling Law pada tahun 1995; Home Appliance Recycling Law pada tahun 1998; Foundation Law for Establishing a Sound Material-Cycle Society, Law for Promotion of Effective Utilization of Resources, Green Purchasing Law, dan Food Recycling Law pada tahun 2000 (MOE, 2003); pemerintah Jepang berusaha secara aktif mengajak seluruh elemen masyarakat -produsen, konsumen, dan municipality- untuk turut berperan aktif dalam pengelolaan sampah di Jepang.

Berkenaan dengan hukum-hukum diatas, dapat dipahami bahwa gerakan 3R tengah menjadi pusat perhatian dalam pengelolaan sampah di Jepang. Gerakan 3R yang dimaksud itu adalah gerakan mereduksi jumlah sampah yang dihasilkan ‘Reduce’, gerakan memanfaatkan kembali komponen sampah yang masih dapat digunakan ‘Reuse’, dan gerakan daur-ulang produk bekas pakai sebagai sumber daya baru ‘Recycle’ (MOE, 2003). Penekanan pada gerakan 3R dalam mengelola sampah menjadi barang bermanfaat telah dijadikan orientasi utama di Jepang, karena di samping dapat mengurangi beban pada tempat pembuangan akhir, juga dapat mengurangi konsumsi akan sumber daya alam, dan meringankan beban pada lingkungan (Kawasaki 2005: 2). Berpijak pada kondisi tersebut, skripsi ini menganalisis gerakan 3R dalampengelolaan sampah di Jepang sebagai praktik sosial menurut teori strukturasi yang dikemukakan oleh Giddens (1984).

Penggunaan teori strukturasi dalam penelitian ini didasarkan atas beberapa pertimbangan. Pertama, teori strukturasi Giddens tidak hanya berbicara di dalam tataran konseptual saja, tetapi juga mampu diterapkan dalam penelitian sosial dan berkaitan langsung dengan fenomena yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Seperti halnya, fenomena gerakan 3R dalam pengelolaan sampah juga merupakan sebuah fenomena umum dan universal yang eksis di masyarakat, sehingga pemakaian teori itu dianggap relevan dengan kajian dalam skripsi ini. Kedua, menurut hemat saya, teori strukturasi jauh lebih berhasil dalam menjembatani kesenjangan, ketegangan, dan kaitan antara apa yang dalam “republik teori ilmu sosial” disebut analisis pada dataran agen dan tataran struktur. Oleh sebab itu, teori strukturasi dianggap mampu menjelaskan masalah penelitian yang memang menyangkut analisis pada lingkup agen dan struktur. Ketiga, didasarkan pada pertimbangan bahwa teori strukturasi lebih relevan jika diterapkan dalam masyarakat yang karakteristiknya sudah digolongkan sebagai masyarakat yang rasional, maka seyogyanya penggunaan teori ini dianggap sejalan dengan masalah penelitian yang mengambil studi kasus Jepang, yang notabene masyarakatnya sudah rasional.

Untuk memesan judul-judul SKRIPSI / TESIS atau mencari judul-judul yang lain silahkan hubungi Customer Service kami, dengan nomor kontak 0852.2588.7747 (AS) atau 0857.0.1111.632 (IM3)

Agar artikel ini bisa bermanfaat bagi orang banyak dalam komunitas anda… bantu saya untuk menginfomasikannya pada teman-teman anda di Facebook , Twitter, atau Email.

Jika Bermanfaat Berbagilah...

Leave a Reply

Current day month ye@r *

Email
Print