HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:2B7D0DB6

Aspek Tematis dalam Geguritan karya Handoyo Wibowo (Oei Tjhian Hwat), Analisis Struktural dan Semiotik

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sebagai bagian dari kebudayaan nasional, sastra daerah merupakan aset bangsa yang perlu dilestarikan keberadaannya, terutama dalam menghadapi era globalisasi, karena dalam sastra daerah tersebut terkandung berbagai ajaran, baik moral, etika, filosofi, maupun nilai-nilai budaya yang telah dikembangkan oleh masyarakat di sepanjang sejarah kebudayaan. Hal ini turut mewarnai kepribadian bangsa. Salah satu daerah yang kaya akan warisan kebudayaan, khususnya di bidang sastra adalah Jawa. Pada dasarnya masyarakat Jawa menganut sistem budaya terbuka terhadap pengaruh budaya luar atau budaya asing. Pengaruh budaya asing itu tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan sastra Jawa, dan pengaruh tersebut telah berlangsung lama., dari satu fase ke fase berikutnya, yakni dari sastra Jawa Kuna, sastra Jawa Pertengahan sampai dengan sastra Jawa Modern, sejalan dengan waktu masuknya pengaruh asing yang mewarnainya (Pardi, 10:1996).

Karya-karya sastra Jawa sejak dahulu terkenal, karena selalu menyertakan ajaran-ajaran adiluhung dan luhur. Karya- karya sastra Jawa Kuno meliputi : Kitab Ramayana Kakawin & Mahabarata, kitab-kitab Purwa Kitab Pararaton & Negarakertagama. Karya-karya sastra Jawa Tengahan meliputi : tembang macapat, tembang gede, sastra suluk, babad & manuskrip ‘tulisan tangan’ berhuruf Jawa. Sedangkan karya-karya sastra Jawa Modern meliputi serat, novel, roman sejarah, dongeng, hikayat, cerbung, cerkak, drama dan geguritan (Pardi, 1996:25). Keberadaan sastra daerah di jaman kebebasan diharapkan mampu meminimalkan masuknya pola pemikiran yang bertentangan dengan pribadi bangsa Indonesia. Salah satu wujud pelestarian sastra Jawa terlihat pada hadirnya karya sastra Jawa modern.

Khusus untuk pengembangan kesusastraan daerah, keterlibatan para sastrawan-sastrawan Jawa, sangatlah berarti. Saat ini penelitian dan pengkajian terhadap kesusastraan daerah telah banyak dilakukan, bukan hanya oleh sastrawan dari etnis Jawa sendiri, namun juga para sastrawan dari etnis lain, bahkan oleh orang-orang luar negeri yang tertarik terhadap kebudayaan daerah, khususnya sastra Jawa. Salah satu sastrawan Jawa yang merupakan warga keturunan etnis Tionghoa adalah Handoyo Wibowo (Oei Tjhian Hwat), yang tertarik pada sastra Jawa, khususnya geguritan. Dalam penelitian ini penulis meneliti tentang 7 (tujuh) geguritan karya Handoyo Wibowo, yang dimuat dalam ‘Edisi Kedua Nurani Peduli, Kumpulan Sajak dan Geguritan Handoyo Wibowo’. Ketujuh geguritan tersebut telah digelar di TBS (Taman Budaya Surakarta) dalam acara Pentas Dramatisasi Puisi dan Peringatan Hari Puisi Dunia Bersama Penyair-Penyair Indonesia pada tanggal 22 Maret 2003. Ketujuh geguritan tersebut antara lain Kapacu, Ngrasani,Ca Tuk Lan Kemangi,Tentrem, Mbok e dan Perduli. Dasar ketertarikan terhadap geguritan karya Handoyo Wibowo karena : (1) nama Handoyo Wibowo tercatat dalam MURI (Museum Rekor Indonesia). Handoyo Wibowo telah berhasil membuat buku berisi kumpulan puisi tunggal dan setiap judul puisi selalu terdapat kepanjangan atau merupakan sebuah akronim yang tidak dapat ditemukan pada karya lain (www.google.com), (2) kandungan isi yang cukup menarik dan mendidik (3) tanggapan dari masyarakat yang cukup positif, karena Handoyo Wibowo juga sudah terkenal di kalangan masyarakat, khususnya masyarakat Yogya.

Ketujuh geguritan karya Handoyo Wibowo menggunakan kata-kata yang indah karena pembaca diajak lebur di dalamnya, sejenak mengalihkan konsentrasi pada kisah cinta dan sikap prilaku baik dalam kehidupan manusia yang menuntun manusia kepada Tuhan. Setiap judulnya juga menarik untuk diamati karena berbentuk akronim dan isi yang cukup humoris. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan strukturalisme yang berdasarkan konsep semiotik, karena dengan menggunakan konsep ini dapat diketahui bagaimana struktur fisik dan struktur batin yang terkandung di dalam geguritan. Dalam suatu penelitian, seorang peneliti haruslah tepat dalam melakukan suatu pendekatan. Pendekatan adalah cara memandang suatu hal, dan pendekatan (approach) sastra pada dasarnya adalah memahami jenis sastra tertentu sesuai dengan sifatnya (Satoto, 1991:9).

Berdasarkan konsep semiotik, yaitu dengan menganalisis karya berdasarkan satuan-satuan tanda yang bermakna dengan tidak melupakan hubungan fungsi satuan tanda tersebut (Pradopo,1995:118). Dalam pandangan strukturalisme dinamik karya sastra tidak lepas dari konvensi-konvensi masyarakat, baik masyarakat sastra, bahasa maupun masyarakat pada umumnya, dan dipandang sebagai suatu sistem tanda yang bermakna. Dalam penelitian ini menggunakan konsep semiotik Riffaterre (dalam Pradopo, 1995:318) yang menyoroti tiga hal antara lain penggantian arti (displancing of meaning), penyimpangan arti (distorting of meaning) dan penciptaan arti (creating of meaning). Konsep tersebut untuk menganalisis struktur fisik puisi. Dan untuk menganalisis struktur batin, mengacu pada pendapat Rene Wellek dan Austin Werren (1983:235) yang menyebutkan bahwa unsur-unsur yang membangun sebuah puisi adalah citra, mitos, simbol dan tema. Tema cinta dan kehidupan biasanya menunjukan pengalaman cinta dan kehidupan dari penyair itu sendiri. Dari sinilah wawasan tentang makna cinta dan wawasan tentang begaimana sikap hidup yang baik sebagai manusia diperluas dan diperdalam, karena itulah ketujuh geguritan karya Handoyo Wibowo tersebut diteliti lebih lanjut dan oleh karena itu penelitian ini diberi judul Aspek Tematis dalam Geguritan karya Handoyo Wibowo (Oei Tjhian Hwat), Analisis Struktural dan Semiotik.

Tags: , , ,
1 Comment
  1. saya menukai sastra jawa tolong informasikan dimana saya daspat membeli buku2 karya Handoyo Wibowo .terima kasih

Leave a Reply

Current ye@r *

Alamat :

Jl Veteran Gang Satria UH II / 1060 Muja-Muju Kecamatan Umbulharjo Yogyakarta (Belakang Pegadaian Syariah Jln Veteran)

HP AS : 0852.2588.7747 

Stat