HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp), 0857.0.1111.632(IM3), email:IDTesis@gmail.com BBM:2B7D0DB6

Disiplin Berlalu Lintas Pada Remaja Pengendara Sepeda Motor Ditinjau Dari Motivasi Keselamatan Diri dan Jenis Kelamin

INTISARI

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara empiris hubungan motivasi keselamatan diri dan tingkat disiplin berlalu lintas pada remaja pengendara sepeda motor dan tujuan lain yang ingin diketahui adalah perbedaan antara pria dan wanita dalam hal disiplin berlalu lintas. Subyek dalam penelitian ini adalah remaja pengedara motor, dengan batasan usia 16-21 tahun. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Incindental sampling Analisis statistik yang digunakan adalah korelasi product moment dan uji-t. Hubungan variabel motivasi keselamatan diri dengan disiplin berlalu lintas menunjukkan nilai rxy = 0,494 dengan p < 0,01 berarti ada hubungan positif yang sangat signifikan antara motivasi keselamatan diri dengan disiplin berlalu lintas. Perbedaan disiplin berlalu lintas antara remaja pria dengan remaja wanita diperoleh nilai t = -2,143 dengan p < 0,05 yang berarti menunjukkan adanya perbedaan tingkat kedisiplinan. Tingkat kedisiplinan remaja wanita lebih tinggi daripada remaja pria dengan nilai rerata remaja wanita 145,133 lebih tinggi daripada remaja pria 140,267.

Untuk mendapatkan daftar lengkap contoh skripsi psikologi lengkap / tesis psikologi lengkap, dalam format PDF, Ms Word, dan Hardcopy, silahkan memilih salah satu link yang tersedia berikut :

Contoh Tesis

Contoh Skripsi

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Harus diakui bahwa keadaan lalu lintas di Indonesia sampai saat ini belum sesuai dengan yang diharapkan. Dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 14 tahun 1992, tentang lalu lintas dan Angkutan Jalan Raya yang lebih dikenal dengan UULAJR tersebut tertunda selama satu tahun karena sesuatu hal dan baru berlaku pada tanggal 17 September 1993 ( Kompas, 12 Agustus 1992). Banyak pihak yang keberatan dan tidak setuju dengan diberlakukannya UULAJR tersebut karena alasan besarnya denda yang dikenakan pada pelanggar lalu lintas. Padahal para pemakai jalan raya tidak bisa yakin bahwa tidak akan melanggar meskipun telah berusaha untuk sengaja tidak akan melanggar rambu lalu lintas. Hal ini karena beberapa rambu sulit dipahami artinya, kurang menonjol tempatnya sehingga sulit dipersepsi, atau sering didapati rambu yang sudah tidak jelas lagi gambarnya. Untuk dapat mewujudkan lalu lintas yang baik, maka diperlukan suatu ketaatan. Usaha ketaatan diri terhadap hukum dan peraturan tidak berhenti pada keadaan lahiriah, melainkan harus merupakan daya upaya, agar ketaatan itu meresap dan membaku sehingga membentuk sikap dan tingkah laku yang terpola dan ketaatan ini lazim dinamakan disiplin.

Disiplin secara terminologi menurut Purwodarminto (1983, h. 254) adalah merupakan latihan ketaatan batin dan watak dengan maksud supaya segala perbuatannya selalu metaati tata tertib. Disiplin tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan harus ditumbuhkan, dikembangkan dan diterapkan dalam semua aspek dengan menerapkan sangsi, ganjaran dan hukuman sesuai dengan perbuatanya. Pada usia remaja, ketaatan pada peraturan lalu lintas diharapkan timbul dari diri remaja sendiri. Remaja diharapkan menyadari mengapa harus mentaati peraturan lalu lintas. Masa remaja dianggap paling rawan dibandingkan dengan fase-fase perkembangan lainnya. Ausubel (dalam Monks dkk , 1989, h. 253) menggolongkan remaja dalam status interim, yaitu suatu masa perkembangan yang berada diantara masa kanak-kanak dan dewasa. Gangguan pada masa remaja umumnya muncul dalam bentuk kenakalan remaja seperti penyalahgunaan obat, perkelahian, pelanggaran dan adanya pertentangan antara remaja dengan pihak lain ( Jersild, 1978, h. 3-20 ) Penelitian Fatnanta (dalam Wismantono, 1994, h.6) menunjukkan bahwa pelanggaran peraturan lalu lintas pada umumnya adalah remaja dan biasanya berupa pelanggaran tidak mematuhi rambut-rambu lalu lintas, tidak menggunakan helm pengaman, tidak membawa SIM atau STNK, menyerobot lampu merah, kelengkapan kendaraan kurang dan kebut-kebutan di jalan raya. Pelanggaran kelengkapan surat surat kendaraan paling banyak dilakukan pelajar dibawah umur 15 tahun, kebanyakan dari mereka belum mempunyai SIM ( Suara Merdeka, edisi April, 2000 ).

