HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:2B7D0DB6

Cerita Rakyat Kanjeng Raden Adipati Tumenggung Kolopaking di Desa Kalijirek Kecamatan Kebumen Kabupaten Kebumen Jawa Tengah (Suatu Tinjauan Folklor)

ABSTRAK

Latar belakang Penelitian ini adalah Cerita Rakyat dapat di kategorikan sebagai Sastra lisan. Sastra lisan merupakan manifestasi kreativitas manusia yang hidup dalam kolektifitas masyarakat yang memilikinya dan diwariskan turuntemurun secara lisan dari generasi ke generasi. Cerita Rakyat K.R.A.T. Kolopaking mengandung nilai-nilai, kegunaan, sehingga perlu penguraian terhadap nilai-nilai kultural bagi masyarakat pendukungnya dan melalui penelitian ini dapat diketahui pula sejauh mana profil masyarakat Desa Kalijirek Kecamatan Kebumen Kabupaten Kebumen Jawa Tengah, bentuk, dan isi Cerita Rakyat K.R.A.T. Kolopaking, adat atau tradisi yang dilakukan oleh masyarakat sekitar petilasan K.R.A.T. Kolopaking dalam merawat serta melestarikannya.

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimanakah profil masyarakat pemilik cerita rakyat K.R.A.T. Kolopaking? (2) Bagaimanakah bentuk dan isi cerita rakyat K.R.A.T. Kolopaking? (3) Adakah artefak-artefak dan tradisi budaya yang terkait dengan cerita rakyat K.R.A.T. Kolopaking? (4) Nilai-nilai ajaran apakah yang terkandung dalam cerita rakyat K.R.A.T. Kolopaking? (5) Bagaimanakah respon masyarakat terhadap keberadaan cerita rakyat K.R.A.T. Kolopaking?

Tujuan penelitian ini adalah (1) Mendeskripsikan profil masyarakat pemilik cerita rakyat K.R.A.T. Kolopaking. (2) Mendeskripsikan bentuk dan isi cerita rakyat K.R.A.T. Kolopaking. (3) Menjelaskan artefak-artefak dan tradisi budaya yang terkait dengan cerita rakyat K.R.A.T. Kolopaking. (4) Mendeskripsikan nilai-nilai ajaran yang terkandung dalam cerita rakyat K.R.A.T. Kolopaking. (5) Menjelaskan respon masyarakat terhadap keberadaan cerita rakyat K.R.A.T. Kolopaking.

Manfaat penelitian berkaitan dengan penelitian ini dapat ditinjau dari beberapa sudut pandang diantaranya sumber data dan data. Sumber data primer adalah data utama, dalam penelitian ini sumber data primernya adalah informan atau responden yang mengetahui cerita rakyat K.R.A.T. Kolopaking. Sumber data sekunder adalah data pelengkap atau data pendukung yang sedikit banyak membantu kesahihan suatu penelitian. Data juga dibedakan menjadi data primer dan data sekunder. Data primer adalah hasil wawancara dengan informan tentang cerita rakyat K.R.A.T. Kolopaking. Data sekunder adalah keterangan dan data yang terambil dari buku-buku atau referensi yang relevan dengan topik penelitian.

Metode penelitian yang digunakan sebagai berikut: Lokasi penelitian berada di Desa Kalijirek Kecamatan Kebumen Kabupaten Kebumen Jawa Tengah. Penelitian ini bertumpu pada landasan teori Folklor dan pendekatan yang dipakai ialah Folklor. Langkah-langkah yang dilakukan untuk mencapai tujuan dari penelitian ini dengan mengunakan teknik wawancara, observasi langsung (lapangan), studi dokumen atau kepustakaan, dan teknik analisis isi (content analisys). Teknis analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini meliputi: pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, penganalisaan dan penarikan kesimpulan.

Berdasarkan hasil analisis data, dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Profil masyarakat pemilik cerita rakyat K.R.A.T. Kolopaking, ditinjau dari segi geografis, demografis, agama dan kepercayaan, sosial budaya, tradisi masyarakat. (2) Bentuk dan isi cerita rakyat K.R.A.T. Kolopaking juga mengandung mite, diantaranya kepercayaan bahwa tokoh ceritanya memiliki kekuatan istimewa. Misalnya tetesan darah K.R.A.T. Kolopaking berubah menjadi ular-ular “jadijadian”.

