HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp), 0857.0.1111.632(IM3), email:IDTesis@gmail.com BBM:2B7D0DB6

Contoh Proposal Skripsi Manajemen Keuangan – Pendekatan Analisis Break Even Point

Contoh Proposal Skripsi Manajemen Keuangan - Pendekatan Analisis Break Even Point

Contoh proposal skripsi manajemen keuangan merupakan contoh proposal penelitian yang akan kami sajikan di bawah ini. Dalam contoh kali ini diangkat tema tentang laba, yaitu pendekatan analisa break event point untuk merencanakan laba jangka pendek pada perusahaan penyulingan minyak kayu putih. Analisa break even merupakan teknik yang digunakan untuk mengetahui titik batas sampai dengan titik volume penjualan yang harus dicapai agar perusahaan tidak menderita kerugian. Dalam hal ini pemimpin perusahaan atau manajer akan memikirkan titik batas volume produksi dan volume penjualan agar perusahaan tersebut tidak menderita kerugian. Di sinilah ilmu tentang manajemen keuangan diperlukan bila menghadapi contoh persoalan perusahaan semacam ini.

PENDEKATAN ANALISA BREAK EVEN POINT UNTUK MERENCANAKAN LABA JANGKA PENDEK PADA PERUSAHAAN PENYULINGAN MINYAK KAYU PUTIH SENDANG MOLE

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar belakang permasalahan

Setiap perusahaan apapun bentuknya tentu mempunyai tujuan pokok untuk memperoleh laba atau keuntungan, sehingga di dalam usaha untuk mencapainya perlu memperhitungkan segala faktor yang terkait seperti biaya produksi yang terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel, strategi pemasaran, tingkat penjualan yang mampu dicapai serta harga pokok penjualan yang diinginkan.

Dalam merencanakan kegiatan usaha, manager akan dihadapkan pada situasi dimana keputusan harus diambil dengan cepat dan tepat. Apalagi dalam kondisi yang serba sulit seperti sekarang ini sedikit sekali persoalan yang dihadapi oleh perusahaan bisa diselesaikan sederhana dengan mengesampingkan perhitungan-perhitungan yang tepat. Pada umumnya perusahaan akan memanfaatkan peluang-peluang serta sumber daya yang dimiliki, dengan cara memaksimalkan keluaran (output) dan meminimalkan masukan (input). Banyak contoh perhitungan yang bisa diterapkan untuk memperoleh laba yang diinginkan, salah satunya yang sering dipakai adalah mencari titik impas.

Break even adalah suatu keadaan dimana suatu perusahaan yang tingkat penjualannya (revenue) impas dengan biaya totalnya, atau dengan kata lain tidak mendapatkan keuntungan tetapi juga tidak menderita kerugian. Break even sering digunakan oleh seorang manajer perusahaan untuk mengetahui tingkat keuntungan yang diperoleh, karena analisa Break Even diyakini mampu memberikan informasi kepada pimpinan perusahaan, bagaimana hubungan antara volume penjualan, biaya-biaya yang dikeluarkan, dan tingkat laba yang diperoleh pada level penjualan tertentu. Usaha manajemen perusahaan untuk merencanakan volume penjualan yang sesuai, serta diketahuinya tingkat Break Even, akan memberikan petunjuk yang dapat digunakan sebagai bahan pengambilan keputusan untuk meningkatkan perjualan tersebut.

Manajemen perusahaan dapat memperbaiki hubungan antara biaya operasional dan biaya produksi dengan nilai harga jual agar perusahaan tidak terlalu menderita kerugian di satu pihak, sedang di pihak yang lain perusahaan dapat mempertimbangkan untuk mengurangi keuntungan sesuai dengan jumlah yang dikehendaki dengan maksud untuk menjaga kestabilan pasar dan untuk memenangkan persaingan.

Dalam melaksanakan analisa Break Even pada umumnya digunakan asumsi-asumsi antara lain sebagai berikut (Supriyono, 1996:309):

  1. Biaya dalam perusahaan dapat dibagi dalam golongan biaya variabel dan biaya tetap.
  2. Besarnya biaya variabel secara totalitas berubah-ubah secara proporsional dengan volume produksi/ penjualan. Ini berarti biaya variabel persatuannya adalah sama.
  3. Besarnya biaya tetap secara totalitas tidak berubah-ubah meskipun ada perubahan volume produksi/ penjualan. Ini berarti biaya persatuannya berubah-ubah karena adanya perubahan volume kegiatan.
  4. Nilai harga jual persatuannya tidak berubah selama periode analisa.
  5. Perusahaan hanya memproduksi satu macam produk.

Penyulingan minyak kayu putih Sendang Mole di Kabupaten Gunung Kidul merupakan perusahaan milik Dinas Kehutanan dan Perkebunan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, didirikan pada tahun 1971 terletak di suatu areal kawasan hutan, tepatnya di petak 19 masuk wilayah Desa Gading, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunung Kidul. Pada awalnya perusahaan ini didirikan sebagai upaya penganekaragaman usaha produksi, disamping usaha-usaha yang lain seperti hasil hutan yang berupa kayu pertukangan dan kayu bakar, usaha sutera alam, sheerlak (bahan politur) dan kayu cendana.