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kedisiplinan berlalu-lintas yaitu faktor extern dan intern. Faktor extern meliputi sosial budaya, sosial ekonomi dan pendidikan sedangkan faktor intern meliputi sikap individu dan kesadaran individu. Individu yang memiliki kesadaran yang tinggi akan selalu berorientasi pada keselamatan diri di jalan. ( Prijodarminto, 1994, h.2 ) Dari berbagai faktor tersebut faktor motivasi keselamatan diri merupakan hal yang menarik untuk dilihat lebih jauh. Orang seringkali mengemukakan bahwa setiap tingkah laku manusia mempunyai motivasi. Penggerak tingkah laku ke arah suatu tujuan dengan didasari suatu kebutuhan. Motivasi merupakan unsur psikologis untuk mendorong seseorang melakukan tindakan tertentu. Motivasi adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai tujuan (Gunarsa, 1989, h. 115). Chaplin (1997, h.442) mendefinisikan motif keselamatan adalah kecenderungan mencari jaminan, keamanan dan perlindungan. Berkaitan dengan keselamatan diri para pengendara motor yang mempunyai suatu kebutuhan yang diarahkan kepada keselamatan diri pada saat mengendarai motor.

Namun pada kenyataannya motivasi keselamatan diri pada pengendara motor tidak selalu diimbangi dengan kedisiplinan mematuhi peraturan dan rambu lalu-lintas. Banyak pengendara motor masih ugal-ugalan dan beranggapan yang penting selamat tanpa mengidahkan peraturan dan rambu lalu-lintas. Seorang yang mempunyai motivasi keselamatan diri belum tentu akan menampakkan tingkat kedisiplinan yang baik pula, tetapi juga tidak menutup kemungkinan seseorang yang mempunyai motivasi keselamatan diri yang tinggi akan menampakkan tingkat kedisiplinan yang tinggi pula, dan akan lebih mudah untuk melakukan penyesuaian diri terhadap masalahmasalah yang dihadapinya di jalan raya. Motivasi keselamatan diri sebenarnya tidak hanya mempengaruhi diri sendiri tetapi juga mempengaruhi banyak pengguna jalan lainnya. Apabila setiap orang mempunyai motivasi keselamatan diri maka akan terjadi motivasi keselamatan bersama. Disiplin juga dipengaruhi faktor jenis kelamin. Hurlock (1993, h.95) mengatakan bahwa orang tua pada umumnya lebih keras terhadap anak perempuan daripada anak laki-lakinya. Kehidupan sosial remaja pria sebagian besar waktunya dihabiskan untuk bersosialisasi dengan teman sebaya sehingga sikap remaja juga dipengaruhi oleh lingkungan luas atau teman sebaya. Pengaruh negatif dari teman sebaya ini akan menimbulkan sikap remaja yang menyimpang atau melanggar norma (Soekanto, 1996, h. 19). Pada umumnya pelanggaran lebih sering dilakukan pria daripada wanita. Hal ini dikarenakan pria bersifat rasional, lebih aktif, agresif sedangkan wanita lebih pasif dan emosional (Kartono, 1992, h.182) Adanya sifat sifat yang demikian menyebabkan wanita takut melakukan pelanggaran dibandingkan pria sehingga mendorong wanita untuk berperilaku sesuai dengan norma dan  hukum yang berlaku.

Remaja pria memiliki karakteristik bersikap acuh tak acuh terhadap lingkungan sebaliknya , remaja wanita memiliki kebutuhan akan rasa aman yang tinggi dari lingkungannya sehingga remaja wanita berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungannya dan berusaha memenuhi tuntutan norma masyarakat dengan cara tidak melanggar norma dan aturan masyarakat (Egleson, 1987, h. 36). Wanita cenderung bersikap pasif sesuai dengan kodrat kewanitaannya. Hal ini dijelaskan bahwa wanita lebih dapat menerima aturan aturan dan norma-norma yang menyesuaikan diri dengan lingkungan dibanding dengan remaja pria (Simanjuntak, 1984, h. 88). Perbedaan sikap terhadap norma masyarakat antara remaja pria dengan remaja wanita dapat diasumsikan pula sebagai perbedaan disiplin, dimana remaja wanita mempunyai disiplin yang lebih baik dibandingkan dengan remaja pria.

Tags: , , , ,
Leave a Reply

Current day month ye@r *

Alamat :

Jl Veteran Gang Satria UH II / 1060 Muja-Muju Kecamatan Umbulharjo Yogyakarta (Belakang Pegadaian Syariah Jln Veteran)

HP AS : 0852.2588.7747 

HP IM3 : 0857.0.1111.632