Selain itu cerita rakyat tersebut juga mengandung legenda, yaitu kejadian atau penamaan suatu tempat. Misalnya pemberian nama pesawahan Si Kenceng dan asal mula Desa Jatimalang. (3) Artefak-artefak dan tradisi budaya yang terkait dengan cerita rakyat K.R.A.T. Kolopaking, tidak ada peninggalan benda-benda pusaka selain makam tersebut,lemari, dan meja ukir. Sedangkan tradisi budaya berupa ritual doa bersama, tahlilan, membaca surat-surat pendek,dan tabur bunga. (4) Nilai-nilai ajaran yang terkandung dalam cerita rakyat K.R.A.T. Kolopaking, sebagai berikut: kesetiaan, kasih sayang, keberanian, patriotisme, tanggung jawab dan kejujuran. (5) Respon masyarakat terhadap keberadaan cerita rakyat K.R.A.T. Kolopaking adalah sebagai berikut: generasi muda mengaku asing, ceritanya telah lama terkubur, perlu dilakukan penggalian data-data sejarah Kolopaking, belum masuk ke bahan ajar sekolah sebagai muatan lokal, belum dipandang sebagai suatu aset.

 

 

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Warisan budaya nenek moyang kita mengandung nilai-nilai atau ajaran luhur seperti kejujuran, keberanian, patriotisme, kesetiaan, kasih sayang, rela berkorban, dan sebagainya. Nilai-nilai atau ajaran luhur tersebut bersifat universal , tak lekang dimakan usia dalam arti tetap aktual dan sesuai diterapkan di segala zaman. Warisan nilai-nilai budaya adi luhur tersebut banyak terdapat dalam folklor.

Folklor adalah suatu budaya kolektif yang memiliki sejumlah ciri khas yang tidak dimiliki budaya lain (Laelasari dan Nurlaela, 2006: 100). Folklor juga didefinisikan sebagai bagian dari kebudayaan suatu kolektif yang tersebar dan diwariskan secara turun-menurun di antara kolektif macam apa saja secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun disertai contoh dengan gerak isyarat atau alat bantu (James Danandjaja, 1984: 2). Folklor berupa karya sastra yang lahir dan berkembang dalam masyarakat tradisional dan disebarkan dalam bentuk yang relatif tetap atau dalam bentuk baku dan disebarkan di antara kolektif tertentu dalam waktu yang cukup lama disebut cerita rakyat (James Danandjaja, 1984: 4).

Salah satu cerita rakyat yang hingga kini masih hidup di kalangan masyarakat Kebumen adalah kisah tentang Kanjeng Raden Adipati Tumenggung Kolopaking selanjutnya ditulis K.R.A.T. Kolopaking. Kisah yang tepat dikelompokkan ke dalam epos tersebut diwariskan dari generasi ke generasi secara lisan. Pernah pula dipentaskan melalui sebuah pertunjukan kethoprak pada acara memperingati Hari Jadi Kebumen. K.R.A.T. Kolopaking adalah penguasa Kebumen yang pada waktu itu masih bernama Panjer Roma. Wilayahnya meliputi Rowo Ambal, Bocor, Petanahan, Puring, Gombong, Karanganyar, Panjer, Kutowinangun, dan Prembun dengan ibukota Panjer. K.R.A.T. Kolopaking adalah sosok yang teguh dalam berpendirian, memiliki kesetiaan atau loyalitas yang tinggi, dan berani menentukan pilihan dengan berbagai resikonya.

Diceritakan bahwa pada suatu ketika Istana Kerajaan Mataram berhasil direbut oleh pemberontak bernama Pangeran Trunojoyo dari Madura. Raja Mataram, yakni Sunan Amangkurat I menyingkir. Sunan bersama rombongannya bergerak menuju Kasunanan Cirebon. Beberapa hari kemudian, pada waktu menjelang Magrib, Sunan dan rombongannya tiba di Rowo Ambal. K.R.A.T. Kolopaking yang masih mengakui Sunan Amangkurat I sebagai raja yang sah menjemputnya dan mempersilakannya singgah di Panjer. Keputusan menerima Sunan Amangkurat I, di satu sisi merupakan bentuk kesetiaan atau loyalitasnya yang tinggi terhadap raja Mataram yang sedang dalam pelarian itu. Di sisi lain menunjukkan keberaniannya dalam menentukan pilihan yang mengandung resiko besar, sebab jika hal itu diketahui oleh Pangeran Trunojoyo, maka ia dianggap oleh penguasa baru itu membantu pelarian dan hukumannya tidak ringan.