Dalam perkembangannya sampai pada saat ini, perusahaan minyak kayu putih merupakan sumber pendapatan asli daerah melalui Dinas Kehutanan dan Perkebunan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, sedang usaha yang lain seperti sutera alam, sheerlak dan kayu cendana bisa dikatakan tidak berhasil. Selain penyulingan minyak kayu putih sendang mole, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mempunyai 2 (dua) perusahaan penyulingan minyak kayu putih di Gelaran Kecamatan Karangmojo Gunung Kidul, dan penyulingan minyak kayu putih di Mangunan Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul. Dalam pembicaraan ini kita mengkhususkan penelitian kita pada Perusahaan Penyulingan Minyak Kayu Putih Sendang Mole.

Bahan baku yang diperlukan berupa daun kayu putih, memanfaatkan tanaman hasil pelaksanaan reboisasi yang dilakukan pada dekade tahun 1960-an. Untuk perusahaan penyulingan minyak kayu putih sendang mole disediakan areal tanaman yang ada di BDH (Bagian Daerah Hutan) Playen seluas ± 1.800 ha, dan di BDH Paliyan seluas ± 250 ha. Jumlah luas tanaman kayu putih tersebut dalam menyediakan bahan baku bila dibandingkan dengan kapasitas kemampuan penyulingan diperhitungkan telah cukup tersedia.

Di dalam perhitungan rugi/ laba perusahaan, terdapat beberapa pengecualian yaitu biaya bahan baku dan gaji pegawai.

  1. Biaya bahan baku

Sebagaimana diuraikan di atas bahwa perusahaan penyulingan minyak kayu putih sendang mole dalam menyediakan bahan bakunya menggunakan daun kayu putih hasil reboisasi yang menurut sifatnya hanya memanfaatkan limbah daun, sehingga perusahaan tidak memperhitungkan adanya biaya pengadaan bahan baku, sedang biaya untuk itu hanya terdiri dari :

1)      Ongkos petik/ pangkas

2)      Ongkos angkut, dan

3)      Biaya pemeliharaan

  1. Gaji pegawai

Pegawai perusahaan mulai dari Kepala Unit Penyulingan sampai dengan staf, adalah pegawai atau karyawan di lingkungan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, oleh karenanya mereka digaji dengan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta melalui Dinas Kehutanan Dan Perkebunan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dalam penelitian di perusahaan penyulingan minyak kayu putih sendang mole ini akan dicoba untuk memasukkan biaya bahan baku dan gaji pegawai di dalam unsur biaya-biaya (VC dan FC). Hal ini dimaksudkan agar diperoleh gambaran nyata tentang rugi/ laba perusahaan. Beberapa keuntungan yang diharapkan apabila perhitungan bahan bauku dan gaji pegawai dimasukkan antara lain adalah suatu kondisi dimana perusahaan dapat menghitung berapa besar biaya yang akan dikeluarkan dan pengaruhnya terhadap penjualan.

Dari uraian yang dikemukakan di atas, maka dipilihlah judul penelitian ini, yaitu “Pendekatan Analisa Break Even Point Untuk Merencanakan Laba Jangka Pendek Pada Perusahaan Penyulingan Minyak Kayu Putih Sendang Mole.”

 B.     Pokok masalah

Pada umumnya perusahaan tentu mempunyai tujuan yang hendak dicapai, dan dengan segala kemampuan yang dimiliki akan diupayakan untuk mencapainya. Namun dalam kenyataannya tidak sedikit terjadi dimana perencanaan yang sudah dibuat sedemikian matangnya masih bisa mengalami kegagalan. Atas dasar latar belakang ini maka pokok masalahnya adalah:

  1. Bagaimana mungkin mencapai titik impas dengan menggunakan pendekatan analisis break even.
  2. Berapa besarnya devisiasi standart untuk laba yaitu faktor penentu laba (kuantitas penjualan, harga jual saham, TFC, dan biaya variabel satuan) diperhitungkan dengan resiko ketidakpastian.

C.    Tujuan penelitian

  1. Untuk mengetahui besarnya penjualan yang diperoleh sehingga mencapai titik impas.
  2. Mengetahui batas jarak, dimana jika berkurangnya penjuaalan melampaui batas jarak tersebut, perusahaan akan menderita kerugian

D.    Manfaat penelitian

  1. Untuk mengetahui perolehan laba jangka pendek perusahaan
  2. Sebagai alat pertimbangan pimpinan perusahaan untuk menentukan perencaan sebelum diambil suatu keputusan yang pasti.
  3. Sebagai bahan masukan bagi peneliti lain yang ada hubungannya dengan analisis break even
Tags:
Leave a Reply

Current ye@r *

Alamat :

Jl Veteran Gang Satria UH II / 1060 Muja-Muju Kecamatan Umbulharjo Yogyakarta (Belakang Pegadaian Syariah Jln Veteran)

HP AS : 0852.2588.7747 

HP IM3 : 0857.0.1111.632

Stat