K.R.A.T Kolopaking melihat Sunan Amangkurat I, selain menderita kelelahan setelah melakukan perjalanan panjang juga mengidap suatu penyakit. Setelah melakukan analisa K.R.A.T. Kolopaking mendiagnosa Sunan Amangkurat I menderita keracunan. Ia segera mencari buah kelapa untuk diambil airnya sebagai penawar racun. Oleh karena keadaan Sunan sudah sangat gawat, maka buah kelapa yang kulitnya sudah kering ( klapa aking) pun jadilah. Air kelapa segera diminumkan dan tak lama kemudian Sunan muntah-muntah. Selanjutnya keadaannya berangsur-angsur membaik.

Beliau selain menderita penyakit fisik seperti kelelahan dan keracunan, Sunan Amangkurat I menderita batin yang luar biasa. Ia telah dilengserkan dari kursi kekuasaannya dan harus berkelana. Ketika banyak orang menghargai orang lain karena kedudukannya, K.R.A.T. Kolopaking tidak. Sunan Amangkurat I, walaupun tahtanya telah direbut orang lain dan tidak lagi memiliki kekuasaan, K.R.A.T.. Kolopaking masih menganggap dan memperlakukannya sebagai raja. Sikap demikian dapat dikatakan sebagai nguwongake atau menghargai orang lain pada tataran terhormat. Di sisi lain sikap dan K.R.A.T. Kolopaking merupakan obat bagi penyakit batin yang sedang diderita oleh Sunan Amangkurat I. Semua itu dilakukan K.R.A.T. Kolopaking dengan tanpa pamrih.

Jiwa patriotisme dan kepahlawanan ditunjukkan oleh K.R.A.T Kolopaking masa pecahnya Perang Diponegoro. K.R.A.T. Kolopaking secara terang-terangan membela Pangeran Diponegoro dalam usahanya memerangi Kolonial Belanda. Ia mengerahkan seluruh kemampuan yang ada guna membantu Pangeran Diponegoro yang berperang demi menjaga martabat tanah kelahirannya. Akibat dari sikapnya itu, karena Belanda menerapkan siasat adu domba, K.R.A.T. Kolopaking harus berhadapan dengan Adipati Arungbinang. Akibat yang lebih parah ia harus menyerahkan kekuasaannya atas Panjer Roma (Kebumen) kepada Adipati Arungbinang yang mendapat bantuan penuh dari Kolonial Belanda. Berani menjatuhkan pilihan harus berani pula menanggung resikonya. Akibat memilih membantu perjuangan Pangeran Diponegoro K.R.A.T. Kolopaking kehilangan kedudukannya. Ia juga harus menyaksikan pembantu-pembantu setianya satu-persatu ditangkap dan dihukum mati. Bahkan K.R.A.T. Kolopaking sendiri harus beradu satu lawan satu melawan Adipati Arumbinang. Menurut cerita peristiwa itu terjadi di sawah Sikenceng yang sekarang lokasinya di timur Stadion Candradimuka, Kebumen. Pada pertarungan itu lengan K.R.A.T. Kolopaking terluka dan mengeluarkan darah. Sebagian masyarakat masih percaya bahwa ceceran darahnya berubah menjadi banyak ”ular”. Sampai sekarang sawah Sikenceng terkenal angker dan dihuni banyak ular yang bukan ular biasa Mitos tersebut masih hidup hingga kini. Terbukti rumah yang dibangun di sudut sawah Sikenceng hanya beberapa hari dihuni setelah dibangun, karena ”ular” sering mengganggu penghuninya. Hal itu terjadi pada tahun 1980-an dan hingga kini pondasi rumah dan puing-puingnya masih terlihat.

K.R.A.T. Kolopaking juga merupakan sosok yang tidak memandang suku dalam pergaulannya. Untuk membantu Pangeran Mas Garendi yang sedang berperang melawan Kolonial Belanda, K.R.A.T. Kolopaking merekrut pemuda-pemuda Cina untuk dilatih kemiliteran dan kemudian diperbantukan kepada Pangeran Mas Garendi di Boyolali- Kartosuro Mataram (Kotapraja). Sampai beberapa tahun kemudian ia bersahabat dengan pemuda Cina bernama Tan Ping. Banyak nilai-nilai luhur yang terkandung dalam cerita rakyat tentang K.R.A.T. Kolopaking dan relevan di-ejawantah-kan pada kehidupan masa kini. Adapun alas an mengapa Cerita Rakyat K.R.A.T. Kolopaking penulis pilih sebagai objek kajian dapat diterangkan sebagai berikut:

1. Kejujuran
Pada waktu Mataram merencanakan penyerangan terhadap VOC di Batavia (Jakarta), penguasa Panjer Roma dipercaya menjadi Adipati bidang pangan. Didirikanlah lumbung-lumbung sebagai tempat penyimpanan bahan pangan yang disediakan bagi tentara yang akan mengadakan perjalanan jarak jauh ke Batavia. Penunjukan penguasa Panjer Roma sebagai Adipati bidang pangan tentu ada alasannya. Satu hal yang pasti adalah kejujuran. Tanpa memiliki predikat jujur mustahil dia diberi jabatan ”basah” itu. Bagi orang yang tidak kuat imannya atau tidak jujur, jabatan itu dapat digunakan untuk memperkaya diri sendiri atau yang sekarang populer dengan sebutan korupsi. Pada era sekarang kita mendambakan pemimpin-pemimpin yang jujur. Kita tak ingin mendengar lagi berita: oknum Kepala Dinas ”anu” ; Gubernur ”itu”; Bupati ”sana”; Ketua ”apa” ; atau pemegang jabatan strategis lainnya dimasukkan penjara gara-gara korupsi. Uang negara dicatut mulai dari ratusan juta hingga milyaran, bahkan sampai trilyunan rupiah berpindah ke pundi-pundi kekayaan pribadi para koruptor. Sementara di pihak lain, rakyat masih menderita. Kita menginginkan pemimpin yang dapat membawa rakyatnya sejahtera. Pemimpin yang mampu berbuat seperti itu adalah pemimpin yang jujur. Pepatah: siapa jujur akan hancur hendaknya dibuang jauh-jauh dari benak pemimpin-pemimpin masa kini. Kejujuran dalam Cerita Rakyat Kolopaking ini bisa dijadikan satu teladan.

2. Keberanian
Sikap berani letaknya di dalam hati. Keberanian itu baru dapat dilihat dari tindakan yang dilakukan oleh si pemilik hati . Wujud dari sikap berani dapat bermacam-macam. Kolopaking memilih bergabung dengan Pangeran Diponegoro memerangi VOC termasuk manifestasi keberanian itu. Tanpa memiliki keberanian mustahil ia memilih jalan itu. Bukankah dengan memilih bergabung dengan Pangeran Diponegoro sama dengan mengambil Belanda sebagai musuh? Padahal kita tahu persenjataan mereka lebih modern dan pengikutnya lebih banyak, termasuk orang-orang pribumi pengkhianat. Keberanian semacam itu juga ditunjukkan oleh Kolopaking ketika menerima Amangkurat I singgah di Panjer Roma. Padahal pada waktu itu beliau adalah raja yang terusir dari tahtanya oleh Pangeran Trunojoyo. Berani menampung Amangkurat I sebagai pelarian berarti menjadi musuh Pangeran Trunojoyo. Keberanian juga penting dimiliki oleh pemimpin masa kini, tentu saja untuk membela kebenaran dan kepentingan rakyat. Berita-berita mengecewakan tentang pemimpin yang ”tidak mau” menunjukkan sikap keberaniannya santer terdengar akhir-akhir ini. Misalnya kasus pembalakan liar terus saja terjadi, walaupun banyak pihak menyerukan hal itu agar segera dihentikan. Pelaku yang telah tertangkap juga tak diberi ganjaran hukuman setimpal. Ada sinyalemen ”Sang Pemimpin” takut karena si pembalak di-beking-i oleh seseorang yang sangat disegani. Dengan kata lain ”Sang Pemimpin” takut resiko, misalnya jabatannya dicabut. Demikian pula dalam beberapa kasus lainnya. Cukuplah keberanian Kolopaking jadi teladan.

Tags: , , ,
5 Comments
  1. Ya Alloh Ya Robbal ‘alamin, Puji Syukur atas segala nikmat karunia yang telah Engkau berikan kepada kami, limpahkanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, muliakanlah para pendahulu kami, para leluhur, para syuhada, dan para pahlawan kami, sebagaimana mereka telah mengharumkan nama bangsa ini, Aamiin Allohuma Aamiin.

    (Doa Hari Pahlawan 2011)

  2. TULISAN YANG SANGAT BAGUS …TERIMAKASIH ATAS SEMUANNYA …SANGAT MEMBANTU SAYA YANG SEDANG BELAJAR TENTANG SEJARAH KEBUMEN

Leave a Reply

Current ye@r *

Alamat :

Jl Veteran Gang Satria UH II / 1060 Muja-Muju Kecamatan Umbulharjo Yogyakarta (Belakang Pegadaian Syariah Jln Veteran)

HP AS : 0852.2588.7747 

Stat